BMKG: Asia Selatan Jadi Salah Satu Kawasan yang Paling Rentan Terdampak Perubahan Iklim
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) – Wilayah Asia Selatan dikategorikan sebagai salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim dan .

JAKARTA, (ERAKINI) – Wilayah Asia Selatan dikategorikan sebagai salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim dan .





Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, berdasarkan laporan Buku Tahunan Statistik PBB dan UNICEF tahun 2016.
Untuk itu, kata dia, kebutuhan akan prakiraan cuaca yang lebih akurat, tepat waktu, dan berbasis dampak, serta sistem peringatan dini yang terintegrasi, menjadi semakin mendesak di kawasan ini.
Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi lembaga meteorologi dan hidrologi nasional saat ini semakin kompleks setiap tahunnya.
“Cuaca dan iklim kini menjadi penentu utama dalam tren global dan regional, mempengaruhi berbagai sektor vital seperti pertanian, kesehatan, penanggulangan bencana, energi, pengelolaan air, hingga ketahanan pangan,” ujar Dwikorita dikutip dari laman resmi BMKG, Rabu (21/5/2025).
Menurutnya, perubahan iklim akibat pemanasan global disebut telah memberikan dampak yang signifikan, baik bagi komunitas ilmiah maupun masyarakat secara luas.
Selain itu, kata dia, pertumbuhan populasi yang pesat disertai peningkatan kebutuhan terhadap makanan, air bersih, dan energi menjadi faktor yang sangat dipengaruhi oleh dinamika cuaca dan iklim.
Adapun BMKG menggelar lokakarya yang berlangsung di Bali 20 Mei 2025. Acara ini, kata dia, menjadi ajang strategis untuk memperkuat sinergi antara BMKG dan mitra-mitra regional seperti Pagasa Filipina, UMD Malaysia, NADMA, MITE, NHMS, serta Vietnam.
“Ini adalah momen penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun layanan meteorologi yang tangguh, responsif, dan berkontribusi terhadap keselamatan serta kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Melalui forum ini, para peserta diharapkan dapat berbagi pengetahuan, menyelaraskan strategi, serta memahami kapasitas dan kebutuhan masing-masing negara demi membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
“Kegiatan ini menegaskan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, kebijakan, dan strategi lintas negara dalam merespons dinamika iklim yang terus berkembang,” katanya.



