Search

Bersiap Perang! Iran Tambah 1.000 Drone Hadapi Jet Tempur AS yang Berkumpul di Perairan Teluk

TEHERAN, (ERAKINI) – Iran bersiap total untuk menghadapi serangan militer Amerika Serikat (AS). Iran telah menambah 1.000 drone strategis baru untuk menangkal jet tempur AS yang siaga di Perairan Teluk.

“Prioritas Teheran saat ini bukan bernegosiasi dengan AS, melainkan memiliki kesiapan 200 persen untuk mempertahankan negara kami,” kata Kazem Gharibabadi, anggota senior tim perunding Iran, dikutip dari Al Jazeera.

Gharibabadi mengatakan bahwa baru-baru ini telah terjadi pertukaran pesan dengan AS melalui perantara. Namun ia menegaskan, sekalipun kondisi memungkinkan untuk perundingan, Iran akan tetap sepenuhnya siap membela diri, seraya mengingatkan bahwa negaranya sebelumnya diserang pertama oleh Israel lalu oleh AS pada Juni tahun lalu, tepat ketika negosiasi hendak dimulai.

Pada Kamis (29/1/2026), militer Iran mengumumkan bahwa 1.000 drone strategis baru telah bergabung dengan kekuatan mereka. Drone-drone tersebut mencakup drone bunuh diri satu arah, serta pesawat tempur, pengintaian, dan wahana berkemampuan perang siber yang dapat menghantam target tetap maupun bergerak di darat, udara, dan laut, menurut pernyataan militer.

“Seiring dengan ancaman yang kami hadapi, agenda angkatan darat mencakup pemeliharaan dan peningkatan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat serta respons tegas terhadap setiap agresi,” kata Panglima Angkatan Darat Amir Hamati dalam pernyataan singkat.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebelumnya juga membanggakan kemampuannya untuk bertahan dari serangan dan terus meluncurkan rudal balistik serta jelajah ke Israel, maupun aset-aset AS di seluruh kawasan jika diperlukan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan menggelar pembicaraan tingkat tinggi di Turkiye pada Jumat ini, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

Kunjungan tersebut berlangsung di tengah maraknya pertemuan tingkat tinggi, ketika para pemimpin kawasan berharap dapat meyakinkan AS agar tidak melakukan serangan, sekaligus mendorong kedua pihak menemukan semacam kompromi. Baghaei menyatakan, Teheran berupaya secara konsisten memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga berdasarkan kepentingan bersama.

Namun, sebuah armada AS, sebutan yang digunakan Presiden Donald Trump, terus memposisikan diri di dekat perairan Iran, dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln.

Di dalam negeri Iran, para pejabat puncak politik, militer, dan yudisial terus mengirimkan pesan perlawanan, menegaskan bahwa fokus Iran saat ini adalah pertahanan, bukan perundingan.

Di Teheran dan berbagai wilayah lain, warga Iran mengikuti dengan saksama retorika Trump yang kerap bertolak belakang, kembali mengancam namun juga menyatakan kesediaan untuk berbicara.

Para pendukung paling setia Republik Islam tampak teguh mendukung pemerintah, meskipun Washington menyatakan bahwa negara Iran berada pada titik terlemahnya sejak berkuasa hampir setengah abad lalu, menyusul gelombang protes bulan ini yang mengguncang negara dan menewaskan ribuan orang.

“Amerika tidak bisa berbuat apa-apa,” kata seorang perempuan muda kepada i di Teheran, mengulang ungkapan yang kerap disampaikan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan para pejabat puncaknya. “Bahkan jika (naudzubillah) mereka meluncurkan semacam rudal ke arah kami, Republik Islamlah yang akan memberi respons tegas dan meratakan pangkalan mereka,” tegasnya.

Namun, di tengah fokus pemerintah dan para pendukungnya pada potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan Iran terhadap Israel dan AS jika diserang, banyak warga Iran justru cemas akan dampak konflik kedua dalam rentang setahun terhadap kehidupan mereka.

“Saya pikir perang lain akan benar-benar mengerikan bagi kedua negara (Iran dan Israel), dan rakyat negara kami yang akan mati karenanya,” kata seorang perempuan muda lainnya, seorang mahasiswa, dari Teheran pada Kamis.

“Jika perang pecah, kami akan menghadapi kehancuran dan kerusakan. Saya berharap ini tidak terjadi,” kata seorang pria berusia 50-an. Semua narasumber meminta identitas mereka dirahasiakan demi alasan keamanan.

Masoud Delegasikan sebagian Kewenangan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sudah mendelegasikan sebagian kewenangan kepada para gubernur provinsi perbatasan, yang memungkinkan mereka mengimpor barang-barang kebutuhan pokok, terutama pangan, jika perang pecah.

Perhatian juga tertuju pada kebutuhan mendesak akan tempat perlindungan publik untuk melindungi warga Iran dari serangan udara.

Alireza Zakani, anggota parlemen garis keras yang kini menjabat Wali Kota Teheran, menyatakan pada Kamis bahwa pemerintah kota akan membangun tempat perlindungan bawah tanah sebagai proyek prioritas.

Namun, Zakani menyebut proyek tersebut baru akan rampung dalam beberapa tahun ke depan, yang berarti warga Iran sekali lagi akan memiliki sangat sedikit tempat berlindung dari serangan udara jika konflik pecah dalam waktu dekat.

“Saya takut sebentar lagi kami akan kembali terbangun di malam hari oleh suara ledakan keras karena perang,” kata seorang perempuan muda di Teheran, seraya menambahkan bahwa ia dibanjiri gambar dan video memilukan para demonstran yang tewas di seluruh negeri.