Salah dan Mane yang pernah menjadi rekan setim di klub Liga Inggris, Liverpool, akan menjadi tumpuan negaranya di semifinal Piala Afrika 2025, Kamis (15/1/2026) dini hari. Foto: Dok AFP
JAKARTA, (ERAKINI) – Juara terbanyak Piala Afrika, Mesir, akan menghadapi Senegal pada Kamis (15/1/2026) dini hari pukul 00.00 WIB, untuk memperebutkan satu tempat di final TotalEnergies Africa Cup of Nations (AFCON) 2025 Maroko.
Laga semifinal ini sarat emosi yang menjanjikan intensitas tinggi, drama, serta magis khas sepak bola Afrika. Pertemuan kedua raksasa Afrika ini selama bertahun-tahun berlangsung sangat seimbang. Dari 15 pertemuan sebelumnya, Mesir unggul tipis dengan tujuh kemenangan, berbanding lima kemenangan milik Senegal, sementara tiga laga lainnya berakhir imbang.
Di level Piala Afrika, margin persaingan bahkan lebih ketat. Dari lima pertemuan, masing-masing tim mencatat dua kemenangan dengan satu hasil imbang, menegaskan betapa seimbangnya rivalitas ini.
Rivalitas yang Kembali Memanas
Menurut catatan konfederasi sepakbola Afrika, CAF, pertemuan terakhir kedua tim di Piala Afrika terjadi pada final 2021 di Yaounde, laga yang menghadirkan emosi kontras.
Senegal meraih gelar kontinental pertama mereka, sementara Mesir kembali harus menelan kekecewaan dalam upaya memburu mahkota kedelapan sejak terakhir juara pada 2010.
Final tersebut berakhir tanpa gol hingga perpanjangan waktu, sebelum Senegal keluar sebagai pemenang lewat adu penalti yang menegangkan.
Lima tahun berselang, kedua tim kembali berhadapan dengan kenangan duel epik tersebut yang masih membekas. Senegal datang untuk menegaskan status mereka yang kian matang, sementara Mesir hadir dengan misi yang belum tuntas dan hasrat kuat untuk menebus kegagalan.
The Pharaohs Memburu Bintang Kedelapan
Sejak mengangkat trofi pada 2010, Mesir menelan dua kekalahan pahit di final, masing-masing pada 2017 dan 2021. Hasrat untuk kembali ke puncak pun semakin membara. Di Maroko, The Pharaohs melangkah dengan keyakinan tenang, terus mengukuhkan kapasitas mereka lewat performa konsisten.
Kemenangan dramatis 3–2 atas juara bertahan Pantai Gading di perempat final menjadi pernyataan kuat bagi seluruh Afrika bahwa Mesir siap berjuang demi bintang kedelapan yang selama ini menjadi narasi utama mereka.
Mesir memuncaki grup dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang, lalu melaju ke perempat final usai menaklukkan Benin 3–1 di babak 16 besar, sebelum kembali mencetak tiga gol di perempat final.
Di jantung permainan mereka berdiri Mohamed Salah. Masih memburu gelar Piala Afrika pertamanya, penyerang Liverpool itu memimpin dengan teladan, menyumbang empat gol dan satu assist sejauh ini. Pengaruh, kepemimpinan, dan ketajamannya kembali menjadi kunci saat Mesir menghadapi lawan yang sudah sangat dikenal.
“Senegal bukan tim yang menjadi momok bagi tim nasional Mesir. Kami adalah juara Afrika tujuh kali, dan dalam sepak bola tidak ada istilah tim momok. Siapa pun yang menghadapi Mesir selalu bermain dengan rasa takut di hati," ujar pelatih Mesir, Hossam Hassan.
"Kami menghadapi semifinal ini dengan rasa hormat besar kepada lawan, tetapi juga dengan persiapan matang. Kami siap secara mental. Kami tahu tim yang kami hadapi dan kami juga tahu kekuatan kami. Setiap tim punya gaya dan strategi sendiri, dan kami sudah mempersiapkan diri untuk itu.”
Senegal Nyaman, Performa Apik
Bagi Senegal, semifinal ini menghadirkan keuntungan tersendiri. Sementara Mesir harus melakukan perjalanan dari Agadir—tempat mereka bermarkas sepanjang turnamen—Lions of Teranga tetap berada di Tangier, kota yang menjadi lokasi seluruh laga mereka sejauh ini.
Kedekatan dengan stadion, kondisi, dan atmosfer diyakini memberi keuntungan psikologis tersendiri. Seperti Mesir, Senegal juga memuncaki grup sebelum melaju mulus ke babak 16 besar dengan kemenangan 3–1 atas Sudan dalam waktu normal.
Di perempat final, mereka mendapat perlawanan sengit dari Mali yang bermain dengan 10 orang, namun tetap lolos berkat kemenangan tipis 1–0 yang menunjukkan kesabaran dan kontrol permainan.
Kekuatan Senegal lebih menonjol secara kolektif ketimbang individual. Trio lini depan—Iliman Ndiaye, Nicolas Jackson, dan kapten Sadio Mane—tampil efektif dan padu.
Meski Mane baru mencetak satu gol di turnamen ini, kreativitas, pergerakan, dan kepemimpinannya sangat krusial dalam membongkar pertahanan lawan. Mané tercatat sebagai pencipta peluang terbanyak bersama di AFCON kali ini dengan 14 peluang, sejajar dengan Ademola Lookman, sementara Salah menyusul dengan 12 peluang.
“Kami mempersiapkan laga ini dengan kedisiplinan penuh, tanpa memberi ruang pada gangguan apa pun yang bisa mengalihkan fokus. Kami tahu akan menghadapi tim Mesir yang sangat kuat, mungkin yang paling bertabur bintang di Afrika, dengan kedisiplinan taktik dan kematangan mental dari pengalaman panjang di level ini," kata sang pelatih, Pape Thiaw.
"Kami menyambut tantangan ini dengan rasa hormat besar, tetapi juga ambisi yang nyata. Kami bertekad menang dan lolos ke final. Di atas segalanya, kami tetap setia pada filosofi bermain kami, karena kami yakin itulah kunci yang bisa membuat perbedaan,” lanjutnya.
Duel Teman Lama
Sub-plot yang familiar kembali tersaji saat Mane berhadapan dengan mantan rekan setimnya di Liverpool, yakni Mohamed Salah, dua ikon yang memikul harapan besar negara masing-masing.
Ambisi menyerang Senegal akan diuji oleh pertahanan Mesir yang terkenal rapi dan tangguh, menciptakan panggung duel taktik dan emosi, di mana setiap momen bisa menjadi penentu.
Dalam semifinal yang dibentuk oleh sejarah dan dipacu oleh gengsi, ini adalah laga di mana sedikit saja kelengahan bisa berujung penyesalan. Hanya satu tim yang akan melangkah lebih dekat menuju kejayaan Afrika.
Salah dan Mane pernah menjadi rekan setim di klub Liga Inggris, Liverpool, pada periode 2017–2022, tampil bersama sebanyak 223 pertandingan. Mane mencatat 18 assist untuk Salah, sementara Salah menyumbang 17 assist untuk Mané.
Mohamed Salah telah lima kali menghadapi Senegal tapi belum pernah mencetak gol, dengan catatan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan tiga kekalahan. Sadio Mane juga lima kali menghadapi Mesir, mencetak satu gol, dengan torehan tiga kemenangan, satu imbang, dan satu kekalahan.