Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Hadi Tjahjanto mengatakan, kehadiran Istana Kepresidenan di IKN sudah lama dinantikan bangsa Indonesia. Sebab, sejak 79 tahun merdeka, baru sekarang Indonesia memiliki Istana Kepresidenan yang dibuat oleh anak bangsa sendiri.
"Ini adalah salah satu kebanggaan bangsa, Istana Negara, Istana Garuda, dan seluruh fasilitasnya ini dibangun oleh putra-putra bangsa. 79 tahun kita menunggu untuk bisa memiliki satu istana yang luar biasa ini. Istana di Jakarta adalah peninggalan kolonial, ini adalah peninggalan putra bangsa," ujarnya.
Lantas apa perbedaan Istana Negara dan Istana Garuda di IKN? Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Diana Kusumastuti, menjelaskan bahwa Istana Garuda bakal menjadi lokasi presiden berkantor. Sementara Istana Negara berfungsi untuk menerima tamu-tamu kenegaraaan, termasuk menjadi tempat para pejabat negara dilantik. Selain itu, Istana Negara juga akan menjadi tempat tinggal presiden.
Hadirnya Istana Garuda dan Istana Negara di IKN menambah daftar Istana Presiden yang dimiliki Indonesia, menjadi delapan. Mengutip laman setneg.go.id, Kamis (8/8/2024), Indonesia sebelumnya sudah memiliki 6 Istana Kepresidenan, berikut sejarah pembangunan dan fungsinya:
1. Istana Merdeka Istana Merdeka terletak di Jalan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, dengan luas mencapai 6,8 hektare. Istana Merdeka tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga simbol perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Istana Merdeka dibangun pada tahun 1873 oleh arsitek Drossares, saat pemerintahan Gubernur Jenderal Louden. Bangunan tersebut selesai pada tahun 1879 dan dikenal sebagai Istana Gambir. Sejak itu, sebanyak 20 orang telah mendiami Istana Merdeka, termasuk 15 gubernur jenderal Hindia Belanda dan 2 presiden RI, yakni Soekarno dan Presiden Jokowi.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Istana Merdeka memiliki banyak fungsi. Ruang kerja Soekarno dipenuhi dengan buku-buku, dan terdapat gazebo yang diubah menjadi taman kanak-kanak bagi putra-putrinya. Namun, setelah Soeharto menjadi presiden, Istana Merdeka lebih sering digunakan sebagai tempat kerja dan upacara kenegaraan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Bina Graha, yang dibangun pada masa Soeharto, menjadi kantor resmi presiden, sementara Istana Merdeka tetap digunakan untuk acara-acara kenegaraan.
Di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Istana Merdeka mulai dihuni kembali oleh presiden dan keluarganya. Namun, Presiden Megawati Soekarnoputri lebih memilih Istana Negara sebagai kantornya.
2. Istana Negara Istana Negara satu kompleks dengan Istana Merdeka. Istana Negara awalnya dibangun sebagai kediaman pribadi seorang warga Belanda, JA van Braam, pada tahun 1796. Bangunan ini kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1816 dan dijadikan pusat pemerintahan.
Seiring waktu, Istana Negara mengalami perubahan signifikan, termasuk pengurangan tingkat bangunan dan perluasan area. Pada tahun 1869, dibangun gedung baru yang kini dikenal sebagai Istana Merdeka, sementara bangunan lama diperluas untuk memenuhi kebutuhan pemerintahan yang terus berkembang.
Istana Negara memiliki peran penting dalam menyelenggarakan berbagai acara kenegaraan, seperti pelantikan pejabat tinggi, kongres nasional, dan jamuan makan kenegaraan.
Saat peringatan hari kemerdekaan pada 17 Agustus, istana ini juga menjadi lokasi jamuan bagi Presiden dan para veteran. Selain itu, Istana Negara menjadi tempat pertunjukan seni tradisional yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia.
3. Istana Bogor Istana Bogor yang terletak di Jalan Ir H Juanda, Kota Bogor, Jawa Barat, berada sekitar 60 kilometer dari Jakarta. Istana ini memiliki luas sekitar 28,86 hektare dan dikelilingi oleh udara sejuk serta kebun raya yang rindang.
Pembangunan Istana Bogor dimulai pada tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Belanda, GW Baron van Imhoff, yang ingin menemukan tempat peristirahatan dari cuaca panas Batavia. Istana yang awalnya bernama Buitenzorg, mengalami berbagai renovasi dan perluasan selama masa pemerintahan gubernur jenderal yang berbeda, terutama pada masa Gubernur Jenderal Willem Daendels dan Baron van der Capellen, yang mendirikan Kebun Raya Bogor pada tahun 1817.
Istana ini pernah mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada tahun 1834 dan kembali direnovasi hingga ditetapkan sebagai kediaman resmi gubernur jenderal Belanda pada tahun 1870. Setelah kemerdekaan Indonesia, Istana Bogor menjadi kantor urusan kepresidenan serta kediaman resmi presiden.
