Ilustrasi - Bulan Februari 2026 hujan masih belum berakhir. BMKG menyebut bahwa Monsun Asia menguat dan ancaman cuaca basah meluas ke hampir seluruh Indonesia. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan signifikan aktivitas hujan di berbagai wilayah Indonesia sepanjang periode 6–8 Februari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat terjadi secara luas, dengan curah hujan harian tertinggi terpantau di Lampung mencapai 107,0 mm per hari.
Selain Lampung, hujan deras juga tercatat di sejumlah wilayah lain, antara lain DKI Jakarta (94,9 mm/hari), Jawa Barat (86,8 mm/hari), Maluku (85,6 mm/hari), Kalimantan Timur (74,7 mm/hari), Jambi (65,9 mm/hari), Kepulauan Bangka Belitung (59,7 mm/hari), Jawa Timur (58,0 mm/hari), serta Nusa Tenggara Timur (57,7 mm/hari).
Lonjakan curah hujan ini berkaitan erat dengan menguatnya Monsun Asia, yang ditandai oleh dominasi aliran angin timur laut dari daratan Asia menuju wilayah maritim tropis Indonesia. Kondisi tersebut memperkaya suplai uap air dan menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi pembentukan awan hujan.
Dari pengamatan satelit, nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang terpantau negatif di banyak wilayah Indonesia menunjukkan meluasnya tutupan awan tebal serta meningkatnya aktivitas konveksi. Fenomena ini berkontribusi pada pembentukan awan hujan yang lebih intens dan bertahan lama.
Penguatan hujan juga dipicu oleh aktifnya Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin yang terdeteksi di sejumlah wilayah, meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua. Kombinasi gelombang atmosfer tersebut memperkuat proses konvektif dan meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat.
Dinamika atmosfer Indonesia turut dipengaruhi oleh keberadaan Ex-Siklon Tropis PENHA yang terpantau di wilayah Laut Filipina, utara Sulawesi, serta Siklon Tropis MITCHELL yang berada di daratan Australia bagian utara. Keberadaan kedua sistem ini menyebabkan terjadinya belokan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah Indonesia, membentuk area konvergensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Ex-Siklon Tropis PENHA memberikan dampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Sementara itu, Siklon Tropis MITCHELL turut memicu hujan sedang yang disertai angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur.
BMKG memprakirakan bahwa dalam sepekan ke depan, cuacaIndonesia masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase La Niña lemah, dengan nilai SOI sebesar +11,6 dan indeks Niño 3.4 tercatat −0,75. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan aktivitas konvektif, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Pada skala regional, diperkirakan akan terbentuk sirkulasi siklonik di beberapa wilayah, yakni di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, serta Laut Coral. Sistem ini memicu terbentuknya daerah konvergensi di Samudra Hindia barat Aceh, barat Sumatra Utara, dan barat Lampung.
Daerah konvergensi lainnya juga diprediksi membentang dari pesisir selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur, pesisir selatan Kalimantan Selatan hingga Selat Makassar bagian selatan, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Tenggara, serta Papua Selatan hingga Papua Nugini. Wilayah-wilayah tersebut memiliki potensi tinggi untuk pertumbuhan awan hujan, khususnya di sekitar pusat sirkulasi siklonik dan sepanjang jalur konvergensi.
Monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap cuacaIndonesia setidaknya hingga dasarian kedua Februari. Dalam beberapa hari ke depan, BMKG juga memantau adanya potensi seruakan dingin (cold surge) yang menyertai penguatan Monsun Asia.
Hal ini tercermin dari nilai Indeks Surge yang diperkirakan signifikan, meningkatnya kecepatan angin dari arah utara, serta indeks CENS (Cross Equatorial Northerly Surge) yang berada pada kategori tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Aktivitas gelombang atmosfer juga diprakirakan tetap aktif. Gelombang Kelvin terdeteksi memengaruhi Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan dan utara, Sulawesi Tengah dan Selatan, serta Papua Selatan. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuator diperkirakan aktif hampir di seluruh wilayah Indonesia, mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, hingga Papua.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan dampak turunan seperti banjir dan longsor di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan.