Gereja Tugu, salah satu gereja Protestan tertua di Jakarta yang didirikan pada tahun 1678 di daerah Tugu, Jakarta Utara. Foto: jadesta.kemenpar.go.id
JAKARTA, (ERAKINI) – Libur Natal 2025 telah tiba. Bagi umat Kristiani, ada yang merayakannya dengan berlibur ke berbagai destinasi, atau memilih pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga.
Indonesia memiliki banyak bangunan tua yang sarat makna sejarah, termasuk gereja-gereja bersejarah yang telah berdiri selama ratusan tahun. Gereja-gereja ini menawarkan pesona arsitektur klasik peninggalan era kolonial dan kerap menjadi sekaligus sejarah yang menarik.
Berikut delapan destinasi gereja bersejarah di Indonesia yang layak dikunjungi untuk mengisi liburan Natal, dirangkum Selasa (23/12/2025).
1. Gereja Tugu, Jakarta Utara
Destinasi pertama adalah GPIB Tugu atau yang akrab disebut Gereja Tugu. Gereja ini merupakan salah satu gereja Protestan tertua di Jakarta, didirikan pada tahun 1678 di kawasan Tugu, Jakarta Utara.
Gereja Tugu dibangun oleh komunitas Mardijkers, yakni bekas budak dari India, Malaka, dan Benggala yang dibebaskan oleh VOC dan kemudian berasimilasi dengan budaya lokal sambil memeluk agama Kristen Protestan.
Bangunan asli gereja sempat rusak parah akibat serangan pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten William Cole pada 1814. Namun, gereja ini kemudian diperbaiki kembali di lokasi yang sama. Arsitekturnya sederhana, tetapi sarat makna karena mencerminkan perpaduan budaya Eropa dan lokal yang unik.
Tak hanya bangunannya, umat di sekitar Gereja Tugu juga masih mempertahankan tradisi khas seperti Cafrinho dan musik keroncong Tugu, warisan budaya Portugis-Indonesia. Gereja ini bukan sekadar destinasi wisata religi, tetapi juga pusat pelestarian budaya Tugu.
2. Gereja Blenduk, Semarang
Bergeser ke Jawa Tengah, terdapat GPIB Immanuel Semarang atau yang lebih dikenal sebagai Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama Semarang. Gereja ini merupakan gereja Protestan tertua di Jawa Tengah yang didirikan pada tahun 1753 oleh komunitas Belanda.
Nama “Blenduk” berasal dari bahasa Jawa yang berarti menggembung atau kubah, merujuk pada bentuk atapnya yang bulat. Arsitekturnya memadukan gaya Neo-Klasik dan Barok dengan kubah tembaga besar yang ikonik.
Interior Gereja Blenduk juga memikat, dengan altar kayu jati kuno dan organ pipa Barok bersejarah, meski kini tidak lagi berfungsi optimal. Selain sebagai tempat ibadah, Gereja Blenduk menjadi daya tarik utama wisatawan di Kota Lama Semarang, terutama karena lokasinya yang strategis di depan Taman Srigunting.
3. GKPA Pakantan, Mandailing Natal
Di Sumatera, tepatnya di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, terdapat GKPA Pakantan yang diklaim sebagai gereja tertua di daratan Pulau Sumatera. Usianya hampir mencapai 200 tahun dan berkaitan erat dengan masuknya zending Kristen ke wilayah Tapanuli Selatan dan Mandailing.
Gereja ini awalnya merupakan bagian dari jemaat HKBP sebelum GKPA berdiri sebagai sinode tersendiri. Bangunannya memadukan unsur kolonial dengan kearifan lokal budaya Mandailing.
Berlokasi di daerah pegunungan, GKPA Pakantan menawarkan suasana tenang dan penuh makna, menjadikannya destinasi wisata sejarah dan rohani yang menenangkan. Berada di tempat ini seolah mengajak pengunjung mengenang lagu legendaris *Gereja Tua* yang syahdu.
