Direktur Bina Haji Ditjen PHU Kemenag Arsyad Hidayat saat bersilaturrahim dengan para pimpinan FK KBIHU di Masjid Hotel 602, Jarwal, Makkah, Sabtu (8/6/2024). Foto: Erakini/Fajar WH
MAKKAH, (ERAKINI) - Sebanyak 25 persen jemaah haji Indonesia atau sekitar 55.000 orang, akan ikut skema murur (melintas) di Muzdalifah yang mulai diberlakukan pada tahun ini. Untuk itu, Kementerian Agama (Kemenag) meminta Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (FK KBIHU) ikut membantu mengedukasi .
"FK KBIHU adalah mitra Kemenag. Karenanya, kami berharap bapak dan ibu dapat turut serta memberikan edukasi bagi jemaah terkait murur ini,” ujar Direktur Bina Haji Ditjen PHU Kemenag Arsyad Hidayat saat bersilaturrahim dengan para pimpinan FK KBIHU di Masjid Hotel 602, Jarwal, Makkah, Sabtu (8/6/2024).
Dalam kesempatan itu Arsyad menyampaikan apresiasi atas peran KBIHU yang selama ini telah melakukan pembimbingan terhadap jamaah haji Indonesia. Namun, dia juga mendorong kepada pimpinan KBIHU untuk terus melakukan penguatan bimbingan kepada jemaahhaji 2024.
"Saya minta KBIHU mengisi ruang-ruang tersebut, memberikan penguatan dan hikmah dari haji itu," katanya.
Menurut dia, para ulama zaman dulu, ketika pulang ke Tanah Air, bisa membuat perubahan di tengah masyarakat. Di antaranya ulama besar asal Banten, Syekh Nawawi Al Bantani.
Karena itu, dia berharap jemaah haji Indonesia yang telah mendapatkan bimbingan dari KBIHU juga bisa membuat perubahan ketika tiba di Tanah Air. "Jadi tidak hanya berbicara enak banget makannya, kamar hotenya bagus," kata Arsyad.
Dalam forum silaturtahim ini, dia pun menyosialisasikan rencana dan skema penyelengaraan ibadah haji tahun ini, khususnya terkait murur di Muzdalifah pada saat Puncak Haji 2024. Rangkaian ibadah di Armuzna tahun ini akan dimulai sejak 15 Juni 2024 atau 9 Dzulhijjah 1444 H.
Dia menjelaskan, kebijakan murur ini diambil dalam rangka menjaga dan menyelamatkan jiwa seluruh jemaah haji Indonesia serta kemaslahatan bersama.
"Mengingat, kalau kebijakan ini tidak dipilih, maka pasti akan terjadi kepadatan yang luar biasa di Muzdalifah. Semuanya sudah diperhitungkan oleh pemerintah,” ujar Arsyad.
Namun, lanjut dia, sebaik apapun kebijakan ini disusun, jika tidak didukung oleh seluruh mitra, maka tidak akan berhasil dengan baik.
Turut hadir dalam pertemuan ini Kepala Daerah Kerja Makkah Khalilurrahman, Kasi Bimbingan Ibadah Daker Makkah Imam Khoiri, para Konsultan Ibadah Daker Makkah, serta Pengurus FK KBIHU se-Indonesia.
Murur adalah mabit l yang dilakukan dengan cara melintas di Muzdalifah, setelah menjalani wukuf di Arafah. Jemaah saat melewati kawasan Muzdalifah tetap berada di atas bus atau tidak turun dari kendaraan, lalu bus langsung membawa mereka menuju tenda Mina.
Skema murur ini rencananya diikuti oleh 25 persen jemaah haji Indonesia atau sekitar 55.000 orang. Mereka yang akan diprioritaskan ikut dalam skema murur ini adalah para jemaah dengan risiko tinggi (risti), lanjut usia (lansia), disabiltas, serta para pendamping lansia.
“Jemaah yang masuk dalam kelompok murur, akan mulai diberangkatkan dari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah mulai pukul 19.00 WAS. Ini KBIHU harus paham dan harus tahu sehingga bisa membantu menyiapkan jamaahnya yang ikut murur agar siap pada waktu tersebut,” kata Arsyad.
Ketepatan waktu pemberangkatan murur ini, kata dia, menjadi salah satu kunci keberhasilan skema pergerakan jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). “Agar bisa berjalan seperti yang kita harapkan, maka peran edukasi bagi jamaah amat penting. Kami berharap, KBIHU dapat mengisi ruang edukasi tersebut,” kata Arsyad.
Jika skema ini berhasil dijalankan, kata Arsyad, seluruh jemaah haji Indonesia telah berada di Mina sebelum tengah hari pada 10 Dzulhijjah.