Search

Presiden Pezeshkian: Kedepankan Jalur Diplomatik namun Militer Iran Siap Lanjutkan Perang

TEHERAN (ERAKINI) – Iran menyatakan siap mengedepankan jalur diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Iran menyebut proposal yang diajukan kepada AS merupakan tawaran yang masuk akal dan murah hati. 

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut negaranya kini menghadapi beberapa pilihan, mulai dari memasuki negosiasi dengan tetap menjaga martabat, kekuatan, dan kepentingan nasional; bertahan dalam situasi tanpa perang maupun perdamaian; hingga melanjutkan konfrontasi militer.

Namun, Pezeshkian menilai langkah paling rasional dan logis bagi Iran adalah melengkapi kemenangan di medan perang melalui jalur diplomasi yang dijalankan dari posisi terhormat dan penuh kekuatan.

“Pilihan yang sesuai dengan kepentingan nasional adalah menyempurnakan kemenangan Angkatan Bersenjata di arena diplomatik dan mengamankan hak-hak rakyat Iran dari posisi yang bermartabat dan kuat,” ujarnya, dilansir Tasnim, Selasa (12/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat bertemu para komandan senior Komando Penegakan Hukum Iran pada Senin (11/5). Dalam pertemuan tersebut, ia menerima laporan mengenai kinerja aparat keamanan selama perang agresi terbaru yang disebut dipaksakan oleh AS dan Israel.

Menyoroti konfrontasi Iran dengan AS dan Israel, Pezeshkian mengatakan rakyat Iran bersama Angkatan Bersenjata berhasil menggagalkan tujuan musuh melalui keteguhan dan kekuatan nasional. Menurut dia, keberhasilan itu memaksa pihak lawan menerima gencatan senjata dan menghentikan agresi militer.

Ia juga menegaskan Republik Islam Iran, meski tidak menaruh kepercayaan kepada pihak lawan, tetap membuka peluang negosiasi berdasarkan prinsip martabat, kebijaksanaan, dan kepentingan nasional.

Pezeshkian memastikan Iran akan tetap mematuhi kewajibannya apabila tercapai kesepakatan yang mempertimbangkan kepentingan rakyat Iran serta pandangan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei.

Proposal Masuk Akal dan Murah Hati
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan proposal Teheran yang diajukan kepada AS merupakan tawaran yang “masuk akal dan murah hati”. Iran, kata dia, hanya menuntut hak-haknya yang sah serta langkah untuk mengakhiri perang yang dipaksakan AS dan Israel, sekaligus memperkuat keamanan kawasan.

Dalam konferensi pers mingguan pada Senin, Esmaeil Baqaei mengatakan Iran tidak meminta konsesi di luar hak hukumnya. Adapun roposal Iran mencakup penghentian perang di kawasan, penghentian aksi pembajakan maritim terhadap kapal-kapal Iran, serta pencairan aset Iran yang telah dibekukan selama bertahun-tahun.

Baqaei menilai usulan terkait jaminan navigasi aman di Selat Hormuz dan upaya menciptakan perdamaian serta stabilitas kawasan tidak bisa dianggap sebagai tuntutan berlebihan maupun tidak bertanggung jawab.

“Seluruh elemen dalam proposal Iran bersifat masuk akal dan murah hati, serta ditujukan demi kepentingan kawasan dan dunia,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh isu yang diajukan Iran semestinya dibahas dalam perundingan. Namun, AS disebut masih bersikeras mengajukan “tuntutan tidak masuk akal” yang dipengaruhi pola pikir rezim Zionis.

Menanggapi laporan yang menyebut Iran dan AS tidak memiliki keinginan melanjutkan negosiasi, Baqaei menegaskan prioritas Teheran saat ini adalah menghentikan perang di semua front, termasuk di Lebanon, menjaga keamanan Selat Hormuz, serta mencegah aksi permusuhan dan blokade terhadap kapal-kapal.

Ia menyebut langkah tersebut sebagai pendekatan yang bertanggung jawab dan rasional di tengah situasi saat ini. Baqaei juga menolak tuduhan AS terhadap Iran. Menurut dia, Teheran telah menunjukkan diri sebagai kekuatan yang bertanggung jawab di kawasan sekaligus menentang intimidasi.

Terkait masa depan perundingan Iran-AS dan kemungkinan serangan baru dari Washington, Baqaei menegaskan Iran siap bertempur bila diperlukan, namun juga akan menempuh jalur diplomatik jika dinilai efektif untuk melindungi kepentingan nasional. “Diplomasi memiliki aturan tersendiri,” katanya.

Bantah Setuju Tarik Material Nuklir
Sumber yang mengetahui proses negosiasi membantah laporan media Barat yang menyebut Iran setuju menarik material nuklir yang telah diperkaya keluar dari negaranya.

Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran itu mengatakan tidak ada satu pun poin dalam proposal Iran kepada AS yang menyatakan Teheran menerima penarikan material nuklir yang diperkaya.

Sumber tersebut juga mengungkapkan Iran menetapkan batas waktu tertentu untuk pencairan dana-dana Iran yang dibekukan. Menurut dia, AS memang menyatakan bersedia mencairkan aset Iran dalam proposalnya. Namun, Teheran menegaskan pencairan itu harus dilakukan dalam jangka waktu yang jelas.

Ia juga membantah klaim sejumlah media yang menyebut Iran mengusulkan moratorium pengayaan nuklir selama 15 tahun. “Klaim tersebut sepenuhnya tidak benar dan hanya bagian dari operasi psikologis,” kata sumber itu.