Taruna Ikrar resmi menjabat Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) usai dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara, Senin (19/8/2024). Foto: YouTube Setpres
JAKARTA, (ERAKINI) -Taruna Ikrar resmi menjabat Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) usai dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara, Senin (19/8/2024). Taruna Ikrar adalah seorang dokter dengan spesialisasi di bidang farmasi, jantung, dan saraf.
Diolah dari berbagai sumber, Taruna menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Hasanuddin () Makassar dari 1988 hingga 1997. Setelah lulus sarjana, ia melanjutkan studi farmakologi di Universitas Indonesia (UI) dari 1998 hingga 2003.
Setelah itu, Taruna melanjutkan pendidikan di Niigata University, Jepang, dalam bidang studi kardiovaskuler dari 2004 hingga 2008, dan studi anatomi serta neurobiologi di University of California, Irvine, Amerika Serikat, dari 2008 hingga 2013. Sejak 2020, Taruna Ikrar menjabat sebagai Ketua Konsil Kedokteran Indonesia.
Taruna adalah salah satu pemegang paten pemetaan otak manusia sejak tahun 2009. Ia pernah menjabat sebagai spesialis laboratorium (specialist) di departemen anatomi dan neurobiologi di Universitas California di Irvine.
Taruna dalam sebuah kesempatan mengaku sudah memiliki 67 penemuan terkait otak manusia. Bahkan ia sudah memetakan jalur saraf sebanyak 100 miliar dan 1.000 triliun koneksi fungsi otak di seluruh tubuh.
Namun, pada 2023, gelar profesornya dicabut oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) karena ada indikasi kecurangan dalam proses pemberian gelar tersebut. Pencabutan gelar ini tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 48674/M/07/2023 tentang Penyetaraan Jabatan Akademik Dosen tertanggal 30 Agustus 2023.
Taruna Ikrar dikenal melalui sejumlah karya tulis ilmiahnya. Di antaranya adalah "Terapi Sel Punca dan Tata Laksana COVID-19" yang diterbitkan pada 2023, yang meneliti efektivitas terapi sel punca dalam penanganan Covid-19.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian MSC alogenik dapat mempercepat perbaikan jaringan paru-paru dan mengurangi kebutuhan aktivasi sel mesenkim lebih lanjut.
Selain itu, ia juga menulis "The Art of Oncoimmunovaccinomics" bersama Dito Anurogo pada 2021, yang membahas berbagai aspek imunoterapi untuk kanker. "The Neuroscience of Glutamate," sebuah artikel yang diterbitkan pada 2014, turut dihasilkan bersama Dito Anurogo, membahas glutamat dari perspektif neurosains klasik dan modern, termasuk peranannya dalam proses cedera dan ritme sirkadian serta aspek klinisnya.
Kini, setelah menjabat Kepala BPOMTaruna Ikrar mengungkapkan lima konsep penting untuk meningkatkan pengelolaan obat dan makanan di Indonesia.
Pertama, harga obat di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan antara obat paten dan generik, serta kebutuhan untuk regulasi yang lebih baik.
Kedua, koordinasi antar-lembaga menjadi kunci penting. BPOM perlu bekerja sama dengan BPJS, Kementerian Kesehatan, serta berbagai asosiasi terkait, seperti asosiasi farmasi dan perusahaan obat.
Ketiga, banyak obat inovatif yang telah disetujui di negara maju namun belum tersedia di Indonesia.Ia menekankan perlunya perbaikan dalam proses regulasi agar obat-obat baru bisa lebih cepat masuk ke pasar Indonesia.
Keempat, inovasi dalam regulasi diperlukan untuk mengikuti perkembangan teknologi. Misalnya, produk biologi dan terapi genetik, memerlukan pendekatan khusus yang berbeda dari uji klinis konvensional.
Kelima, BPOM harus meningkatkan standar dan reputasinya untuk bersaing secara global. Dengan memperbaiki status dan kepercayaan, produk yang disetujui oleh BPOM akan lebih mudah diterima di pasar internasional, mendukung ekspor produk Indonesia.