Capres Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo saat Debat Capres tema pertahanan, Minggu (8/1/2024) malam. Foto: Youtube KPU
JAKARTA, (ERAKINI) - DPR RI angkat bicara terkait data pertahanan yang didesak dibuka oleh Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo saat Debat Capres bersama Prabowo Subianto, Minggu (8/1/2024) malam. DPR menegaskan merupakan informasi yang bersifat rahasia, sehingga memiliki risiko bagi kedaulatan negara jika dibuka ke publik.
"Data pertahanan negara tidak bisa sembarangan dibuka. Sifatnya rahasia negara, confidenti. Hanya bisa dibuka di kalangan tertentu," ujar Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid dalam keterangannya Senin (8/1/2024).
Menurut Meutya, capres yang meminta Prabowo Subianto membuka data pertahanan negara di hadapan publik, tidak memahami risiko yang akan timbul bagi pertahanan dan kedaulatan negara. Apalagi acara debat tersebut disiarkan langsung sehingga berpotensi menjadi perhatian seluruh dunia.
"Alhamdulillah, Pak Prabowo tidak terpancing untuk membuka data pertahanan kita. Menurut saya ini bentuk kenegarawanan, mementingkan negara di atas politik meski sudah dicecar sebegitu rupa," kata politikus Partai Golkar itu.
Legislator yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen itu menilai debat yang membahas pertahanan negara seharusnya menjadi ranah persatuan antara calon presiden, karena sifatnya yang rawan terhadap kedaulatan bangsa.
"Memanfaatkan data pertahanan yang sifatnya rahasia untuk menyudutkan lawan politik mestinya tidak terjadi. Negara lain sangat berkepentingan pada isu pertahanan ini. Harusnya kita memperlihatkan persatuan bahwa Indonesia dalam debat pertahanan, tentunya dengan sikap calon pemimpin yang penuh jiwa negarawan," tandasnya.
Diketahuui, dalam debat ketiga Pilres 2024 tadi malam, terjadi perdebatan sengit antara Anies, Ganjar, dan Prabowo. Anies dan Ganjar kompak meminta Prabowo transparan soal data pertahanan di Kementerian Pertahanan yang dipimpinnya.
"Pak Prabowo yang saya hormati, ini bukan soal pribadi, ini soal negara, ini soal policy, penjelasannya ya di tempat ini. Bukan di ruang-ruang tertutup yang tidak diketahui oleh publik," kata Anies.
"Kalau bapak ketahui datanya salah, tunjukkan di tempat ini. sehingga publik bisa mengetahui. Bukan dalam pertemuan-pertemuan lain yang jelas darimana kita bisa menilai akurasinya. Jadi hemat kami, bila ada di antara kami, yang faktanya keliru, bapak tunjukkan. Tapi kalau bapak tidak menunjukkan, berarti faktanya memang benar," lanjut Anies.
Namun,Prabowo tetap tidak mau membuka data yang diminta Anies. "Pak Anies..Pak Anies. Saya tidak bicara tertutup, saya bicara di Dewan Perwakilan Rakyat, Komisi I, dimana semua partai yang mengusung bapak hadir, dan menyetujui yang saya ajukan. Dan sekarang juga waktunga enggak ada (durasi terbatas). Jadi saya mengundang, kita bicara terbuka. Tapi saya ingatkan, bapak cinta tidak dengan negara ini. Masa kita mau semua kekurangan kita, semua masalah kita, kita buka di depan umum. Di negara yang baik, negara maju, rahasia ada profesor," jawab Prabowo.
"Tidak ada yang perlu dirahasikan. Bapak presiden menyampaikan, bapak punya lahan lebih dari 340 ribu hektare sementara TNI, prajurit kita, lebih dari separuh tidak punya rumah dinas, itu fakta," timpal Anies.
Perdebatan sengit juga terjadi antara Ganjar dan Prabowo. Bahkan Ganjar menantang Prabowo buka-bukaan data.
"Silakan bantah data saya hari ini, dan saya izinkan kalau ada staf (Prabowo) mau bantu. Silakan berdiri di sebelahnya, iIzinkan," tantang Ganjar.
Ganjar awalnya membeberkan terjadinya penurunan global military index yang bersumber dari Bonn International Center for Conflict Studies. Ganjar juga menyebut kapabilitas militer mengalami penurunan jika merujuk data Lowy Institute Asia Power Index.
"Termasuk kemudian capaian Minimum Essential Forces (MEF) kita hanya 65,49 persen dari target 79 persen. Mengapa, terjadi penurunan dan apa solusinya?" tandasnya.