Kontroversi Petinju Aljazair yang Disebut Transgender, Komite Olimpiade Internasional: Dia Terlahir Perempuan
Akhmad Baihaqi Arsyad



PARIS, (ERAKINI) – Di tengah kontroversi isu transgender dalam Olimpiade 2024, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memberikan pembelaan terhadap kelayakan petarung di kejuaraan tinju putri kepada petinju Aljazair Imane Khelif (25). IOC mengizinkan masuknya Khelif yang mana pada tahun 2023 sempat gagal memenuhi kriteria kelayakan gender.
IOC menyebut bahwa Khelif selalu berlaga di divisi putri dan diakui oleh pihaknya sebagai atlet putri. “Petinju Aljazair itu terlahir sebagai perempuan, terdaftar sebagai perempuan, menjalani kehidupannya sebagai perempuan, bertinju sebagai perempuan, dan memiliki paspor perempuan,” kata juru bicara IOC Mark Adams, dikutip dari BBC, Sabtu (3/8/2024).
"Ini bukan kasus transgender. Ada beberapa kebingungan bahwa yang terjadi adalah laki-laki berkelahi dengan perempuan. Ini tidak benar. Ada konsensus, secara ilmiah ini bukan laki-laki berkelahi dengan perempuan," katanya.
Di sisi lain, Asosiasi Tinju Internasional (IBA), yang menyelenggarakan kejuaraan tersebut dan memerintahkan diskualifikasi, memberikan sedikit penjelasan mengenai alasan dikeluarkannya petinju tersebut dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa diskualifikasi terjadi setelah “para atlet tidak menjalani pemeriksaan testosteron tetapi harus menjalani tes terpisah. dan ujian yang diakui.” sebagaimana dilansir dari New York Times, Sabtu (3/8/2024).
Asosiasi tersebut mengatakan bahwa tes tersebut, yang rinciannya dirahasiakan, “secara meyakinkan menunjukkan bahwa kedua atlet tersebut tidak memenuhi kriteria kelayakan yang disyaratkan dan diketahui memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan atlet wanita lainnya.”
Aturan-aturan tersebut, yang diadopsi oleh asosiasi tinju untuk Olimpiade Rio 2016, sama dengan aturan yang dijalankan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) sebagai otoritas yang menyelenggarakan turnamen tinju di Olimpiade Paris. Tapi aturannya, IOC dikonfirmasi, tidak menyertakan bahasa tentang testosteron atau pembatasan kelayakan gender di luar satu baris yang mengatakan “tes gender dapat dilakukan.”
Di tengah isu tersebut, Khelif sendiri sempat bercerita tentang pengalamannya tumbuh sebagai seorang anak perempuan di Aljazair dan prasangka yang ia hadapi saat bermain sepak bola bersama anak laki-laki. “Jangan biarkan rintangan menghadang, lawan segala rintangan dan atasi,” ujarnya pada Maret 2024.
“Impian saya adalah meraih medali emas. Jika saya menang, para ibu dan ayah dapat melihat sejauh mana anak-anak mereka dapat melangkah. Saya terutama ingin menginspirasi anak-anak perempuan dan anak-anak yang kurang beruntung di Aljazair,” katanya.
Namun demikian, kritikan dunia pun riuh di media sosial menyusul kemenangan Khelif yang disebut-sebut sebagai transgender di kejuaraan tinju putri kelas 66 kilogram atas lawannya dari Italia Angela Carini (25). Carini memilih mundur usai terkena 2 pukulan keras oleh Khelif dan pertarungan itu pun berakhir dalam waktu 46 detik saja di ronde pertama.
Carini tampil di hadapan media dunia dengan hidung patah pada Kamis (2/8/2024) akibat pukulan keras dari Khelif. Hal ini menjadi polemik dunia karena tenyata Khelif sempat menghadapi diskualifikasi dari kejuaraan dunia 2023 karena gagal dalam tes kelayakan gender. Namun, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memberi wewenang kepada Khelif untuk ikut serta dalam Olimpiade 2024.
Momen mundurnya Carini tepatnya saat dia menerima 2 pukulan selama pertarungan yang mana keduanya merupakan pukulan kanan di ronde pertama. Pukulan pertama mematahkan tali dagu tutup kepalanya, sedangkan pukulan kedua langsung mengenai hidungnya.
Perjalanan Olimpiade Carini harus berakhir hanya dalam waktu 46 detik. Dan dia menangis sembari mengakui bahwa sebelumnya dirinya belum pernah terkena pukulan sekeras itu. Carini mengatakan dia mengakhiri pertarungan untuk “menyelamatkan nyawanya”, tetapi meminta maaf kepada lawannya dari Aljazair pada hari Jumat.
“Jika IOC mengatakan dia bisa bertarung, saya menghormati keputusan itu,” kata Carini dilansir dari BBC, Sabtu (3/8/2024).
Saat ini, Khelif, 25 pun lolos ke perempat final kategori 66 kg putri setelah mengalahkan Carini. Pertarungan Khelif, yang ditinggalkan setelah 46 detik oleh Carini, menyebabkan IOC terus menuai kritikan karena mengizinkan masuknya seorang petinju yang sebelumnya dikatakan gagal memenuhi kriteria kelayakan gender. Kemarahan di dunia maya dan peraturan yang tidak jelas telah membuat penyelenggara kompetisi tinju putri di Paris menghadapi pertanyaan rumit mengenai keadilan dalam olahraga perempuan.





