TEHERAN, (ERAKINI) – Angkatan Laut (AL) Iran melancarkan serangan drone besar-besaran yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dan fasilitas militer Israel. Serangan ini disebut sebagai balasan atas agresi militer gabungan AS–Israel.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis Sabtu (7/3/2026), Angkatan Darat Republik Islam Iran menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari operasi balasan terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi militer AS dan Israel.
Angkatan Laut Iran dilaporkan mengerahkan drone untuk menyerang sejumlah target strategis, termasuk konsentrasi pasukan dan pangkalan militer AS di Abu Dhabi, Kamp Udairi di Kuwait, serta fasilitas radar di pangkalan udara strategis Israel di Sdot Micha, wilayah yang disebut Iran sebagai wilayah pendudukan.
Militer Iran menegaskan bahwa operasi balasan akan terus berlanjut hingga pihak lawan “menyesali tindakannya”.
Konflik ini memanas setelah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye militer mematikan menyusul terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil, dalam serangan gabungan di Teheran pada 28 Februari.
Menurut Iran, serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas militer dan sipil serta menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar. Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap target AS dan Israel di kawasan tersebut.
Negara yang Bantu AS-Israel Target Sah
Di tengah eskalasi konflik, juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan bahwa negara mana pun yang memfasilitasi agresi militer terhadap Iran akan dianggap sebagai target sah.
Ia menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen menjaga keamanan negara-negara tetangga, namun pangkalan yang digunakan oleh pihak lawan untuk menyerang Iran akan menghadapi tindakan militer.
“Setiap lokasi yang dijadikan titik awal agresi terhadap Republik Islam akan dianggap sebagai target sah,” kata Shekarchi, dikutip dari kantor berita semi-resmi Iran yang berbasis di Teheran, Tasnim.
Ia menambahkan bahwa negara yang tidak memberikan wilayah udara, daratan, atau sumber dayanya kepada pihak yang memusuhi Iran tidak akan menjadi sasaran serangan.
Namun, negara yang mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai target oleh Angkatan Bersenjata Iran.
Serangan Drone ke Pangkalan Udara Al Dhafra
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengumumkan bahwa unit drone Angkatan Lautnya melancarkan serangan besar terhadap Pangkalan Udara Al Dhafra pada Sabtu pagi.
Menurut IRGC, sejumlah target penting di pangkalan tersebut berhasil dihantam, termasuk pusat komando perang udara Amerika, pusat komunikasi satelit, radar peringatan dini, dan radar pengendali tembakan.
Al Dhafra merupakan salah satu pangkalan udara terbesar di kawasan Teluk Persia dan berfungsi sebagai pusat pengendalian operasi udara Amerika di wilayah tersebut, termasuk di sekitar Selat Hormuz.
Kapal Tanker Dihantam di Selat Hormuz
Di perkembangan lain, sebuah kapal tanker minyak bernama Prima dilaporkan dihantam drone bunuh diri di Selat Hormuz pada Sabtu pagi.
IRGC menyatakan serangan tersebut terjadi setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang dari Angkatan Laut IRGC terkait larangan melintas dan kondisi keamanan yang dinilai tidak aman di selat strategis tersebut.
Iran menyebut Selat Hormuz telah berada di bawah pengendalian selama delapan hari terakhir setelah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat.
Teheran juga menegaskan bahwa kapal tanker dan kapal komersial yang berafiliasi dengan negara-negara yang dianggap bermusuhan tidak diizinkan melintas di jalur pelayaran penting tersebut.