SEMARANG, (ERAKINI) - Fakta-fakta dibalik meninggalnya peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dokter Aulia Risma Lestari (30) terus menyeruak ke publik. Korban yang bunuh diri karena diduga tidak tahan dengan perundungan oleh senior-seniornya tersebut ternyata sempat mau mengundurkan diri.
Tante korban, Vieta, mengatakan, korban berencana mengundurkan diri karena masalah kesehatan yang dialaminya. Namun, kata dia, dokter Aulia, yang merupakan penerima beasiswa PPDS dari Kementerian Kesehatan, harus mengajukan pengunduran dirinya dengan sepengetahuan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. Sayangnya, ucap dia, Menkes, saat itu belum bisa menemui ia dan korban.
"Kita sudah sempat ke Kemenkes, dalam arti untuk pengunduran diri. Cuma memang kebetulan Pak Menteri mungkin masih sibuk ya, atau belum sempet nemuin kita," ungkap Vieta pada Rabu (28/8/2024) kemarin.
Tak hanya itu, saat pertemuan di Kemenkes, dokter Aulia justru bertemu dengan pejabat lain yang memberikan informasi kurang jelas terkait proses pengunduran dirinya.
Vieta mengatakan, baru setelah pihak Kemenkes mendatangi rumah duka, keluarga mengetahui bahwa pengunduran diri dari PPDS tidak dikenai biaya penalti.
"Padahal kita baru tau penjelasan dari Kemenkes, tidak ada aturan untuk mengganti penalti tersebut," tuturnya.
Lebih lanjut, Vieta menceritakan bahwa dokter Aulia sering mendapat tekanan dari para senior selama masa pendidikannya di PPDS. Bahkan, dokter Aulia pernah diminta untuk membelikan rokok di tengah malam dan menyiapkan makanan untuk seniornya dengan biaya pribadi.
"Sampai ibaratnya mama papa Risma sempat ada pikiran mau jual sawah juga, untuk kebutuhan," tambahnya.
Selain itu, beredar pula rekaman suara dokter Aulia saat menjalani PPDS Anestesi di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Rekaman tersebut ditujukan untuk ayahnya, Mohamad Fakhruri (65), dan dikirimkan melalui WhatsApp.
Dalam rekaman tersebut terdengar suara tangisan dokter Aulia yang mengaku tidak kuat menjalani PPDS.
Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Semarang, Kompol Andika Dharma Sena, mengaku bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah rekaman yang beredar tersebut benar merupakan suara dokter Aulia. Proses penyelidikan masih terus berjalan, dan polisi berjanji akan mengungkapkan hasilnya secepat mungkin.
"Nanti tunggu (keterangan) Kapolrestabes Semarang (Kombes Irwan Anwar) satu pintu semua ini," ucapnya, dikutip dari TribunJateng.com.
Mantan kuasa hukum keluarga dokter Aulia, Susyanto, juga membenarkan bahwa rekaman yang viral di media sosial tersebut mirip dengan suara dokter Aulia. Meski tak lagi menjadi kuasa hukum keluarga dokter Aulia, Susyanto mengetahui kedekatan antara dokter Aulia dengan ayahnya.
“Intinya ada yang tidak suka dengan saya yang ingin mengawal kasus ini sampai selesai. Padahal (kasus) ini masih setengah jalan,” ujarnya.
Susyanto pun memastikan keaslian rekaman suara tersebut, karena sudah diserahkan kepada penyidik Polrestabes Semarang. "Benar itu suara asli (Aulia) lewat chatting WhatsApp antara korban dengan ayahnya," jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kondisi kesehatan Mohamad Fakhruri menurun drastis setelah mengetahui putrinya, dokter Aulia, meninggal dunia.
"Makanya ayahnya langsung sakit sampai ikut meninggal dunia," katanya.
Diketahui, kasus tewasnya dokter Aulia Risma Lestari masih dalam proses penyelidikan oleh Polrestabes Semarang. Dokter Aulia ditemukan tewas di kamar kosnya pada Senin (12/8/2024).
Dugaan kuat menyebutkan bahwa dokter Aulia mengalami perundungan selama menjalani PPDS Anestesi di Undip, Semarang, Jawa Tengah. Namun, hingga saat ini, penyidik belum menyimpulkan adanya perundungan dan masih terus mencari bukti-bukti terkait.
Hanya berselang 16 hari setelah kematian dokter Aulia, ayahnya, Mohamad Fakhruri, juga meninggal dunia karena sakit, setelah mengikuti prosesi pemakaman putrinya.