(KPU) Jakarta Timur menetapkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 3, Pramono Anung-Rano Karno (Pram-Doel), sebagai pemenang Pilkada Jakarta 2024. Foto: Ilustrasi/Dok
"Data rincian pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, paslon satu (Ridwan Kamil-Suswono) meraih 535.613 suara, paslon 2 (Dharma Pongrekun-Kun Wardana meraih 136.935 suara dan paslon 3, Pram-Doel meraih 635.170 suara," ujar Ketua KPUJakarta Timur, Tedi Kurnia, saat membacakan hasil rekapitulasi suara dalam Rapat Pleno Terbuka di Cawang, Jakarta Timur, Rabu (4/12/2024).
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Jakarta Timur tercatat sebanyak 2.374.828 orang, dengan jumlah pemilih yang menggunakan hak suara sebanyak 1.421.412 orang. Total suara sah mencapai 1.307.718 suara, sedangkan suara tidak sah tercatat sebanyak 118.116 suara.
Tedi mengungkapkan, pasangan Pram-Doel meraih kemenangan di sembilan kecamatan dari total 10 kecamatan di Jakarta Timur, yakni Jatinegara, Duren Sawit, Kramat Jati, Matraman, Pulogadung, Cakung, Makasar, Ciracas, dan Cipayung. Sementara pasangan Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) hanya unggul di kecamatan Pasar Rebo.
Terpisah, pengamat politik dari Universitas Airlangga (UNAIR), Airlangga Pribadi Kusman menilai kemenangan pasangan Pram-Doel dalam Pilgub DKI 2024 mencerminkan penolakan publik terhadap kampanye yang dianggap tidak etis dan seksis.
Airlangga menyoroti penggunaan guyonan yang bernada seksis selama kampanye salah satu pasangan calon, yang dinilai sebagai faktor yang mengurangi simpati publik.
"Model kampanye yang dangkal dan cenderung bercorak seksis, bertendensi bias gender dan tidak memperdulikan etika kepedulian bersifat kontraproduktif dan membuat simpati publik menjauh," ujar Airlangga di Jakarta.
Menurut Airlangga,penggunaan istilah-istilah yang tidak sensitif terhadap isu gender, seperti "janda" dalam konteks guyonan politik, telah menyebabkan hilangnya kepercayaan publik terhadap pasangan calon tersebut. Hal ini menjadi pelajaran penting dalam dinamika politik di Indonesia, khususnya dalam proses pemilu yang semakin dekat.
Selain itu, Airlangga juga menyoroti rendahnya angka partisipasi politik pada Pilkada kali ini, yang mencerminkan adanya kejenuhan politik (political fatigue) di kalangan warga Jakarta.
Meskipun Pilkada ini diselenggarakan dalam jangka waktu yang cukup singkat menjelang Pemilu 2024, rendahnya partisipasi ini menjadi pertanda bahwa masyarakat mulai merasa lelah dengan hiruk-pikuk politik.