Seorang dokter memeriksa gigi siswi Mula Dhammasekha Karuna di Desa Lemo, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (7/8/2025). (Foto: Abdul Hakim/Erakini).
TANGERANG, (ERAKINI) - Cahya Yudha Fadillah senyum-senyum malu. Siswa Kelas 6 Sekolah Keagamaan Buddha Mula Dhammasekha Karuna ini baru saja meninggalkan meja pemeriksaan kesehatan gigi.
Sikap malunya itu bukan lantaran dia dianggap siswa nakal karena membuat kesalahan atau lainnya. Justru beberapa detik sebelumnya, muslim yang bersekolah di lembaga pendidikan ini dicek kondisi giginya oleh dokter dari Puskesmas Tegal Angus, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Pemeriksaan tuntas. Kondisi gigi Cahya pun masih tergolong bagus. Namun, dari pemeriksaan itu terungkap bahwa Cahya tergolong jarang gosok gigi. "Tidak pernah, kadang sehari sekali," ujar Cahya sambil cengengesan ketika ditanya petugas.
Mendengar pengakuan polos Cahya, dokter gigi perempuan berjilbab ungu itu pun ikut tertawa ringan. Namun dengan ramah, segera sang dokter memberi nasihat kepada Cahya. "Setelah ini biasakan gosok gigi minimal dua kali ya. Satu setelah makan dan kedua sebelum tidur. Bisa ya," demikian nasihat dokter. Cahya pun hanya mengangguk-angguk malu.
Cahya adalah satu di antara 23 siswa Mula Dhammasekha Karuna di Desa Lemo, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang yang mendapatkan layanan cek kesehatan gratis (CKG), Kamis (7/8/2025) pagi. Cahya dan teman-temannya terbilang beruntung karena menjadi yang pertama kali mendapat layanan CKG di antara 1.600 siswa sekolah keagamaan Buddha di seluruh Indonesia.
Menariknya, meski banyak dokter yang datang ke sekolah untuk melakukan pemeriksaan, tak ada raut ketakutan, rintihan, jeritan dan tangisan siswa. Sebaliknya, para siswa justru sangat antusias mengikuti tahapan demi tahapan pemeriksaan dari tes tekanan darah, gizi, berat badan, tinggi badan, gigi, telinga hingga mata.
Pengecekan kebugaran yang di antaranya berupa lari juga membuat siswa malah tambah bersemangat. Mereka kesana kemari di halaman sekolah, bahkan saling bergurau dengan sesamanya. Candaan dan tawa riang pun lebih sering terdengar di halaman sekolah yang lokasinya sangat dekat dengan pesisir utara Laut Jawa ini.
Aura ceria juga tampak pada Sheryl Jemifes Ananda dan Dewi Nur Laila, teman sekelas Cahya. Di meja-meja pemeriksaan, keduanya tampak tenang tanpa rasa deg-degan. Terlebih ketika cek kebugaran, mereka terlihat senang ketika diminta berlari melakukan gerakan.
CKG bagi siswa sekolah memang tampak dibuat senyaman mungkin. Untuk menciptakan rasa keberanian, sebelumnya para siswa diajak bernyanyi bersama. Para petugas yang diterjunkan pun dibekali prosedur pemeriksaan dengan mengedepankan pola menyenangkan penuh keramahan.
Nihilnya tangisan, berontak hingga rintihan ini diapresiasi oleh Direktur Jenderal Bimas BuddhaKemenag Supriyadi yang hadir langsung melihat proses CKG. Menurut Supriyadi, kegembiraan anak-anak itu tercipta karena mereka mendapatkan layanan kesehatan secara baik. Petugas yang diterjunkan telah dibekali tips agar proses pengecekan menjadi hal yang menyenangkan.
“Anak-anak tidak ada yang takut atau menangis karena dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan dengan psikologi anak. Sehigga ketika disuruh buka mulut atau buka giginya mereka tidak takut,” ujarnya.
Selain ramah anak, CKG untuk anak level sekolah dasar juga tidak disertasi pemeriksaan darah. Sehingga tak ada jarum suntik dalam pengecekan sehingga membuat siswa menjadi lebih nyaman. “Khusus untuk SD pemeriksaan hanya pada mata, telinga, gigi, berat badan tinggi badan dan tingkat kebugaran. Berbeda untuk tingkat SMP dan SMA, di sini tidak ada suntik,” terang Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes Lovely Daisy yang turut hadir memantau proses CKG di Mula Dhammasekha Karuna.
Lovely menjelaskan, secara nasional jumlah siswa sekolah yang menjadi target CKG sebanyak 53 juta orang. Pemeriksaan menyasar seluruh sekolah baik negeri ataupun swasta. Total ada 282.000 sekolah yang menjadi sasaran. Adapun jumlah puskesmas di Indonesia sebanyak 10.200 unit. Jika dirata-rata maka tiap satu puskesmas akan memberikan layanan kesehatan di 28 sekolah.