Monumen Plataran di Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, menjadi saksi ketangguhan dan kegigihan para taruna MA Yogya, dalam pertempuran melawan Belanda tahun 1949. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Indonesia yang sebentar lagi memperingati HUT ke-79, melewati dua masa perjuangan melawan penjajah, yakni sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan. Pada masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan, terdapat satu peristiwa sejarah penting di Sleman, Yogyakarta, yakni Pertempuran Plataran.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda nyata-nyatanya masih tetap melakukan agresi militer. Monumen Perjuangan Taruna di Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, menjadi saksi ketangguhan dan kegigihan para kadet () Militer Academy Yogyakarta (MA Yogya), dalam pertempuran melawan Belanda.
Peristiwa Plataran merupakan bukti patriotisme dan heroisme para taruna MA Yogya (cikal bakal Akmil Magelang) dalam melawan penjajah Belanda demi mempertahankan kedaulatan NKRI.
Pertempuran Plataran terjadi pada 24 Februari 1949 di Dukuh Plataran, Kalasan, Yogyakarta. Pertempuran itu menyisakan duka mendalam dengan merenggut 2 perwira remaja, 5 taruna, 1 anggota tentara pelajar, dan warga masyarakat sekitar.
Dikutip dari sejumlah sumber sejarah, Jumat (9/8/2024), pascaagresi militer kedua pada 19 Desember 1948, Ibu Kota RI di Yogyakarta dikuasai Belanda. Pejuang kemerdekaan Indonesia kemudian menyingkir ke Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan sekitarnya. Setelah mengetahui beberapa markas tentara Indonesia berada di Sleman, Belanda menggelar operasi seperti di Kalasan, Turi, Pakem, dan Godean.
Operasi di wilayah timur, di antaranya di Bogem-Kalasan mengakibatkan beberapa desa didatangi tentara Belanda. Banyak pejuang Indonesia gugur pada 24 Februari 1949, diantaranya 2 perwira remaja, 5 taruna, 1 anggota tentara pelajar,dan masyarakat.
Pertempuran Plataran berawal dari gugurnya Letnan Abdul Jalil yang sedang berpatroli di Sambiroto berpapasan dengan Belanda. Kala itu Letnan Abdul Jalil gugur tertembak.
Belanda lalu menggeledah pakaian Letnan dan menemukan buku harian. Di buku harian tersebut tercatat semua markas-markas tentara Indonesia di Kalasan.
Malam 22 Februari 1949, Belanda menyerang markas di wilayah Bogem. Namun karena tentara Indonesia sebelumnya telah mengetahui Belanda akan menyerang, tentara Indonesia segera berkemas dan lari ke utara.
Pertempuran di Bogem terjadi selama 3 jam, dan pejuang Indonesia memberikan perlawanan. Mereka sembunyi di antara tanaman padi. Namun karena Belanda memiliki pesawat, mereka menjatuhkan bom kepada tentara Indonesia, sehingga menewaskan beberapa taruna MA dan perwira.
Setelah pertempuran hebat itu, tentara Belanda melakukan pembersihan. Mereka menangkap pimpinan TNI, Letnan Husein. Mereka memenggal kepala Letnan Husein karena mengira dirinya adalah orang Jepang.
Peristiwa ini membuat taruna AM marah dan berujung serangan terhadap pos Belanda di Bogem pada 23 Februari 1949 malam. Setelah itu, pertempuran besar-besaran pun tidak terelakkan.
Tak hanya para anggota TNI yang sudah terlatih dan punya pangkat di militer, para calon-calon tentara yang tergabung dalam M Yogya terjun ke medan perang.
Kisah perjuangan taruna AM Yogya juga sebenarnya telah dimulai sejak awal kemerdekaan. Dimulai sejak pertempuran di Surabaya pada November 1945, dan terus berlanjut di Front Jawa Barat tahun 1946, serta berbagai pertempuran lainnya.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka dibuatlah simbolis patung yang berdiri pada Monumen Plataran guna menghormati dan mengenang Letnan Husein. Monumen Plataran dibangun pada tahun 1982.
Di dalam Monumen Plataran ini, selain terdapat patung simbolis Letnan Husein yang dipotong tubuhnya dengan tinggi mencapai 5 meter, juga terdapat 8 patung taruna naik burung garuda yang sedang memanjatkan doa kepada yang Maha Kuasa agar para arwah pejuang diterima, dua buah joglo yang melambangkan bulan ke dua yakni Februari, 24 buah anak tangga, dan ukiran kaca bertulis MA atau Militer Academy.