Suasana kegiatan Rakornas Pendidikan Islam Tingkat Pendidikan Tinggi yang digelar Kemenag RI di Jakarta, Senin (9/2/2026). (Foto: UIN Banten)
JAKARTA, (ERAKINI) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Islam Tingkat yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) RI. Rakornas tersebut digelar di Jakarta selama tiga hari, mulai Senin (9/2/2026) hingga Rabu (11/2/2026) mendatang.
Menurut Prof Ishom, salah satu isu utama yang mengemuka dalam Rakornas adalah persoalan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Ditjen Pendis. Pembahasan mencakup dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi, guru dan tenaga kependidikan madrasah, serta peserta didik madrasah.
“Sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam peningkatan mutu pendidikan Islam yang berkelanjutan,” kata Prof Ishom.
Lebih lanjut, Prof Ishom menjelaskan, dalam Rakornas itu juga ditegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas dan profesionalitas SDM pendidikan Islam, terutama guru madrasah dan Raudhatul Athfal (RA).
Data Ditjen Pendis mencatat, sebanyak 25.663 guru madrasah dan RA belum memiliki kualifikasi pendidikan Strata Satu (S1). Selain itu, masih terdapat 424.398 guru madrasah dan RA yang belum tersertifikasi sebagai guru profesional.
Kondisi tersebut, lanjut Prof Ishom, menuntut keterlibatan aktif perguruan tinggi, khususnya PTKIN dan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan, dalam menuntaskan pendidikan S1 guru madrasah serta mendorong percepatan sertifikasi guru.
“Perguruan tinggi diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan kompetensi akademik, pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian guru,” tuturnya.
Selain isu SDM, Prof Ishom mengungkapkan bahwa Rakornas menyoroti tantangan dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi lulusan madrasah. Guru besar Fakultas Syariah ini merinci, secara nasional, jumlah pendaftar PTKIN dari lulusan SMA dan SMK masih lebih besar dibandingkan lulusan Madrasah Aliyah (MA/MAK). Hal ini dipengaruhi oleh proporsi MA/MAK yang hanya sekitar 12 persen dari total jumlah SMA/SMK di Indonesia.
“Realitas ini jelas berdampak pada keterbatasan basis calon mahasiswa dari madrasah. Karena itu, perguruan tinggi didorong untuk merumuskan kebijakan afirmatif, memperkuat sosialisasi, serta meningkatkan pembinaan akademik agar lulusan madrasah memiliki akses dan daya saing yang setara dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” ujar kiai yang tinggal di tanah Betawi ini.
Di akhir pernyataannya, Prof Ishom menegaskan bahwa perguruan tinggi diharapkan berkontribusi dalam membangun ekosistem pengembangan karier guru yang berkelanjutan. Tujuannya, kata Prof Ishom, tidak hanya menghasilkan guru yang profesional, tetapi juga guru yang sejahtera, sejalan dengan visi Ditjen Pendis dalam mewujudkan SDM pendidikan Islam yang unggul, berdaya saing, dan berkeadilan.
Diketahui, Rakornas dilaksanakan berdasarkan undangan resmi Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI kepada para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pimpinan Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais), pimpinan Ma’had Aly, serta perwakilan perguruan tinggi umum.
Forum itu menjadi wadah koordinasi strategis untuk merumuskan arah kebijakan dan penguatan pendidikan Islam, khususnya pada jenjang pendidikan tinggi.Rakornas dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof Amin Suyitno serta para direktur di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam. Kehadiran jajaran pimpinan ini menegaskan komitmen Kemenag dalam meningkatkan mutu tata kelola dan kualitas pendidikan Islam secara nasional.