Pengambilan Api Dharma dari Sumber Api Alam Mrapen Desa Manggar Mas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Sabtu (9/5/2025). (Foto: Ditjen Bimas Buddha Kemenag)
GROBOGAN, (ERAKINI) - Rangkaian kegiatan puncak Perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE Tahun 2025 yang dipusatkan di Candi Borobudur dimulai hari ini, Sabtu (9/5/2025).
Rangkaian ini diawali dengan pengambilan Api Dharma dari Sumber Api Alam Mrapen Desa Manggar Mas, Kecamatan Godong, , Jawa Tengah (Jateng).
Prosesi pengambilan api tepat dilakukan pada pukul 12.00 WIB oleh para bhikkhu sangha dari perwakilan beberapa majelis umat Buddha, perwakilan Kementerian Agama, TNI, Polri, Pemkab Grobogan dan instansi terkait. Dari api abadi tersebut kemudian disulutkan ke obor dan dikirab menuju mobil pick up yang telah bersiap di halaman kompleks wisata Api Abadi Mrapen.
Api juga disulut di obor besar (angklu) yang diapit dua Bendera Merah Putih dan dua Bendera Buddha. Dengan dikawal mobil polisi, api kemudian dibawa rombongan menuju Candi Mendut di Kabupaten Magelang.
Sebelum acara pengambilan Api Dharma, prosesi diawali dengan penyalaan lilin panca warna serta pembacaan paritta suci dari masing-masing majelis. Ada beberapa diantaranya majelis Sangha Theravada Dhamayut Indonesia, MBMI, Palpung, ZFZ Kasogatan, Sangha Mahayana Indonesia, dan Martrisia.
Menurut perwakilan dari Bhikkhu Sangha Bhante Subhacaro, penggunaan Api DharmaMrapen dalam kegiatan Waisak merupakan hal yang rutin dilakukan sebagai simbol kebangkitan dan pencerahan.
Melalui api ini, diharapkan ada spirit kuat untuk menghilangkan hal-hal yang bersifat buruk dan membangkitkan jiwa-jiwa baik. "Setelah berhasil mengendalikan itu semua diharapkan bisa membangkitkan jiwa-jiwa yang baik dalam kita dan membangkitkan kesadaran kita untuk mengikis keserakahan, kebodohan dan kebencian. Jika ini terlaksana maka wujud kesejatian akan muncul dan akhirnya pula kita mengembangkan cinta kasih, kasih sayang dan bisa mewujudkan perdamaian dunia," katanya.
Perdamaian dunia, kata dia, bisa terwujud jika rasa cinta kasih terus dikembangkan. Sebab jika sifat lobha bisa berkurang maka otomatis perasaan-perasaan kepada semua makhluk akan timbul. Sebaliknya jika yang dikembangkan adalah keserakahan maka akan memicu sifat keserakahan bahkan peperangan.
"Ini sesungguhnya makna api sebagai wujud dari perdamaian. Ada pengendalian diri dan juga kasih sayang," tandasnya.
Dengan demikian melalui semangat Api Dharma, umat juga diharapkan memiliki tekad kuat untuk membangkitkan sifat-sifat baik dan memacu semangat dalam mengarungi kehidupan. Selain itu, Api DharmaMrapen juga bisa menjadi sarana melatih diri untuk membiasakan dalam perbuatan-perbuatan positif.
Apabila hal ini terbentuk maka diyakini mampu melahirkan kesejatian abadi berupa tindakan yang tenang dan perdamaian. Ini selaras dengan tema Perayaan Hari Raya Waisak 2025, yaitu "Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan, Wujudkan Perdamaian Dunia".
Selanjutnya, Api Dharma dibawa ke Candi Mendut untuk disakralkan dengan pembacaan paritta suci oleh para Bhikkhu Sangha, Rohaniawan dari beberapa Majelis Agama Buddha, serta umat Buddha sebelum dibawa ke Candi Borobudur saat Waisak tiba.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam, Api Dharma tiba di Candi Mendut dan langsung diterima oleh Bhikkhu Sangha, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kemenag Nyoman Suriadarma, Wakil Panitia Waisak Nasional Karuna Murdaya dan tokoh agama.
Pada Minggu (10/5/2025), rangkaian perayaan Waisak dilanjutkan dengan pengambilan air berkah di Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung. Puja bakti dilakukan oleh para Bhikkhu Sangha, rohaniawan dari majelis-majelis agama Buddha secara bergantian.