Stamford Bridge bersiap menyambut duel panas Chelsea vs Barcelona pada matchday kelima fase liga Liga Champions Eropa, Rabu (26/11) dini hari pukul 03.00 WIB. Foto: Ilustrasi/Dok UEFA
Dilansir laman resmi Chelsea, Selasa (25/11/2025), rivalitas kedua klub tidak hanya di tim putra, tapi juga tim putri hingga akademi.
Bermarkas di London barat dan Catalonia, Chelsea dan Barcelona mungkin tidak terlihat sebagai rival alami. Ada alasan geografis dan domestik mengapa para pendukung The Blues tidak pernah melupakan gol ke gawang Tottenham atau kemenangan di Anfield, dan hal serupa berlaku bagi Blaugrana saat menghadapi Espanyol atau Real Madrid.
Namun, rangkaian duel ketat dan sarat tens idi level tertinggi, kerap memunculkan banyak emosi di lapangan maupun tribun setiap kali Chelsea dan Barcelona saling berhadapan.
Dalam sepekan ini, kedua klub bentrok dalam laga penting di tim putra, putri, dan level usia. Duel dimulai pada 20 November ketika Chelsea Women menjamu Barcelona di Liga Champions Wanita dengan hasil imbang 1-1.
Selanjutnya, giliran tim U-19 Chelsea menghadapi Blaugrana di UEFA Youth League hari ini dengan status pemuncak klasemen usai menyapu empat kemenangan. Puncaknya, skuad putra Chelsea akan menjamu Barcelona di Liga Champions dini hari nanti, dimana saat ini kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin.
Kemenangan terbaru yang bisa menjadi inspirasi The Blues terjadi pada 2024, ketika gol Erin Cuthbert membuat Chelsea menjadi tim pertama yang mengalahkan Barcelona Femeni di semua kompetisi musim itu, serta memberikan kekalahan kandang pertama bagi tim Spanyol tersebut sejak Februari 2019.
Barcelona tak menerima kekalahan itu dan bangkit untuk menang agregat 2-1 di Stamford Bridge. Chelsea kembali kesulitan saat bertemu Barcelona di Liga Champions Wanita musim lalu, dengan kekalahan kandang dan tandang yang membuat mereka tersingkir di semifinal oleh tim Catalan untuk musim kedua berturut-turut.
Tentu saja, Barcelona adalah alasan mengapa Chelsea belum pernah mengangkat trofi tersebut. Satu-satunya final yang dicapai terjadi pada 2021, ketika tim Catalan menang 4-0, dengan seluruh gol tercipta pada babak pertama di Swedia.
Fakta itu tidak hilang dari ingatan para pemain Chelsea yang kala itu terlibat, dan mereka berusaha membalasnya di Bridge pada 20 November. Namun, gol spektakuler awal Ellie Carpenter segera dibalas oleh Eva Pajor yang bereaksi cepat dalam kemelut di kotak penalti. Skor akhir: 1-1.
Persaingan Sengit Akademi
Bahkan persaingan akademi kedua klub pun tak kalah sengit. Barcelona lama mengklaim La Masia sebagai akademi terbaik dunia. Tetapi Cobham telah menjadi penantangnya setelah meraih banyak trofi di level tersebut, baik domestik maupun internasional.
Hasilnya, Chelsea dan Barcelona menjadi dua tim yang pernah menjuarai UEFA Youth League lebih dari sekali, meski Barcelona kini unggul setelah meraih gelar ketiga musim lalu.
Salah satu kemenangan Barcelona datang pada final 2018, ketika tim kuat yang diperkuat Reece James, Conor Gallagher, Marc Guehi, dan Callum Hudson-Odoi kalah 3-0 di Nyon.
Namun, Chelsea membalas di semifinal musim berikutnya, ketika Charlie Brown dan Luke McCormick mencetak gol dalam hasil imbang 2-2. Pada adu penalti, Tino Anjorin tetap tenang untuk mengantar Chelsea ke final. Tentu saja, rivalitas ini bermula jauh sebelum pertemuan di Liga Champions Wanita dan Youth League.
Rivalitas Dimulai Tahun 1965
Tim putra pertama kali bertemu pada Piala Fairs 1965/66 (sebelum bernama Liga Europa). Debut Eropa Chelsea berjalan mulus, termasuk kemenangan berkesan atas Roma, AC Milan, dan juara Jerman 1860 Munich, sebelum kalah 2-0 pada leg pertama semifinal di markas Barcelona.
