Manchester United (MU) berhasil menghentikan laju tak terkalahkan Chelsea di Premier League musim ini. Foto: Premier League
MANCHESTER, (ERAKINI) – Manchester United (MU) berhasil menghentikan laju tak terkalahkan Chelsea di Premier League musim ini. Bermain di Old Trafford yang diguyur hujan deras, Minggu (21/9/2025) dini hari WIB, Setan Merah menang 2-1 dalam laga penuh drama yang diwarnai dua kartu merah pada babak pertama.
Bruno Fernandes membuka keunggulan pada menit ke-14, sekaligus mencetak gol ke-100 bersama MU di semua kompetisi dalam laga ke-200-nya di Premier League. Gol itu hadir tak lama setelah kiper Chelsea, Robert Sanchez, diusir wasit karena pelanggaran di luar kotak penalti.
Casemiro menggandakan skor lewat sundulan pada menit ke-37. Namun, gelandang Brasil itu justru mendapat dua kartu kuning beruntun sehingga ikut diusir tepat sebelum turun minum.
Chelsea yang juga kehilangan Cole Palmer akibat cedera sempat memperkecil kedudukan lewat sundulan keras Trevoh Chalobah pada menit ke-80. Namun itu menjadi satu-satunya tembakan tepat sasaran The Blues, sekaligus menutup rekor tak terkalahkan mereka di liga musim ini.
Kemenangan ini mengangkat posisi MU asuhan Ruben Amorim ke peringkat sembilan klasemen dengan tujuh poin, hanya terpaut satu angka dari Chelsea di urutan keenam. Hasil ini juga menyelamatkan karier Amorim di Old Trafford setelah hasil buruk di laga sebelumnya.
Jalannya Pertandingan
Dilansir laman resmi Premier League, Chelsea langsung terkena sial saat laga baru berjalan lima menit. Sang kiper, Sanchez, melakukan pelanggaran terhadap Bryan Mbeumo di luar kotak penalti dan langsung mendapat kartu merah. Ini menjadi kartu merah tercepat bagi klub London itu di Premier League.
Memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Fernandes mencetak gol setelah menerima umpan sundulan Patrick Dorgu. Chelsea makin tertekan usai Palmer ditarik keluar menit ke-21, lalu Casemiro memperbesar keunggulan United dari jarak dekat setelah kesalahan Reece James.
Tetapi, momentum MU buyar setelah Casemiro mendapat kartu merah ganda di penghujung babak pertama. Chelsea sempat menyamakan kedudukan lewat sundulan Wesley Fofana, tetapi gol dianulir karena offside. Gol Chalobah pada menit ke-80 hanya memperkecil kekalahan.
Tekanan Amorim Mereda
Setelah kekalahan telak 0-3 di derby Manchester, Amorim sangat membutuhkan kemenangan ini. “Setiap kemenangan di momen seperti ini sangat penting, apalagi melawan lawan besar. Kami memulai laga dengan cara yang tepat, sangat agresif,” ujar Amorim.
Sementara Chelsea kini kehilangan rekor tak terkalahkan di liga setelah sebelumnya juga kalah di Liga Champions dari Bayern Munich. Absennya Palmer dan kurangnya kecepatan di lini depan membuat pasukan Enzo Maresca kesulitan menciptakan peluang.
“Kartu merah setelah tiga menit mengubah pertandingan. Setelah mereka juga bermain dengan 10 orang, kami seharusnya bisa memanfaatkan situasi lebih baik,” ucap sang pelatih Enzo Maresca.
Taktik Jitu Amorim
Penulis sepak bola Alex Keble menilai kemenangan Setan Merah tak lepas dari taktik jitu Amorom. Sementara Maresca kesulitan mengendalikan laga karena Old Trafford diguyur hujan deras.
"Kemenangan 2-1 Manchester United atas Chelsea menjadi bukti kekuatan visi Ruben Amorim dalam laga yang sarat drama khas Setan Merah ketika tampil di level terbaiknya," ucapnya dikutip dari laman resmi Premier League.
Namun, seiring jalannya pertandingan, dengan kartu merah, gol, dan pergantian pemain yang terus terjadi, suasana menegangkan itu berubah menjadi kekacauan penuh. Lapangan basah membuat para pemain sering kesulitan mengalirkan bola ke depan, dan hujan deras pun seolah jadi simbol dari laga liar nan seru selama 90 menit di Manchester.
Pertandingan ini bahkan mencatat sejarah, yakni untuk pertama kalinya di Premier League, babak pertama menyajikan minimal dua gol, dua kartu merah, dan dua pergantian pemain.
Petaka Perubahan Taktik Maresca
Seperti beberapa laga sebelumnya, United tampil agresif sejak menit awal. Amorim kembali menerapkan strategi start cepat dan langsung menyerang. Taktik sederhana long ball – flick-on lewat Benjamin Sesko berbuah malapetaka bagi The Blues. Sanchez diganjar kartu merah di awal laga.
Maresca bereaksi dengan menarik Pedro Neto dan Estevao Willian, memasukkan kiper pengganti, lalu mengubah skema ke 5-3-1. Namun, keputusan itu justru menghilangkan kecepatan di sayap, membuat Joao Pedro terisolasi di lini depan, dan mengirim sinyal negatif kepada para pemainnya. Chelsea pun mundur terlalu dalam, membiarkan United menekan dengan pola 3-4-3 khas Amorim sejak di Sporting.
Hasilnya, Chelsea kebobolan dua gol karena terlalu banyak pemain menumpuk di area kotak penalti. "Andai mereka bertahan agresif dengan formasi 4-4-1, bisa jadi ceritanya berbeda," katanya.
Menghadapi 10 pemain, United semakin percaya diri. Amad Diallo, Bryan Mbeumo, dan Sesko berlari langsung ke jantung pertahanan Chelsea. Sementara Matthijs de Ligt dan Luke Shaw beberapa kali maju hingga ke area tengah lawan – bagian dari strategi Amorim yang jarang terlihat.
Memasuki babak kedua, momentum MU sempat goyah usai Casemiro dikartu merah, terutama di 20 menit terakhir. Maresca mencoba formasi 4-3-2 yang agak aneh, sementara hujan deras membuat pertandingan makin kacau.
Chelsea akhirnya memperkecil kedudukan lewat sundulan indah Trevoh Chalobah, tetapi gol itu hanya menjadi hiburan. Tanpa Cole Palmer yang cedera dan tanpa kecepatan di lini depan (Garnacho dibiarkan di bangku cadangan), Chelsea tak punya daya gedor.
Pada akhirnya, Manchester United tampil lebih baik secara keseluruhan. Amorim berhasil memanfaatkan keunggulan taktis, sementara Maresca gagal merespons dengan tepat.
"Sepak bola kadang ditentukan oleh strategi, kadang oleh irama permainan yang tak bisa dikendalikan, entah itu hujan deras atau kartu merah. Kali ini, keduanya berpihak pada United," tegasnya.