TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat setelah militer Iran menyatakan kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan Israel. Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menegaskan bahwa negara tersebut memiliki kapasitas militer untuk menjalankan perang intensitas tinggi setidaknya selama enam bulan tanpa henti.
Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, yang menegaskan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam telah menyiapkan logistik, strategi, dan sistem persenjataan untuk menghadapi konflik panjang. Menurutnya, kekuatan militer Iran mampu mempertahankan tempo pertempuran saat ini dalam jangka waktu yang lama.
Naini juga mengungkapkan bahwa hingga kini Iran baru menggunakan rudal generasi awal dalam operasi militernya. Namun dalam waktu dekat, Teheran berencana mengerahkan sistem persenjataan yang lebih canggih dan jarang digunakan, termasuk rudal jarak jauh dengan kemampuan serangan lebih presisi.
Ia menambahkan bahwa berbagai operasi Iran selama konflik telah menargetkan ratusan fasilitas yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan. Serangan-serangan tersebut menjadi sinyal bahwa Iran tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memberikan tekanan signifikan kepada lawan-lawannya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Israel akan melanjutkan operasi militernya terhadap Iran dengan kekuatan penuh. Ia bahkan menyebut tujuan utamanya adalah menghancurkan kepemimpinan Iran setelah terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan yang dikaitkan dengan operasi Amerika Serikat dan Israel.
Namun, para analis menilai upaya menggulingkan sistem politik Iran bukanlah perkara mudah. Laporan intelijen Amerika sendiri menyebut bahwa struktur politik dan militer Iran cukup solid sehingga serangan militer besar sekalipun belum tentu mampu menjatuhkan pemerintahan di Teheran.
Di Teheran, sejumlah pejabat tinggi Iran menilai strategi Washington justru berbalik menjadi jebakan bagi Amerika Serikat. Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, menuding pemerintahan Donald Trump mencoba mengulangi skenario yang pernah diterapkan terhadap Venezuela.
Menurut Larijani, Amerika Serikat awalnya mengira serangan militer akan dengan cepat menjatuhkan pemerintahan Iran. Namun kenyataannya, konflik justru berkembang menjadi perang yang lebih luas dan kompleks.
Iran Peringatkan Negara Tetangga
Ketua lembaga peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, juga memberikan peringatan keras kepada negara-negara Timur Tengah yang dianggap memberikan dukungan kepada pihak lawan. Ia menegaskan bahwa target-target yang terlibat, baik secara terbuka maupun diam-diam, dapat menjadi sasaran serangan lanjutan.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perluasan konflik. Namun ia menekankan bahwa Teheran akan memberikan respons tegas jika wilayah negara lain digunakan sebagai basis untuk menyerang Iran.
Di tengah meningkatnya eskalasi, sejumlah negara besar mulai menyuarakan keprihatinan. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa perang di Timur Tengah seharusnya tidak pernah terjadi dan memperingatkan bahwa kekuatan militer tidak bisa dijadikan dasar pembenaran politik internasional.
Meski berbagai seruan diplomasi mulai bermunculan, para analis memperingatkan bahwa konflik ini masih jauh dari penyelesaian. Dengan kesiapan militer Iran untuk menghadapi perang panjang dan tekanan militer yang terus berlanjut dari pihak Barat, kawasan Timur Tengah kini berada di salah satu titik paling tegang dalam sejarah geopolitik modern.