Peter Berkowitz, akademisi pro-Israel yang memicu kontroversi usai diundang orasi ilmiah di Universitas Indonesia (UI). (Foto: Instagram/The Bradley Foundation).
JAKARTA, (ERAKINI) - Kehadiran Peter Berkowitz di Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu, 23 Agustus 2025, memicu perdebatan publik. Akademisi yang berafiliasi dengan Stanford University ini dikenal luas sebagai tokoh yang vokal mendukung Zionisme sehingga undangannya sebagai pembicara dalam di Balairung , Depok menimbulkan sorotan dan kritik dari berbagai pihak.
Saat ini, Berkowitz menjabat sebagai Tad and Dianne Taube Senior Fellow di Hoover Institution, sebuah lembaga kajian kebijakan publik yang berbasis di Stanford. Hoover Institution memiliki reputasi sebagai salah satu think tank paling berpengaruh di Amerika Serikat, dengan fokus pada isu-isu seperti kebebasan individu, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas global.
Di sana, Berkowitz aktif dalam penelitian serta terlibat dalam forum-forum kerja yang membahas topik seperti kewarganegaraan modern, sejarah militer dan tantangan demokrasi kontemporer.
Selain perannya di Hoover, ia juga menjabat sebagai Direktur Studi di The Public Interest Fellowship (TPIF), sebuah program pengembangan kepemimpinan yang dirancang untuk para lulusan muda yang tertarik pada isu demokrasi liberal dan tata pemerintahan konstitusional. Melalui TPIF, Berkowitz turut memengaruhi pembentukan generasi pemimpin muda di sektor kebijakan publik dan pemerintahan Amerika.
Berkowitz memulai perjalanan pendidikannya di Swarthmore College dengan gelar Sarjana Sastra Inggris. Ia kemudian melanjutkan studi ke Hebrew University of Jerusalem, Israel, dan menyelesaikan gelar Magister Filsafat di kampus yang didirikan oleh tokoh-tokoh ternama seperti Albert Einstein dan Chaim Weizmann.
Pendidikan lanjutannya ditempuh di Yale University, tempat ia meraih gelar Juris Doctor (JD) serta PhD Ilmu Politik. Fokus akademiknya kemudian mengerucut pada bidang-bidang seperti politik Timur Tengah, konstitusionalisme, keamanan nasional, pendidikan liberal, dan konservatisme Amerika.
Selama berkarier sebagai akademisi dan peneliti, Berkowitz aktif menulis di berbagai media seperti RealClearPolitics, dengan topik yang sering menyentuh isu-isu geopolitik sensitif. Tulisan-tulisannya mengangkat tema seputar konflik Israel-Hamas, intervensi Iran, serta peran akademisi konservatif dalam pendidikan tinggi AS.
Ia juga telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain: - Explaining Israel: The Jewish State, the Middle East, and America
- Constitutional Conservatism: Liberty, Self-Government, and Political Moderation
- Israel and the Struggle over the International Laws of War
Karya-karya tersebut memperkuat citranya sebagai pemikir yang pro-Israel dan berseberangan dengan narasi politik progresif dalam hal kebijakan luar negeri.
Di luar dunia akademik, Berkowitz juga sempat menjabat di lingkungan pemerintahan. Selama masa jabatan pertama Presiden As Donald Trump, ia ditunjuk sebagai Direktur Perencanaan Kebijakan di Departemen Luar Negeri AS (2019–2021).
Ia juga menjabat sebagai sekretaris eksekutif Komisi Hak Asasi yang Tidak Dapat Dicabut serta penasihat senior untuk Menteri Luar Negeri. Dalam peran-peran tersebut, ia terlibat langsung dalam penyusunan strategi kebijakan luar negeri, khususnya yang berkaitan dengan Timur Tengah, hak asasi manusia dan diplomasi global.