Ilustrasi - BMKG menyebut bahwa ancaman tsunami di Yogyakarta itu nyata. Sudah tercatat sebanyak 114 kali gempa terjadi dengan magnitudo di atas 5 dalam satu dekade terakhir. (Foto: Pixabay).
YOGYAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama kawasan pesisir selatan, termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan .
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat membuka kegiatan Sekolah Lapang gempa bumi dan Tsunami (SLG) di Kulon Progo, dilansir dari Erakini laman resminya, Senin (27/10/2025).
Menurut Dwikorita, aktivitas seismik di wilayah Yogyakarta terbilang cukup intens. Dalam kurun satu dekade terakhir, tercatat 114 kejadian gempa bumi dengan magnitudo di atas 5, dua di antaranya bersifat merusak, serta 44 kali getaran yang sempat dirasakan warga. Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PUSGEN 2017), kawasan selatan Jawa berpotensi mengalami gempa bumi megathrust hingga magnitudo M8,8 yang dapat memicu tsunami besar.
“Ancaman ini nyata dan bisa terjadi tiba-tiba. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus diperkuat. SLG ini adalah wujud kepedulian negara untuk melindungi keselamatan masyarakat dari bencana gempa bumi dan tsunami,” ujar Dwikorita.
Namun demikian, Kabupaten Kulon Progo, kata Dwikorita menjadi wilayah strategis karena tidak hanya berada di kawasan rawan bencana, tetapi juga menjadi pintu gerbang wisata Yogyakarta dengan keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA). YIA disebutnya sebagai satu-satunya bandara di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara atau mungkin di dunia, yang sejak awal dirancang khusus untuk menghadapi ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami.
“Keberadaan YIA adalah simbol kesiapsiagaan bencana. Dengan desain khusus tersebut, Kulon Progo memiliki peluang menjadi contoh daerah tangguh bencana. Ketangguhan inilah yang akan menjaga rasa aman masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan wisatawan dan investor,” ujarnya.
Kemudina, sebagai bentuk penguatan mitigasi, BMKG terus menggencarkan sejumlah program, di antaranya Sekolah Lapang Gempa bumi dan Tsunami, Masyarakat Siaga Tsunami, serta BMKG Goes To School. Hingga kini, enam desa di DIY telah diakui sebagai Masyarakat Siaga Tsunami, sementara program edukasi di sekolah telah menjangkau 166 sekolah dengan lebih dari 20 ribu peserta.
Dwikorita mengatakan, program-program tersebut dirancang untuk menumbuhkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam merespons tanda bahaya serta memahami peringatan dini. Dwikorita menegaskan, implementasi 12 Indikator Tsunami Ready yang ditetapkan UNESCO-IOC, seperti pembangunan rambu evakuasi, peta bahaya tsunami, hingga rencana kontinjensi, harus segera diwujudkan di daerah-daerah pesisir.
“Jika indikator tersebut dipenuhi, target zero victim bukan mustahil tercapai. Kuncinya adalah sinergi pemerintah daerah, masyarakat, dan swasta dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Diharapkan oleh pihak BMKG bahwa SLG di Kulon Progo ini menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi bencana. Ia juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam meneruskan ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari program ini.
“Bencana memang tidak bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Dengan kesiapsiagaan, kita tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memastikan pembangunan dan pariwisata tetap berkelanjutan,” ujarnya.