Saat ini, Istana Bogor tidak hanya berfungsi sebagai kediaman presiden tetapi juga sebagai lokasi untuk menyelenggarakan berbagai pertemuan dan acara kenegaraan penting. Istana Bogor juga dikenal dengan koleksi seni yang mengesankan, termasuk 448 lukisan dan 216 patung, serta keramik yang beragam.
4. Istana Yogyakarta Istana Yogyakarta, yang juga dikenal dengan nama Gedung Agung, terletak di jantung Kota Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan. Komplek ini memiliki luas 43.585 meter, yang dikenal sebagai tempat yang menyimpan banyak sejarah. Gedung Agung pernah menjadi lokasi penting bagi Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Pembangunan Gedung Agung dimulai pada Mei 1824, diprakarsai oleh Residen Yogyakarta ke-18, Anthony Hendriks Smissaert, yang menginginkan adanya bangunan berwibawa bagi para residen Belanda. Arsitek A Payen bertanggung jawab atas desainnya, yang menggabungkan arsitektur Eropa dengan iklim tropis.
Pembangunan sempat terhenti akibat Perang Diponegoro (1825-1830), namun dilanjutkan dan selesai pada 1832. Setelah mengalami kerusakan akibat gempa bumi pada 1867, gedung ini dibangun ulang dan kembali diresmikan pada 1869.
Status gedung ini berubah menjadi kediaman gubernur Belanda setelah Yogyakarta ditingkatkan menjadi provinsi pada 1927. Gedung Agung pun menjadi lebih penting ketika pemerintah Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, menjadikannya sebagai Istana Kepresidenan sejak 6 Januari 1946.
Sebagai istana kepresidenan, Gedung Agung memiliki beberapa fungsi. Selain sebagai kantor dan kediaman resmi presiden, gedung ini juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu negara. Sejak 1991, Gedung Agung menjadi lokasi peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
5. Istana Cipanas Istana Cipanas, juga salah satu Istana Kepresidenan yang terletak di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, sekitar 103 km dari Jakarta menuju Bandung melalui Puncak. Berlokasi di Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, kompleks istana seluas 26 hektare ini menawarkan keindahan alam dengan tanaman hias dan kebun sayur yang tertata rapi.
Awalnya, bangunan induk istana ini merupakan milik pribadi seorang tuan tanah Belanda yang dibangun pada tahun 1742 oleh Gustaaf Willem Baron Van Imhoff. Sejak masa Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, istana ini digunakan sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Kompleks istana memiliki beberapa paviliun, termasuk Paviliun Yudhistira, Bima, dan Arjuna yang dibangun pada 1916 dan dinamai oleh Presiden Sukarno setelah Indonesia merdeka. Di belakang kompleks, terdapat Gedung Bentol yang dibangun pada 1954, serta Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa yang didirikan pada 1983.
Salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia yang terjadi di Istana Cipanas adalah sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pada 13 Desember 1965, yang menetapkan perubahan nilai uang dari Rp1.000 menjadi Rp1.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi pembesar Jepang dalam perjalanan antara Jakarta dan Bandung. Setelah kemerdekaan, Istana Cipanas ditetapkan sebagai Istana Kepresidenan, menjadi tempat peristirahatan bagi Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga, mirip dengan Camp David di Amerika Serikat.
6. Istana Tampaksiring Istana Tampaksiring terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, sekitar 40 kilometer dari Denpasar. Dengan ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut, kawasan istana ini memiliki hawa sejuk dan pemandangan alam yang menakjubkan, dikelilingi oleh perbukitan, persawahan terasering, dan pegunungan seperti Gunung Batur dan Gunung Agung.
Istana Tampaksiring adalah satu-satunya istana kepresidenan yang dibangun setelah Indonesia merdeka, dengan proses pembangunan yang berlangsung dari tahun 1957 hingga 1960. Presiden Soekarno memprakarsai pembangunan istana ini sebagai tempat peristirahatan bagi presiden dan tamu negara yang berkunjung ke Bali.
Sejarah tempat ini juga terkait dengan mata air Tirta Empul, yang konon diciptakan sebagai penawar racun oleh Batara Indra. Pada tahun 2003, untuk menyambut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, Istana Tampaksiring menambah fasilitas baru, termasuk gedung konferensi dan Balai Wantilan untuk pertunjukan seni.
Fungsi utama Istana Tampaksiring adalah sebagai tempat peristirahatan bagi Presiden dan keluarganya, serta tamu-tamu negara. Tamu negara pertama yang menginap di istana ini adalah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand pada tahun 1957. Sejak saat itu, berbagai kepala negara telah mengunjungi istana ini, termasuk Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam dan Perdana Menteri Nehru dari India.