Ilustrasi - Fenomena kemarau basah saat ini sedang melanda wilayah Indonesia. BMKG memprediksi kondisi ini akan berlanjut hingga Agustus 2025. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) - Fenomena cuaca tak biasa saat ini tengah melanda Indonesia yaitu kemarau basah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa kondisi ini diprediksi akan terus berlangsung hingga Agustus 2025.
Atas hal itu, BMKG mengimbau masyarakat agar bersiap menghadapi hujan yang tetap turun meskipun kalender menunjukkan musim kemarau. Kondisi yang dikenal sebagai kemarau basah ini menggambarkan situasi di mana intensitas hujan tetap tinggi di periode yang seharusnya didominasi oleh cuaca kering.
Menurut Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer global yang membuat pola cuaca menjadi tak menentu. “Kemarau basah adalah fenomena tidak biasa, disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim serta pola cuaca yang tidak stabil,” kata Guswanto sebagaimana keterangannya, Rabu (14/5/2025).
BMKG mencatat beberapa penyebab utama dari berlanjutnya hujan di musim kemarau tahun ini. Di antaranya adalah sirkulasi siklonik di wilayah perairan sekitar Indonesia, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer tropis seperti gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial.
Kondisi-kondisi tersebut meningkatkan pembentukan awan hujan, sekalipun seharusnya saat ini Indonesia mulai memasuki fase kering.
Wilayah-wilayah yang biasanya memiliki pola hujan musiman, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, menjadi yang paling terdampak. Di kawasan ini, musim kemarau biasanya berlangsung dengan curah hujan yang sangat minim. Namun pada tahun ini, hujan tetap turun secara signifikan karena kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas atmosfer yang terus berubah.
BMKG memperkirakan bahwa fenomena ini akan terus memengaruhi cuaca di berbagai daerah hingga akhir musim kemarau pada Agustus 2025. Setelah itu, Indonesia akan memasuki masa transisi atau pancaroba pada September hingga November, sebelum kembali ke musim penghujan pada Desember 2025 hingga Februari 2026.
Menurut Guswanto, fenomenakemarau basah dapat membawa dampak yang cukup luas. Di sektor pertanian, misalnya, ketidakpastian cuaca bisa menyebabkan gangguan pada jadwal tanam dan panen. Sementara itu, hujan deras di musim kemarau berisiko menyebabkan banjir lokal dan tanah longsor, terutama di wilayah dengan kontur tanah labil dan minim sistem drainase.
Untuk menyikapi cuaca yang sulit diprediksi ini, BMKG menyampaikan beberapa anjuran kepada masyarakat di antaranya menggunakan pelindung dari sinar matahari seperti topi, payung, atau tabir surya.
Selain itu masyarakat diminta untuk menjaga tubuh supaya tetap terhidrasi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan sertai mewaspadai potensi hujan deras yang mungkin disertai angin kencang dan petir. Masyarakat juga diminta untuk menghindari berada di ruang terbuka atau dekat pohon besar saat terjadi badai petir. Siapkan langkah antisipatif terhadap kemungkinan banjir, longsor, dan banjir bandang.
BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan publik terhadap dinamika cuaca yang berubah-ubah, agar dampak dari fenomenakemarau basah dapat diminimalkan. Dengan penyesuaian dan kewaspadaan yang tepat, masyarakat dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman.