Rektor UIN Banten Prof Muhammad Ishom (kedua dari kanan) menunjukan dokumen kerja sama dengan pimpinan perguruan tinggi dari Malaysia hingga Brunei. Kegiatan digelar di sela-sela Pertemuan Tahunan ke-15 dan Konferensi Internasional Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (25/6/2026). (Foto: UIN Banten)
TANGERANG SELATAN, (ERAKINI) - Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten turut ambil bagian dalam Pertemuan Tahunan ke-15 dan Konferensi Internasional Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 24-25 Juni 2026.
Dalam forum perguruan tinggi Islam tingkat Asia tersebut, UIN Banten juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan Letter of Intent (LoI) dengan sembilan perguruan tinggi ternama dari Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.
AIUA merupakan asosiasi perguruan tinggi Islam di Asia yang dibentuk untuk memperkuat kerja sama antarkampus, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memperluas jejaring akademik. Organisasi ini beranggotakan puluhan perguruan tinggi Islam dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, hingga Maladewa.
Tahun ini, konferensi internasional AIUA mengangkat tema "Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development". Tema tersebut menyoroti pentingnya transformasi pendidikan tinggi Islam dalam mendukung perdamaian global, ketahanan, dan pembangunan yang inklusif.
Acara dibuka dengan pemaparan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla serta Ketua BKSAP DPR RI Ace Hasan Syadzily sebagai pembicara kunci. Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyoroti berbagai peluang sekaligus tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi Islam di era global saat ini.
Usai sesi pembukaan, konferensi dilanjutkan dengan sejumlah diskusi paralel yang menghadirkan akademisi dan pakar dari kawasan Asia Tenggara. Beberapa di antaranya yakni Prof Dr Sukree Langputeh dari IIT Thailand, Prof Noorhaidi dari UIN Yogyakarta, Dr Hambali Jaili dari Unissa Brunei, Prof Dr Wan Sabri dari USAS Malaysia, serta Prof Dr Mujiburrahman dari UIN Antasari Banjarmasin.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Dr Muhammad Ishom, menilai forum AIUA menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran perguruan tinggi Islam di tingkat regional maupun global.
"Konferensi ini adalah pertemuan akademik yang sangat penting untuk menata kembali peran universitas Islam di Asia Tenggara. Islam adalah agama mayoritas, namun apakah Islam sudah diinternalisasi dengan baik sehingga memberikan warna dan manfaat untuk higher education di Asia Tenggara dan beyond," ujar Prof Ishom, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, keikutsertaan UIN Banten dalam AIUA 2026 menjadi bagian dari komitmen kampus untuk terus membangun kolaborasi internasional demi mewujudkan pendidikan tinggi Islam yang inklusif, tangguh, dan berkontribusi terhadap perdamaian dunia.
"Kegaitan konferensi ini juga memberikan kesempatan bagi AIUA untuk dapat melakukan jalinan kerjasama baik dalam bentuk MOU atau LOI," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Office of International Affairs (OI) UIN Banten, Dr Siti Solehah, menjelaskan kerja sama yang diteken oleh Rektor UIN Banten mencakup berbagai bidang akademik.
"Kerja samanya terkait point research, visiting lecture, students mobility," ucapnya.
Adapun output kerja sama tersebut, kata Siti Solehah diharapkan dapat memperluas jejaring internasional UIN Banten sekaligus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi melalui kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, dan kegiatan akademik lintas negara.