Irjen Kemenag Khairunas membeberkan peran Itjen dalam penyelenggaraan haji 2025, saat 'Ngobrol Bareng Media, di Jakarta, Rabu (28/5/2025). Foto: Erakini/Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Inspektorat Jenderal Kementerian Agama (Itjen Kemenag) melakukan dua bentuk pengawasan agar penyelenggaraan haji 2025 berjalan lancar. Pengawasan dilakukan mulai dari persiapan keberangkatan di dalam negeri hingga pelaksanaan di Tanah Suci.
Irjen Kemenag Khairunas mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya-upaya sejak awal terkait dengan penyelenggaraan haji 2025. Itjen Kemenag melakukan dua bentuk pengawasan, yakni di dalam negeri dan luar negeri (Arab Saudi).
Pengawasan di dalam negeri dilakukan dengan pemantauan setiap hari di 14 embarkasi yang ada di Indonesia. Pemantauan embarkasi ini memuat laporan setiap hari, mulai dari jumlah jemaah yang berangkat, keterlambatan penerbangan, hingga jemaah yang batal berangkat.
"Kemudian kita juga melakukan pemantauan sejauhmana kehadiran dan keefektifan petugas-petugas PPIH yang ada di dalam negeri, di embarkasi, untuk melakukan tugas pelayanan kepada jemaah haji," ujar Khairunas saat 'Ngobrol Bareng Media, di Jakarta, Rabu (28/5/2025).
Itjen Kemenag juga melakukan pengawasan terkait penyediaan konsumsi di asrama haji. Jika ada temuan-temuan di lapangan, pada saat itu juga dicarikan langkah-langkah korektif, sehingga langsung ada perbaikan-perbaikan.
"Nah, persoalan-persoalan apa yang sulit ditemukan, antara lain, umpamanya pada kloter-kloter awal, ada jemaah yang mau berangkat, visanya belum keluar. Kemudian kita dorong bagaimana visanya cepat keluar. Kemudian, pada saat pemberangkatan jemaah sakit atau berhalangan, sehingga tidak jadi berangkat, bagaimana kita upayakan mengganti kloter di bawahnya, jemaah berikutnya yang naik ke atas," jelasnya.
Untuk pengawasan di luar negeri, lanjut Khairunas, Itjen Kemenag sudah menurunkan tim ke Arab Saudi, baik di Makkah, Madinah, dan Jeddah. "Itu juga laporannya setiap hari dan langsung dilakukan tindakan korektif, perbaikan-perbaikan, sepanjang apa yang ditemukan pada saat pemanduan di lapangan," ucapnya.
Khairunas membeberkan tim pemantau yang berangkat ke Arab Saudi berjumlah total 17 orang. Tim ini terdiri dari satu orang penanggung jawab (Irjen Kemenag), dua orang wakil penanggung jawab, satu pengendali teknis, tiga ketua tim, dan sisanya anggota.
Khairunas menyebutkan sejauh ini belum ada temuan kejadian luar biasa pada penyelenggaraan haji 2025. "Dalam pemantauan tim kami, sampai saat ini masih dalam kadar aman dan terkendali,semuanya masih bisa dikoordinasikan," ucapnya.
Menurut Khairunas, Pengawasan Berdampak: Solutif, Kolaboratif, dan Berkelanjutan, yang diusung Itjen Kemenag saat ini juga diterapkan secara konkret dalam penyelenggaraan Haji 2025. Salah satu inisiatif utamanya adalah penerapan Immediate Corrective Action terhadap sejumlah temuan layanan yang berpotensi menurunkan kualitas pelayanan jemaah.
"Pengawasan yang kami lakukan bukan hanya bersifat reaktif, tetapi langsung diikuti dengan aksi korektif di lapangan. Kami mendorong agar seluruh penyedia layanan bertanggung jawab penuh dalam memenuhi kontrak dan menjaga kualitas pelayanan," ucapnya.
Dalam hal akomodasi, Tim Pemantau Itjen Kemenag telah memberikan rekomendasi untuk melakukan penanganan sesegera mungkin atas laporan kamar yang tidak layak huni dan tidak sesuai kontrak, termasuk tidak tersedianya perlengkapan kamar mandi bagi jemaah.
"Cita rasa makanan adalah bagian penting dari kenyamanan jemaah selama berhaji. Karena itu, kami memastikan setiap menu yang disajikan bercita rasa khas Indonesia dan ramah bagi lansia. Chef dan bahan masakannya pun kami pastikan berasal dari Indonesia agar jemaah merasa seperti di rumah sendiri, meski sedang berada di tanah suci," bebernya.
Pada layanan transportasi, lanjutnya, pengawasan yang dilakukan oleh Itjen juga dilakukan untuk memastikan standar layanan transportasi antar kota (Madinah–Makkah) dan bus sholawat agar nyaman, tepat waktu, serta bebas pungutan liar.
"Kami memastikan seluruh moda transportasi baik dari Madinah ke Makkah maupun sebaliknya, serta bus sholawat, berjalan sesuai standar kenyamanan dan ketepatan waktu. Tidak boleh ada pungutan liar dalam bentuk apa pun," pesan Khairunas.
Saat ini, Itjen sedang menginisiasi adanya pembangunan Dashboard Layanan Haji, sebuah sistem pemantauan digital yang dirancang untuk membantu Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dalam mengelola pergerakan jemaah, terutama menjelang fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kata dia, dashboard ini adalah langkah awal menuju digitalisasi layanan haji yang lebih efisien dan transparan. Efektivitas layanan ini perlu didukung oleh sistem data yang terintegrasi, akurat, dan selalu diperbarui.