JAKARTA, (ERAKINI) - Sosok Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan kini resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional setelah Presiden RI Prabowo Subianto menganugerahkan penghargaan tersebut dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). Penganugerahan itu bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Dari sepuluh tokoh yang mendapat gelar tahun ini, dua di antaranya merupakan ulama besar Nahdlatul Ulama (NU), yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Syaikhona Kholil Bangkalan. Keduanya dinilai berjasa besar dalam perjuangan, pengabdian, serta pembangunan bangsa di bidang pendidikan, kemanusiaan, dan keagamaan.
Profil Syaikh Kholil
Dirangkum dari berbagai sumber, Syaikh Kholil adalah guru para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakhi KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri. Ulama kharismatik yang biasa disapan Mbah Kholil ini lahir pada 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M di Bangkalan, Madura.
Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Gunung Jati. Sejak kecil, Mbah Kholil dididik ketat dalam tradisi keilmuan Islam dan menunjukkan kecerdasan luar biasa.
Di usia muda, ia telah menguasai Nazham Alfiyah Ibnu Malik, seribu bait puisi yang membahas tata bahasa Arab (nahwu). Semangatnya menuntut ilmu membuatnya berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa Timur, mulai dari Langitan (Tuban), Cangaan (Bangil), hingga Keboncandi dan Sidogiri (Pasuruan).
Mbah Kholil dikenal sebagai sosok yang sangat mandiri. Meski berasal dari keluarga cukup berada, ia menolak bergantung pada orangtua. Selama nyantri, ia bekerja sebagai buruh batik untuk mencukupi kebutuhannya.
Selain ahli nahwu dan fiqh, ia juga seorang hafidz al-Qur’an yang menguasai qira’at sab’ah atau tujuh cara membaca Al-Qur’an. Ketekunannya dalam belajar membuatnya disegani di kalangan santri dan ulama pada masanya.
Hasrat menimba ilmu membawanya ke Tanah Suci Mekkah pada tahun 1859 M. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia menabung dari hasil bekerja sebagai pemetik kelapa di Banyuwangi. Sebelum berangkat, ia menikah dengan Nyai Asyik, putri dari Lodra Putih.
Di Mekkah, Mbah Kholil berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Utsman ad-Dimyathi, dan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Ia juga sempat bekerja sebagai penyalin kitab untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Konon, bersama Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Shaleh Darat Semarang, Mbah Kholil turut menyusun kaidah penulisan huruf Arab Pegon.
Sepulang dari Mekkah, Mbah Kholil dikenal sebagai ahli fiqh dan tarekat yang mampu memadukan keduanya secara seimbang. Ia mendirikan pesantren pertama di Desa Cengkebuan, tak jauh dari tempat kelahirannya di Bangkalan.
Setelah menikahkan putrinya, Siti Khatimah, dengan Kiai Muntaha, pesantren di Cengkebuan diserahkan kepada sang menantu. Ia kemudian mendirikan pesantren baru di Kademangan, sekitar 200 meter dari alun-alun Bangkalan.
Dari pesantren ini, pengaruh Mbah Kholil semakin meluas. Santri-santrinya datang dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa. Salah satu muridnya yang paling terkenal adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Mbah Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H atau tahun 1925 M. Namun, jejak perjuangan dan keilmuannya terus hidup melalui ribuan santri yang ia didik dan pesantren-pesantren yang lahir dari murid-muridnya.
Kini, seratus tahun setelah wafatnya, negara memberikan penghargaan tertinggi atas jasa dan keteladanannya sebagai ulama kharismatik, pendidik sejati, dan guru para pendiri bangsa.