Masjid Agung Sunan Ampel di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Masjid Agung Sunan Ampel merupakan salah satu masjid di Indonesia yang selalu ramai didatangi menjelang dan saat memasuki bulan puasa Ramadhan. Selama Ramadhan, jumlah pengunjung bisa meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata mencapai 2.000 orang.
Bagi peziarah atau peminat wisata religi, kawasan Sunan Ampel sudah sangat dikenal. Masjid ini adalah masjid yang paling terkenal dan suci bagi umat Muslim di Surabaya, setelah Masjid Akbar Surabaya.
Bahkan banyak wisatawan yang datang juga dari China, Prancis, Belanda, Italia, Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, Brunei Darussalam, Filipina, Jerman, Yunani, Selandia Baru, Korea, dan Jepang. Umumnya mereka melihat bentuk bangunan Masjid Sunan Ampel kemudian berziarah ke makam Sunan Ampel.
Pada saat bulan Ramadhan, pengunjung akan bisa mencapai 10.000-20.000 pada pada saat ’maleman’ (malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 Ramadhan).
Mengutip laman duniamasjid.islamic-center, Kamis (7/3/2024). Masjid Sunan Ampel merupakan masjid tertua ketiga di Indonesia yang didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel, dibantu sahabat karibnya Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, serta santrinya.
Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 120 x 180 meter persegi di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel), Kecamatan Semampir, Surabaya, sekitar 2 km ke arah Timur Jembatan Merah. Tidak disebut kapan selesainya pembangunan Masjid Ampel ini. Sunan Ampel juga mendirikan Pondok Pesantren Ampel. Sejak tahun 1972 Kawasan Masjid Agung Sunan Ampel telah ditetapkan menjadi tempat wisata religi oleh Pemkot Surabaya.
Masjid Sunan Ampel dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami. Masjid ini masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan Hindu-Budha lewat arsitektur bangunannya.
Di masjid ini saat itu sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan wali dari berbagai daerah di Jawa untuk membicarakan ajaran Islam sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa.
Masjid Ampel berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jawa Timur dan diyakini memiiki ‘karomah’. Seperti disebut dalam cerita masyarakat, saat pasukan asing menyerang Surabaya dengan senjata berat dari berbagai arah dan menghancurkan kota Surabaya namun tidak menimbulkan kerusakan sedikitpun pada Masjid Ampel bahkan seolah tidak terusik.
Sunan Ampel adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah, seorang figur yang alim, bijak, berwibawa, dan banyak mendapat simpati dari masyarakat.
Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi, salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur.
Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu.
Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya. Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.
Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam. Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel.
Sunan Ampel memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun masjid untuk media dakwahnya yang kini dikenal sebagai Masjid Ampel. Di tempat inilah Sunan Ampel menghabiskan masa hidupnya hingga wafat tahun 1481 dan makamnya terletak di sebelah kanan depan Masjid Ampel.
Di komplek pemakaman Masjid Sunan Ampel terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga makam Mbah Soleh, pembantu Sunan Ampel yang bertugas membersihkan masjid. Keberadaan Kedua Makam tersebut tidak lepas dari cerita tutur dari masyarakat setempat. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974.
Komplek Makam Sunan Ampel dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Di sini Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar selluas 64 meter persegi. Khusus Makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.
Di sekeliling masjid terdapat lima gapuro (pintu gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Dari arah selatan, tepatnya di Jalan Sasak terdapat pintu gerbang pertama yang bernama Gapuro Munggah.
Gapuro Munggah merupakan simbol dari Rukun Islam yang kelima, yaitu Haji. Di sebelah selatan masjid terdapat Gapuro Poso (puasa). Gapuro Poso memberikan suasana pada bulan Ramadhan.
Setalah melewati Gapuro Poso, kita akan masuk ke halaman masjid. Di halaman ini tampak bangunan masjid yang megah dengan menara yang menjulang tinggi. Bangunan menara masjid ini masih berupa asli-nya sebagaimana saat didirikan oleh Sunan Ampel di abad ke 14.
Gapuro selanjutnya adalah Gapuro Ngamal (beramal). Gapuro Ngamal menyimbolkan rukun islam yang ketiga yaitu zakat. Disini orang dapat bersodaqoh, dan hasil sodaqoh dipergunakan untuk perawatan dan biaya kebersihan masjid dan makam.
Bangunan berikutnya adalah Gapuro Madep. Gapuro Madep ini letaknya tepat di sebelah barat bangunan induk masjid. Gapuro madep menyimbolkan rukun islam yang kedua yaitu sholat, dengan menghadap (madep) ke arah kiblat.
Bangunan Gapuro yang kelima adalah Gapuro Paneksen, yang merupakan simbol dari rukun islam yang pertama yaitu Syahadat. Paneksen berarti ‘kesaksian‘, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Gapuro Paneksen adalah pintu gerbang masuk ke makam.
Papan peringatan yang terpampang di kawasan ini menjadi panduan bagi pengunjung supaya berlaku sopan, tidak shalat di area pemakaman, dan berdoa hanya kepada Allah. Di area pemakaman juga sangat dianjurkan untuk melepas sepatu ataupun sandal, serta dilarangnya pengunjung berada di area pemakaman pada setiap waktu shalat berjamaah.
Masjid Sunan Ampel telah mengalami perluasan sebanyak tiga kali yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Kini luas salah satu masjid tua di Indonesia itu mencapai 1.320 meter persegi dengan panjang 120 meter dan lebar 11 meter.