JAKARTA, (ERAKINI) - Sekretaris Badan Pengurus Filantropi Indonesia (BPFI) Hamid Abidin menjelaskan soal pemaknaan fundraising yang kerap disalahpahami oleh masyarakat Indonesia. Menurut dia, masih banyak yang menganggap bahwa fundraising itu meminta-minta, mengemis dan konotasi negatif lainnya.
Kesalahpahaman masyarakat tersebut, kata Hamid Abidin, sebab masyarakat hanya memahami konteks fundraising dilihat dari konteks meminta bantuan pendanaan. Padahal, kata Hamid, konsep fundraising sesungguhnya yaitu edukasi terhadap masalah sosial yang ada di sekitar.
Penjelasan soal fundraising tersebut disampaikan Hamid Abidin saat menjadi narasumber utama Madrasah Amil Zakat Virtual (MAV) yang digelar NU Care-LAZISNU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Sabtu (16/3/2024) sore. Dalam kesempatan itu, Hamid Abidin berbicara tentang Corporate Fundraising untuk LAZ (Strategi Menggalang Dana dan Kemitraan LAZ dengan Perusahaan).
“Fundraising itu tidak diawali dengan meminta dana tapi diawali dengan mengedukasi atau memberikan pemahaman agar orang lebih tau mengenai permasalahan tertentu,” katanya.
Ia menjelaskan, secara garis besar, fundraising mendorong masyarakat untuk membuka mata, membuka pikiran, membuka hati dan membuka ‘dompet’ terhadap masalah yang ia lihat. Masalah-masalah tersebut seperti kemiskinan, bencana alam, kecelakaan atau persoalan lain yang dialami masyarakat kurang mampu atau masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
“Langkah pertama yang dilakukan adalah membuka mata masyarakat mengenai persoalan yang akan kita atasi, ada fakir miskin yang harus kita bantu, ada korban bencana, ada anak yatim yang perlu diberdayakan, ada perempuan yang mungkin perlu dilindungi, dan lain lain,” ujarnya.
Kemudian membuka pikiran, artinya masalah yang dihadapi masyarakat bukan kewajiban lembaga filantropi seperti NU Care-LAZISNU semata, tetapi masalah bersama yang harus segera dicarikan solusinya.
“Persoalan kita semua yang perlu di edukasi, yang perlu kita tangani secara bersama-sama,” tuturnya.
Sementara masalah hati, maksudnya bagaimana mengemas dan mengkomunikasikan persoalan-persoalan yang disampaikan ke masyarakat dan program yang ditawarkan lembaga filantropi bisa menyentuh hati simpati dan empati masyarakat.
Lalu, buka dompet yaitu tidak semata identik minta uang, tapi berbagai dukungan yang bisa digalang.
Orang bisa memberikan dukungan untuk mengatasi persoalan itu dengan barang, dengan tenaga, pikiran dan jaringan. Itulah prinsip fundraising. Sekali lagi, jangan sampai kita memahami fundraising,”
Sebelumnya, NU-Care LAZISNU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar kegiatan Madrasah Amil Zakat Virtual (MAV), Sabtu (16/3/2024) sore. Kegiatan tersebut merupakan upaya LAZISNU dalam mendorong amil zakat NU di seluruh Indonesia mendapatkan sertifikat atau telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Pengurus LAZISNU PBNU Ending Syarifudin mengatakan, kegiatan MAV merupakan suplemen untuk mempersiapkan sertifikasi amil zakat di BNSP. Menurut dia, ke depan LAZISNU PBNU akan memiliki LSP sendiri apabila amil zakatnya sudah banyak yang bersertifikasi BNSP.
“LAZISNU PBNU akan memiliki LSP tersendiri yang seluruh kurikulum materinya akan disesuaikan dengan materi yang dari BNSP, SKKNI dari BNSP,” kata Ending.
Ia menuturkan, semakin banyak amil zakat yang bersertifikasi BNSP maka kepercayaan muzakki terhadap NU akan terus meningkat. Karena itu, Ending menginginkan seluruh pengurus NU Care-LAZISNU di daerah intens mengikuti kegiatan madrasah amil yang digelar PBNU.
“Agar semua kawan serta sahabat yang nantinya akan menjadi amil, tentu sudah tersertifikasi oleh standar BNSP,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ending mengaku senang pada kegiatan MAV Chapter I itu ada 190 peserta yang hadir. Ia berharap, kegiatan itu membawa manfaat untuk seluruh peserta yang hadir.
Ending juga menyebut bahwa LAZISNU PBNU pada Ramadhan 1445 H atau 2024 ini, mengusung tema "Mahabbah Ramadhan". Tema itu, lanjutnya, diambil seiring dengan tahun 2024 yang menjadi tahun politik.
“Itu adalah tahun yang potensi runtuhnya, semangat kecintaan kita semangat mahabbah kita. Karena tahun politik luar biasa menggerus, biasanya ada banyak historis sejarah, tahun politik itu yang seringkali membuat kita agak jengah,” pungkasnya.
Untuk diketahui, kegiatan MAV merupakan salah satu program NU Care-LAZISNU selama Ramadhan 1445 H. MAV sesi pertama membahas Corporate Fundraising untuk LAZ (Strategi Menggalang Dana dan Kemitraan LAZ dengan Perusahaan) dengan narasumber utama Sekretaris Badan Pengurus Filantropi Indonesia (BPFI) Hamid Abidin.
MAV sesi II akan digelar pada Minggu (17/3/2024) sore dengan tema Strategi Multi-Platform Digital Fundraising untuk LAZ dengan narasumber Direktur Pengumpulan Perorangan BAZNAS RI. Kemudian, sesi III akan dilaksanakan pada Sabtu 23 Maret 2024 dengan mengangkat tema Mengenal Akuntansi dan Penyusunan Laporan Keuangan ZIS PSAK 409.
Lalu sesi IV akan digelar pada Minggu 24 Maret 2024 dengan mengangkat tema Menyusun RKAT Lembaga Amil Zakat, narasumber Direktur Keuangan dan Treasury NU Care-LAZISNU Edwin Mulzer.