Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Ismed Hasan Putro meninggal dunia pada Senin (24/6/2024) malam, di Bandung. Foto: Ist
BANDUNG, (ERAKINI) - Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (Ketum IPHI) Ismed Hasan Putro meninggal dunia pada Senin (24/6/2024) malam, di Bandung. Sebelum meninggal, Ismed dikabarkan sakit setelah terjatuh di rumahnya.
Selama hidupnya, Ismed dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia sukses mengembangkan bisnis properti hingga membangun pondok pesantren di Lembang Bandung.
Pria kelahiran 15 Januari ini ini merupakan alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN), atau sekarang berganti nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Ia kemudian melanjutkan kuliah S2 ke Universitas Indonesia (UI) di Jakarta.
Ismed Hasan Putro diangkat sebagai Ketua Umum IPHI pada Agustus 2018. Ismed terpilih kembali secara aklamasi menjadi Ketua Umum IPHI dalam Muktamar VII yang berlangsung di Surabaya 21-22 Agustus 2021.
Sebelum menjadi Ketua Umum IPHI, Ismed pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) selama 3 tahun.
Selama menjabat Dirut RNI, Ismed kerap bermalam di kantor usai memimpin rapat hingga larut malam. “Saya terbiasa bekerja keras karena faktor orang tua dan lingkungan. Juga, kombinasi tumbuh di Palembang dan Surabaya membuat saya terbiasa seperti ini,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Ismed menapaki karier dengan mencoba peruntungannya dengan menjadi pebisnis. Mimpinya dimulai saat dia ingin membuat sebuah jalan tol yang berada di Surabaya di Bawah bendera PT Jaya Makmur Konstruksindo.
Saat mimpinya tersebut kandas, Ismed tidak patah arang. Dia kembali melakukan kerja sama bisnis dengan Setiawan Jodi untuk mengembangkan perkebunan jati. Sayang, bisnisnya tersebut tidak dapatbertahan lama. Dia akhirnya harus mengundurkan diri dan beralih dengan mengembangkan bisnis gula.
Kiprahnya di BUMN bermula ketika diajak salah satu petinggi di Kementerian BUMN untuk menjadi anggota Kebijakan Publik di kementerian itu. Setelah menjadi anggota Kebijakan Publik , pada tahun 2008 Ismed ditunjuk menjadi Komisaris RNI.
Jadi, Ismed mendapat posisi awalnya sebagai Komisaris di PT RNI, baru pada 2012 menjadi Dirut setelah lulus fit and proper test. Begitu jadi Dirut RNI, Ismed memberlakukan ketentuan baru yang bersifat penghematan. Fasilitas pesawat untuk direksi tidak lagi di kelas bisnis, tetapi kelas ekonomi.
Direksi dari anak-anak perusahaan PT RNI yang sedang menjalankan tugas dan dinas ke Jakarta juga tidak diperkenankan menginap di hotel berbintang. Tetapi, cukup tidur di rumah dinas Dirut PT RNI yang tidak dipakai, yakni di Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta. Bagi staf daerah yang bertugas ke Jakarta juga menginap di mes kantor di Jalan Jatinegara, Jakarta.
Sejumlah terobosan perubahan lain yang dilakukan Ismed saat menduduki posisi Dirut RNI antara lain melakukan revitalisasi berbagai pabrik gula yang dimiliki perseroan serta mengembangkan bisnis ritel.
Ismed merupakan mantan wartawan dua media nasional. Ia pernah menjadi tenaga peneliti di Kompas selama kurang lebih dua tahun, sebelum bergabung dengan Jawa Pos Group sebagai redaktur pelaksana Koran Jawa Pos. Selama bekerja sembilan tahun di Jawa pos group, Ismed banyak belajar dari Dahlan Iskan.
Sebagai mantan wartawan, Ismed mengakui latar belakang jurnalistiknya sangat membantu dalam memimpin entitas bisnis sekelas RNI maupun usaha yang dikembangkan sebelumnya. Terutama dalam pemetaan masalah dan bagaimana berinteraksi dengan karyawan.
Setelah selesai tugas dari RNI, Ismed banyak berkiprah di IPHI. Ismed mengaku sangat merindukan Baitullah setelah 3 tahun tidak umrah lantaran sibuk mengurus RNI. Selain menjadi Ketum IPHI, Ismed juga mengurus bisnis propertinya di Bandung dan Lombok, serta perkebunan sawit di Riau.