Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan pentingnya anak mengurangi penggunaan media sosial (medsos). Foto: Dok Kemendukbangga
JAKARTA, (ERAKINI) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBNWihaji menekankan pentingnya anak mengurangi penggunaan media sosial (medsos). Pemerintah saat ini sedang mewacanakan pembatasan usia bagi pengguna .
Menurut Wihaji, salah satu kunci dalam pembangunan keluarga adalah komunikasi yang intens antara orang tua dan anak. Karenanya, ia mengajak orang tua untuk lebih sering mengobrol dengan anak-anak, mengingat banyak masalah yang muncul karena kurangnya komunikasi.
"Sederhana, intinya ngobrol. Semua permasalahan itu bermula dari kurangnya ngobrol. Jika orang tua tidak mengajak anaknya berbicara, anak akan berbicara dengan medsos," ujar Wihaji.
Wihaji mewanti-wanti jangan sampai medsos mengambil peran orang tua dalam membimbing dan berkomunikasi dengan anak. "Ajaklah mereka ngobrol, jika tidak, anak-anak akan lebih memilih ngobrol dengan media social, orang tuanya medsos," tambahnya.
Oleh karena itu, sejak menjabat sebagai Mendukbangga, Wihaji telah memerintahkan seluruh pegawai Kemendukbangga untuk pulang tepat waktu, sehihgga bisa meluangkan waktu dan berkumpul ngobrol bersama keluarga.
"Saya perintahkan semua mulai jam 4 sore pulang, ngobrol dengan keluarga. Banyak kasus kekerasan yang terjadi karena kurangnya komunikasi, seperti anak yang membunuh orang tuanya. Solusinya, ngobrol," tegas Wihaji.
Wihaji mengaku prihatin dengan kondisi lebih dari 36 juta penduduk berusia 10-24 tahun yang dimanjakan dengan kemajuan teknologi. Sehingga muncul kebiasaan malas bergerak atau mager dan rebahan sambal bermain medsos.
Ia mengapresiasi gerakan yang diprakarsai oleh Presiden Prabowo Subianto, yaitu mewajibkan siswa untuk berolahraga minimal satu jam sebelum memulai pelajaran. "Ini bisa mengurangi kebiasaan mager (malas gerak), setiap hari minimal satu jam olahraga sebelum pelajaran, seperti senam ringan," ujarnya.
Wihaji mengungkapkan bahwa kebijakan pembatasan penggunaan medsos untuk anak di bawah usia tertentu kini tengah dikaji oleh pemerintah. Kebijakan ini telah diterapkan di beberapa negara. Di Australia, misalnya, anak di bawah 16 tahun dilarang menggunakan medsos. Di Amerika Serikat, pembatasan serupa berlaku bagi anak di bawah usia 14 tahun.
"Media sosial memengaruhi otak dan algoritma kita saat ini. Saya bukan antimedsos, tetapi kita perlu mengatur ini. Tapi ini (aturan di Indonesia) masih dikaji, karena berkaitan dengan demokrasi," ucap Wihaji.
Rencana pembatasan penggunaan media sosial bagi anak ini juga telah dibahas dalam pertemuan antara Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka pada 13 Januari 2025 lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Meutya dan Presiden Prabowo berdiskusi terkait langkah-langkah pemerintah dalam melindungi anak-anak di ruang digital. Termasuk rencana pembuatan kebijakan ruang digital yang ramah anak. Sebagai langkah awal, pemerintah berencana mengeluarkan peraturan pemerintah (PP). Setelah itu perlindungan anak di ranah digital akan diatur melalui undang-undang.