KH Anwar Manshur saat mengisi pengajian di pesantren (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Tayangan salah satu program di stasiun televisi Trans7 menuai kecaman luas dari masyarakat, khususnya kalangan pesantren. Pasalnya, dalam video tersebut terdapat cuplikan gambar KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok PesantrenLirboyo, Kediri, Jawa Timur, yang disandingkan dengan narasi bernada merendahkan .
Dalam tayangan itu, narator dengan lantang menyinggung soal “ulama kaya tapi dikasih uang sama santri”, tepat ketika menampilkan sosok KH Anwar Manshur. Cuplikan tersebut dinilai sebagai bentuk framing jahat yang merugikan nama baik kiai sepuh yang dikenal luas karena keteladanan dan keilmuannya.
Profil Kiai Anwar Manshur
Dilansir dari LP2M IAI Tribakti Kediri, Rabu (15/10/2025), KH Anwar Manshur dikenal sebagai ulama kharismatik yang menjadi rujukan keilmuan dan moral bagi ribuan santri di Indonesia. Ia merupakan pengasuh tertinggi Pondok PesantrenLirboyo dan termasuk salah satu dari 23 kiai khos mujiz Ijazah Kubro Pagar Nusa, organisasi bela diri resmi di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).
Sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) asal Jawa Timur, kiprah KH Anwar Manshur tidak hanya lekat dengan otoritas keilmuan, tetapi juga keteladanan hidup sederhana dan perhatian besar terhadap pendidikan pesantren.
Anak pendiri pesantrenLirboyo KH Anwar Manshur lahir pada 1 Maret 1938 di lingkungan pesantren yang sarat tradisi keilmuan. Ia adalah putra KH Manshur Jombang dan Nyai Salamah, cucu dari KH Abdul Karim, pendiri PesantrenLirboyo.
Sejak kecil, KH Anwar tumbuh dalam suasana religius dan disiplin ilmu. Ia menempuh pendidikan di Pesantren Pacul Gowang, Jombang, kemudian melanjutkan ke Tebuireng hingga tingkat tsanawiyah, dan akhirnya menimba ilmu di PesantrenLirboyo.
Dedikasi untuk pendidikan pesantren
Pada 15 September 1985 atau 1 Muharram 1406 H, KH Anwar mendirikan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiat di lingkungan Lirboyo, khusus bagi santri putri. Gagasan itu lahir dari inisiatif KH Mahrus Aly serta meningkatnya minat santri perempuan untuk belajar di Lirboyo.
Kini, pesantren tersebut menjadi salah satu lembaga pendidikan putri paling berpengaruh di Jawa Timur. Melalui lembaga itu, KH Anwar menegaskan pentingnya kesetaraan kesempatan menuntut ilmu bagi perempuan di pesantren.
Tegas, lembut, dan berakhlak
Bagi para santri, KH Anwar dikenal sebagai sosok yang tegas namun penuh kelembutan dalam memberi nasihat. Ia kerap menekankan pentingnya keistiqamahan dalam belajar agama, serta menjadikan pekerjaan duniawi hanya sebagai sarana, bukan tujuan hidup.
Dalam pengajarannya, KH Anwar menaruh perhatian besar pada akhlak dan adab. “Santri sejati adalah yang berakhlak luhur dan memiliki adab terhadap ilmu,” begitu salah satu pesan yang kerap ia sampaikan. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an adalah syarat dasar, bukan pelengkap dalam pendidikan pesantren.
Menjaga tradisi di tengah arus modernisasi
Sebagai pengasuh pesantren salafiyah, KH Anwar dikenal konsisten menjaga tradisi pendidikan klasik di tengah derasnya arus modernisasi. Ia berhati-hati dalam mengambil keputusan dan selalu menempatkan nilai amanah sebagai prinsip utama, baik dalam mengelola pesantren maupun organisasi.
Dalam kehidupan sosial, KH Anwar juga dikenal dekat dengan masyarakat. Ia kerap menghadiri undangan warga untuk pengajian, hajatan, maupun musyawarah desa.