Letjen TNI Mohamad Hasan resmi menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat () menggantikan Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa setelah serah terima jabatan pada Selasa (20/8/2024). Sertijab itu dipimpin langsung Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.
Mengutip laman resmi kostrad.mil.id, Jumat (23/8/2024), Mohamad Hasan merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1993. Ia adalah prajurit infanteri yang mengawali karirn di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.
Lulus dari Akmil, Hasan bertugas sebagai Komandan Unit Grup 1/Para Komando Kopassus di Serang. Selanjutnya menjadi Komandan Batalyon Infanteri Raider Khusus 114/Satria Musara (2009-2011).
Hasan pernah menjabat Komandan Kodim 0104/Aceh Timur hingga tahun 2013 sebelum kembali ke Korps Baret Merah. Ia lalu dipercaya menjadi Wakil Asisten Personel Komandan Jenderal Kopassus.
Pada tahun 2014, Hasan bertugas di luar Kopassus menjadi Asrena Paspampres dan pada tahun 2016, ia dipromosikan menjadi Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Karirnya terus menanjak hingga menjadi Komandan Korem 061/Surya Kencana dan Wadanjen Kopassus pada tahun 2019.
Tahun 2020, Hasan dipromosikan menjadi Danjen Kopassus. Pada tahun 2021, ia menduduki kursi Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda/Aceh (Pangdam IM) dan Pangdam Jayakarta merangkap Dankogartap I/Jakarta (2023-2024).
Diolah dari sejumlah sumber, Hasan merupakan kelahiran Bandung, 13 Maret 1971. Ia berasal dari keluarga bersuku Minangkabau, dengan leluhur dari Jorong Gantiang Koto Tuo, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ayahnya, Nazir Zubir, adalah seorang mantan anggota TNI, sedangkan ibunya bernama Asni.
Pada usia yang relatif muda, Hasan pindah ke kampung halaman keluarganya di Canduang untuk melanjutkan pendidikan. Ia memulai sekolah di SMP Negeri Simpang Candung pada tahun 1984 dan lulus 1987. Ia kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 1 IV Angkat Candung, yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 1 Ampek Angkek dan lulus tahun 1990.
Semasa SMA, Hasan dikenal dengan julukan "Si Doel" karena keterampilannya dalam menulis. Tulisan-tulisannya sering dipajang di mading sekolah, menunjukkan bakatnya yang menonjol dalam bidang tersebut.
Dikutip dari laman resminya SMAN 1 Ampek Angkek, sekolah ini pada awalnya merupakan filial dari SMAN 1 Bukittinggi. Pada 9 Maret 1982, SMAN 1 Ampek Angkek ditetapkan secara definitif sebagai sekolah yang bediri sendiri dengan nama SMA Empat Angkat Candung.
Seiring perjalanan waktu dengan telah terpenuhinya semua persyaratan untuk berdirinya sebuah sekolah menengah setingkat SMA, maka pada 9 Maret 1982 dengan nama SMA N 1 Empat Angkat Candung secara resmi dinyatakan berdiri sendiri yang pada waktu itu diresmikan langsung oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonsia Daoed Yoesoef.
SMAN 1 Ampek Angkek juga pernah mengalami beberapa kali penyesuaian pergantian nama, yakni SMUN 1 Empat Angkat dan terkhir dengan nama sekarang SMAN 1 Ampek Angkek, yang dipakai sampai sekarang.