Tim santri putri cabang lomba Debat Bahasa Inggris dari Kafilah Bali bersama pendamping. (Foto: Erakini/Akhmad Baihaqi Arsyad)
LAMONGAN (ERAKINI) – Timpeserta santri putri dari Bali sabet juara 1Debat Bahasa Inggris di Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN) yang digelar di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Mereka berhasil menempati posisi terbaik pertama setelah bersaing sengit dengan tim lawan dari seluruh Indonesia.
Mengawali perjalanannya, Kezia Ardiana (16), Vina Aisyah (17), Aura Marina (18) yang merupakan peserta dari mendapatkan jadwal tanding di hari ketiga. Sambil menunggu giliran, ketiga santri putri mendapatkan pembinaan intensif dari pendampingnya sebelum tampil di babak penyisihan sembari mereka memantau bagaimana perkembangan jalannya pada ajang .
“Awal pertandingan kami melawan kontingen dari Sumatera Utara. Alhamdulillah malamnya diumumkan bahwa kami mendapatkan peringkat nilai teratas. Kemudian kami kontingen Bali dijadwalkan kembali untuk melawan kontingen Riau ke keesokan harinya,” katanya.
Setelah menghadapi Riau, mereka dinyatakan lolos dan kemudian melanjutkan ke babak final. Mereka harus berhadapan dengan tim dari Jawa Timur untuk memperebutkan juara satu dan dua.
“Deg degan banget rasanya. Kami sudah melakukannya dengan semaksimal mungkin dan terakhir hanya berharap yang terbaik.Dan alhamdulillah hasilnya insyaAllah memuaskan,” kata sudah Kezia Ardiana setelah pengumuman juara Senin (17/7/2023).
“Aduh rasanya kayak nggak expect banget awalnya. Kami kaya agak ragu. Ragu kalau kita bakal turun peringkat, tapi ternyata kita dapatnya juara satu. Jadi alhamdulillah,” tambah Vina.
“Alhamdulillah sangat memuaskan. Alhamdulillah Allah mengizinkan kami untuk mendapatkan juara satu debat bahasa Inggris,” ujar Aura Marina.
Mereka menceritakan bahwa awalperjalanan para santriwati bersama rombongan dari Bali menuju acara MQKN 2023 yang berlokasi di Jawa Timur tak begitu mulus dan sempat khawatir akan terlambat tiba di lokasi. Keberangkatan pesawat sempat mengalami delay. “Kami dari sana pagi sekali setelah subuh sudah berangkat tapi keberangkatan pesawat ada delay,” jelas Kezia.
Di akhir kata, mereka mengucapkan terimakasih banyak untuk MQKN 2023 sangat memberikan banyak pelajaran dan memberikan banyak pengalaman sebagai ajang yang dapat melatih kemampuan kami para santri Indonesia. Dari MQKN mereka belajar agar selalu berpikir open minded terhadap sesuatu karena Islam itu indah dan Islam itu sungguh terbuka.
“Kami selalu percaya bahwa santri itu mempunyai kemampuan yang juga luar biasa,” ujar Kezia.
Mereka berharap MQKN ke depan bisa terus menjaga kredibilitasnya, kualitas dan kestabilannya dalam pelaksanaannya agar dapat terus mengembangkan potensi potensi santri santri Indonesia dalam pemahaman kitab kuning.
“Mereka dari background keluarga yang berbeda beda. Ada yang orang tuanya mualaf hindu, mualaf Kristen, mualaf Budha,” katanya.
Sehingga, lanjutnya, otomatis ketika Ia harus nge-drill mereka mengenai materi agama agak sulit. Menurutnya, untuk kompetensi mereka di speaking bagus, namun untuk pendalaman materinya berat karena semua tema debat adalah materi agama, butuh penguatan dalam akidah.
“Mereka masih belum bisa bahasa Arab, membaca bahasa Arab, menulis Arab seperti bismillah pun masih sulit. Dan ini harus berhubungan dengan materi yang jauh dari kemampuan mereka, tapi mereka struggling, mereka berusaha betul, mereka belajar dari nol ketika harus menghapal satu ayat, memahami per ayat itu luar bisa usaha mereka,” ujar Ike.
Ia tak henti-hentinya berusaha meyakinkan pada mereka bahwa mereka bisa dan selalu menekankan bahwa winning itu bonus. Karena melihat background dari keluarga mereka, kendalanya hanyalah dalam pendalaman materi yang mereka tentu dua kali lebih sulit daripada yang muslim yang sudah kenal namun mereka tetap semangat strugglingnya kuat.
Dia berharap apa yang mereka pelajari untuk menyiapkan materi ini bisa menjadi hidayah untuk meguatkan akidah mereka, dengan menerapkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan selama belajar intensif ke dalam kehidupan mereka dan membuat mereka menjadi muslim yang kaffah.
“MQKN itu mediator yang mungkin akan sangat membantu untuk melunakkan es batu untuk menjadi cair. Pemikiran-pemikiran yang mungkin selama ini dinilai oleh masyarakat umum ‘saklek’ bisa direkontekstualisai dan diterima masyarakat umum. Jadi saya belajar banyak di sini karena basically saya bukan orang agama. Saya hanya guru bahasa Inggris, tetapi ketika saya mendalami itu oh ternyata niatnya begini. Jadi isi kitab kuning yang luar biasa yang tidak gampang dipelajari oleh orang awam itu bisa ditransformasikan kepad saya yang awam ini, dan ini menjadi pengalaman pribadi saya,” ungkapnya.
Ia merasa beruntung menjadi bagian dari MQKN 2023 karena banyak hal baik yang ia terima. Ia juga “Semoga menjadi pengalama spiritual bagi saya,” pungkasnya. Dan Rombongan kafilah Bali telah kembali ke Pulau Dewata, Selasa (18/7/2023) dini hari.