4. GKE Imanuel Mandomai, Kalimantan Tengah
Kalimantan juga memiliki gereja bersejarah, salah satunya GKE Imanuel Mandomai di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Gereja ini didirikan pada 3 Desember 1876 dan menjadi salah satu gereja tertua di Pulau Kalimantan.
Gereja ini menjadi titik awal penyebaran agama Kristen Protestan di kalangan masyarakat Dayak oleh para misionaris asal Jerman. Arsitekturnya memadukan gaya Indis Eropa dengan unsur Dayak, terlihat dari penggunaan kayu ulin sebagai bahan utama bangunan.
Di bagian altar terdapat tiga panel kaca patri yang dibuat di Jerman pada 1910. Kini, GKE Imanuel Mandomai telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah.
5. Gereja Katedral Reinha Rosari, Larantuka
Berikutnya adalah Gereja Katolik Katedral Reinha Rosari di Larantuka, Flores Timur. Gereja ini menjadi ikon penting perkembangan agama Katolik di Indonesia Timur dan dikenal luas berkat tradisi Semana Santa yang telah berlangsung sejak abad ke-16.
Katedral ini dibangun pada 1884, meski bangunan yang berdiri saat ini telah mengalami renovasi modern. Arsitekturnya tetap mencerminkan warisan kolonial dan perannya sebagai pusat Keuskupan Larantuka.
Setiap menjelang Paskah, ribuan peziarah dan wisatawan memadati Larantuka untuk mengikuti prosesi Semana Santa, dengan Katedral Reinha Rosari sebagai pusat perayaan.
6. Gereja Sentrum Manado (GMIM Manado)
Di Sulawesi Utara, terdapat Gereja Sentrum Manado atau GMIM Manado, gereja tertua di ibu kota provinsi tersebut. Gereja ini berdiri sejak 1677 dan menjadi bagian penting dari sejarah Kota Manado.
Bangunannya menampilkan arsitektur kolonial yang megah dan terawat, dengan pilar-pilar besar serta menara lonceng yang menjadi salah satu landmark kota. Lokasinya yang berada di pusat kota membuat gereja ini mudah diakses oleh umat maupun wisatawan dari berbagai wilayah.
7. Gereja Tua Hila, Ambon
Maluku juga menyimpan jejak sejarah kekristenan yang kuat melalui Gereja Tua Hila atau GPM Ebenhaezer. Gereja ini berlokasi di Desa Hila, Kabupaten Maluku Tengah, dan menjadi saksi bisu penyebaran agama Kristen di wilayah penghasil rempah-rempah tersebut.
Didirikan pada abad ke-17 oleh VOC, bangunan gereja ini memiliki arsitektur khas kolonial Belanda dengan dinding tebal dan jendela besar. Di dalamnya tersimpan berbagai benda bersejarah, seperti Alkitab tua berbahasa Belanda dan lonceng gereja kuno.
8. Pulau Mansinam, Papua Barat
Di Papua Barat, terdapat Pulau Mansinam yang menjadi situs bersejarah dan sakral bagi umat Kristiani di Tanah Papua. Pulau ini merupakan lokasi pendaratan pertama misionaris Jerman Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler pada 5 Februari 1855.
Meski bukan berbentuk gereja, Pulau Mansinam memiliki monumen Yesus Kristus dan kompleks gereja yang menjadi pusat ziarah serta peringatan tahunan Hari Pekabaran Injil setiap 5 Februari. Pulau ini kerap disebut sebagai “Pulau Peradaban Papua”.
Itulah delapan destinasi wisata gereja bersejarah di Indonesia yang dapat menjadi pilihan menarik untuk liburan Natal. Tempat-tempat tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak hanya umat Kristiani, terutama bagi mereka yang tertarik mempelajari sejarah, arsitektur, dan nilai toleransi antarumat beragama.
Saat berkunjung, tetap perhatikan aturan dan etika. Meski menjadi destinasi wisata, gereja tetaplah tempat ibadah yang sakral dan patut dihormati. Jadilah wisatawan yang bijak di mana pun berada.