Namun, The Blues memiliki rencana, merasa gaya bermain langsung khas Inggris bisa menang di Bridge. Barcelona marah melihat kondisi lapangan dan menganggapnya tidak layak dimainkan.
Mereka mungkin punya alasan. Ron Harris, yang enam tahun kemudian menjadi kapten Chelsea saat meraih trofi Eropa pertama, mengklaim bahwa pemadam kebakaran diminta menyiram lapangan untuk memperlambat gaya umpan-umpan Barcelona.
Blaugrana naik pitam dan, berkat tekel-tekel keras Harris dkk, kehilangan kontrol. Mereka bermain dengan 10 orang akibat kartu merah sebelum jeda dan mencetak dua gol bunuh diri yang membuat agregat imbang.
Sayangnya, itulah titik terbaik Chelsea, karena pada laga ulang di Camp Nou, Barcelona menang 5-0 dan kemudian juara kompetisi tersebut.
Era Frank Lampard vs Ronaldinho
Butuh waktu lama hingga bertemu lagi, tetapi Barcelona kembali menghentikan debut Eropa Chelsea saat pertama kali tampil di Liga Champions pada 1999/2000.
Setelah melewati dua fase grup ke perempat final, fans Chelsea berada di awang-awang ketika gol Gianfranco Zola dan dua gol Tore Andre Flo membawa kemenangan 3-1 di Bridge pada leg pertama.
Chelsea bermain luar biasa, sesuatu yang dibuktikan kemudian ketika Xavi menyebut Jody Morris sebagai lawan terberat yang pernah ia hadapi.
Namun, lagi-lagi Chelsea tersandung di Camp Nou. Mereka tinggal tujuh menit dari semifinal setelah Flo membalas gol Rivaldo dan Luis Figo, tetapi Dani mencetak gol untuk memaksa perpanjangan waktu, setelah Rivaldo gagal mengeksekusi penalti di menit akhir.
Di babak tambahan, Rivaldo akhirnya mencetak penalti, Celestine Babayaro dikartu merah, dan Patrick Kluivert memastikan Barcelona unggul dua gol dan melaju.
Kedua tim kembali bertemu tiga musim beruntun di Liga Champions, masing-masing meraih kemenangan di babak 16 besar sebelum dua duel fase grup pada 2007 yang dikenang lewat gol-gol indah Frank Lampard dan Ronaldinho.
Era Didier Drogba vs Lionel Messi Rivalitas semakin memanas pada 2009 saat Chelsea dan Barcelona bertemu di semifinal Liga Champions. Pertahanan Chelsea yang solid ditambah performa gemilang Petr Cech mematikan trio berbahaya Barcelona, yakni Lionel Messi, Thierry Henry, dan Samuel Eto’o, yang total mencetak 90 gol musim itu.
Temperatur meninggi ketika Michael Ballack dan Florent Malouda terlibat insiden dengan Henry dan Dani Alves, tetapi semua itu tidak ada apa-apanya dibanding leg kedua.
Kontroversi yang terjadi masih dikenang hingga kini. Chelsea unggul lebih dulu lewat tendangan voli sensasional Michael Essien dan Eric Abidal diusir keluar lapangan.
Ketegangan memuncak setelah Chelsea tiga kali tidak mendapat penalti, lalu Andres Iniesta mencetak gol di menit ke-93, mengubah kemenangan menjadi kekalahan akibat aturan gol tandang yang kini sudah dihapus.
The Blues marah besar, empat kartu kuning dikeluarkan di akhir laga, dan Didier Drogba mendapat hukuman tambahan dari UEFA akibat protesnya.
Pengalaman itu menjadi pemanasan sempurna untuk semifinal 2012. Semua orang tahu bagaimana akhirnya Chelsea menjuarai Liga Champions pertama setelah mengalahkan Bayern Munich di final.
Kemenangan tipis di leg pertama di Bridge berkat gol Drogba menjadi pembeda. Namun, yang paling dikenang adalah leg kedua, ketika Chelsea yang bermain dengan 10 orang tertinggal dua gol, sebelum chip brilian Ramires membuat mereka unggul lewat gol tandang dan Fernando Torres menutup laga dengan gol ikonik setelah melewati Victor Valdes.
Kini, Chelsea dan Barcelona kembali saling berhadapan. Dengan sejarah sengit yang panjang dan deretan momen berkesan, duel ini dipastikan menghadirkan tensi panas, drama, dan potensi lahirnya babak baru dalam rivalitas klasik dua klub Eropa tersebut.