Prodi Tak Laku di Dunia Industri: Ditutup atau Direposisi?
Prof Dr KH Muhammad Ishom, M.A.,
Prof Dr H Muhammad Ishom, M.A.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Ada yang janggal di ruang-ruang kuliah kita. Di satu sisi, kampus terus memproduksi lulusan. Di sisi lain, industri justru mengeluh kekurangan tenaga siap pakai. Di tengah paradoks itu, sejumlah program studi mulai dipertanyakan relevansinya—bahkan dicap “tak laku”. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak: apakah prodi semacam ini perlu ditutup?
Wacana itu menguat belakangan. Alasannya masuk akal. Industrialisasi menuntut efisiensi, presisi, dan kecepatan adaptasi. Kampus, mau tak mau, harus mengikuti. Prodi yang tak selaras dengan kebutuhan pasar dianggap membebani—menguras anggaran tanpa hasil yang sepadan. Maka, menutupnya terdengar seperti solusi logis. Namun logika pasar tidak selalu sejalan dengan logika pendidikan.
Sejarah menunjukkan, kampus bukan sekadar pabrik tenaga kerja. Ia adalah ruang pembentukan nalar, etika, dan imajinasi. Di sinilah masalah mulai rumit. Banyak prodi yang hari ini dianggap “tidak relevan”—terutama di rumpun humaniora—justru menyumbang fondasi berpikir kritis yang tak tergantikan. Nilainya mungkin tak langsung terlihat di neraca , tapi absennya akan terasa dalam jangka panjang.



















