Ilustrasi – Hujan yang mengguyur kawasan Stasiun Jatinegara, Jakarta, 3 Mei 2025. (Foto: Akhmad Baihaqi Arsyad/Erakini).
JAKARTA, (ERAKINI) – Hujan masih mengguyur di sejumlah wilayah Indonesia meski sudah memasuki musimkemarau 2025. Menurut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini Indonesia memasuki periode peralihan ke kemarau dan masih ada potensi di beberapa wilayah.
Sebagaimana dilansir dari laman resmi BMKG, Sabtu (10/5/2025), hal ini ditandai dengan pelemahan angin monsun Asia dan penguatan angin monsun Australia. Selain itu, hal lain yang juga terlihat signifikan pada periode peralihan musim ini adalah adanya peningkatan frekuensi kondisi cuaca cerah, suhu udara yang relatif tinggi di beberapa daerah.
Kemudian, kelembaban udara umumnya lebih kering dengan kisaran antara 63 persen hingga 79 persen. BMKG menjelaskan bahwa meskipun cuaca cerah mulai mendominasi, ketidakstabilan atmosfer selama periode transisi ini masih memungkinkan untuk terjadinya pembentukan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang disertai angin kencang dan petir/kilat dalam durasi singkat.
“Signifikansi cuaca ini juga merupakan akibat dari masih tersedianya uap air dalam konsentrasi tinggi di atmosfer,” kata pihak BMKG.
Saat ini, menurut BMKG, wilayah selatan Indonesia sedang menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa untuk periode Mei 2025. Meskipun biasanya memasuki musim kemarau, justru hujan deras masih melanda sejumlah daerah.
Fenomena ini dipengaruhi oleh kehadiran gelombang Rossby ekuatorial yang membawa massa udara lembap di atmosfer bagian selatan Indonesia. Indikasi ini terlihat dari nilai OLR (radiasi gelombang panjang keluar) yang menunjukkan anomali negatif, menandakan konsentrasi awan konvektif yang tinggi—faktor utama penyebab hujan.
Dampak dari kondisi atmosfer yang tidak stabil ini memperbesar peluang turunnya hujan dengan intensitas lebih tinggi dari normal, terutama di kawasan seperti Pulau Jawa, Bali, Lombok, hingga Nusa Tenggara Timur.
BMKG juga mencatat bahwa aktivitas gelombang Rossby bertepatan dengan tingginya indeks labilitas atmosfer pada siang dan sore hari, yang menyebabkan munculnya hujan deras disertai angin kencang dan potensi kilat dalam beberapa hari terakhir.
Kendati dalam waktu dekat curah hujan diperkirakan akan menurun dibandingkan sebelumnya, anomali hujan tetap terpantau berada di atas rata-rata pada dasarian (10 hari) pertama hingga kedua bulan Mei.
Menanggapi kondisi ini, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Langkah preventif seperti menjaga daya tahan tubuh, mencukupi asupan cairan, dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari pada siang hari sangat dianjurkan. Warga juga diminta mengantisipasi potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai petir, khususnya dari siang hingga malam hari.