Menbud Fadli Zon menjelajahi sejumlah gua bersejarah di Maros, Sulawesi Selatan. Medan terjal harus dilewati Fadli Zon untuk sampai lokasi. Foto-foto: Instagram @fadlizon
SULAWESI SELATAN, (ERAKINI) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menjelajahi sejumlah gua bersejarah di Maros, Sulawesi Selatan. Hal ini sebagai upaya pelestarian warisan budaya, sekaligus penegasan posisi sebagai pusat peradaban tertua di dunia.
Akses ke dalam gua ini cukup menantang. Fadli Zon harus melewati jalur terjal, mendaki, dan ruang sempit, untuk sampai ke lokasi. Namun, bagi Menbud, pengalaman menyaksikan langsung karya seni cadas prasejarah adalah sesuatu yang tak ternilai.
Dalam kunjungannya ke Sulawesi Selatan, Fadli Zon memulai kegiatan dengan meresmikan Leang-Leang Archaeological Park dan Pusat Informasi Gambar Prasejarah di Kabupaten Maros, Selasa (14/1/2025) pagi. Kawasan ini menjadi simbol pelestarian warisan budaya, sekaligus penegasan posisi Nusantara sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia.
Fadli Zon menyebutkan, kawasan Leang-Leang menyimpan bukti jejak kreativitas manusia purbaNusantara, seperti lukisan gua yang berusia antara 35.000 hingga 51.200 tahun. Hal ini menjadi bukti sekaligus penegasan posisi Nusantara (Indonesia) sebagai pusat peradaban tertua di dunia.
"Di sini, lukisan-lukisan dinding gua berusia hingga 51.200 tahun menyimpan jejak kreativitas dan imajinasi manusia purba di wilayah Nusantara yang sudah berkembang sejak puluhan ribu tahun lalu," ujar Fadli Zon dikutip dari akun Instagramnya, Kamis (16/1/2025).
Fadli Zon menjelaskan, penemuan pertama di Leang-Leang tercatat pada 1905 oleh Fritz dan Paul Sarasin, naturalis asal Swiss. Dilanjutkan oleh penelitian HR van Heekeren, Palm, dan CHJ Franssen pada 1950-an.
Ia pun memberikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. "Ini merupakan upaya strategis untuk mengangkat Leang-Leang sebagai pusat edukasi, literasi, konservasi, dan wisata budaya, yang mudah diakses oleh generasi muda dan masyarakat luas," bebernya.
Pada Rabu (15/1) pagi, Fadli Zon melanjutkan kegiatannya di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Di sana ia berdiskusi dengan para akademisi dan mahasiswa dalam bincang budaya bertajuk “Pemertahanan Kebudayaan dalam Era Globalisasi.”
Bersama Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa dan seluruh civitas akademika, Fadli Zon mendiskusikan berbagai isu pemajuan kebudayaan, termasuk tantangan pelestarian budaya dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal melalui pendidikan, internalisasi, dan pengembangan literasi budaya.
Ia juga mengunjungi Ruang Mandala Majapahit dan Lab Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Unhas. "Melalui kunjungan dan diskusi ini, saya tegaskan peran penting perguruan tinggi dalam penelitian dan pelestarian warisan budaya, termasuk menjaga peradaban purba di Sulawesi Selatan," tandasnya.
Menbud juga menyempatkan menyaksikan kekayaan warisan budaya Sulawesi Selatan di Museum La Galigo di dalam kompleks Benteng Rotterdam, Makassar. Penamaan museum ini diambil dari naskah La Galigo, karya sastra Bugis yang telah tercatat dalam Memory of the World UNESCO pada 2011.
Lebih dari 5.000 koleksi bersejarah yang mencerminkan kejayaan peradaban Sulawesi Selatan dipamerkan di museum ini. Mulai dari naskah kuno Lontara, replika kapal Pinisi, hingga artefak arkeologi yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Perjalanan sesungguhnya Fadli Zon pun dimulai. Ia mendatangi Leang Pettakere dan Leang Jarie, dua gua yang menjadi saksi jejak kreativitas manusia purbaNusantara.
Di Leang Pettakere, terdapat lukisan dinding gua berupa gambar babirusa dan cap telapak tangan, dengan temuan arkeologis berupa microlith dan mata anak panah. Sementara itu, di Leang Jarie terdapat cap tangan dengan jari runcing berusia sekitar 39.500 tahun.
"Warisan ini tidak hanya menjadi sumber pengetahuan tentang kehidupan masa lalu, tetapi juga pengingat akan kekayaan budaya Nusantara yang harus kita jaga untuk generasi mendatang," kata Fadli Zon.
Selanjutnya ia mendatangi Leang Karampuang, gua dengan lukisan naratif tertua di dunia yang diperkirakan berusia sekitar 51.200 tahun. Lukisan tersebut menggambarkan sosok manusia dan binatang dalam adegan perburuan, suatu bentuk seni naratif yang luar biasa kompleks untuk masanya.
"Temuan ini mematahkan asumsi bahwa seni naratif hanya berkembang di Eropa pada masa Upper Paleolithic. Sebaliknya, seni cadas yang ditemukan di situs ini menunjukkan bahwa peradaban besar juga berkembang pesat di Nusantara, sebelum teori Out of Africa mendominasi narasi evolusi manusia," tegas Menbud.
"Inilah titik penting yang memperkaya narasi perjalanan peradaban dunia, menegaskan peran Nusantara sebagai salah satu pusat perkembangan budaya awal manusia," tambahnya.
Dengan bukti ilmiah yang terus diperkuat, kata Fadli Zon, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk mendefinisikan ulang sejarah evolusi global dan memastikan dunia mengakui kontribusi Nusantara sebagai rumah bagi seni naratif tertua di dunia.