MAKKAH, (ERAKINI) - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melakukan pembaruan besar dalam layanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026.
Transformasi dilakukan melalui digitalisasi layanan katering dan peningkatan kualitas gizi makanan untuk menjaga kebugaran jemaah menjelang puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, mengatakan pengelolaan layanan konsumsi tahun ini mulai terintegrasi secara digital. Sistem tersebut mencakup pencatatan distribusi makanan, pemantauan jumlah porsi, hingga verifikasi layanan secara real-time.
“Pada tahun ini pengelolaan data konsumsi mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan,” ujar Indri kepada Tim Media Center Haji (MCH), Senin (11/5/2026).
Menurut dia, sistem digital tersebut membantu percepatan koordinasi sekaligus memudahkan penanganan kendala logistik secara lebih presisi di lapangan.
Digitalisasi layanan dinilai penting karena PPIH harus mengelola distribusi konsumsi dari 51 dapur penyedia makanan menuju 177 hotel yang ditempati 527 kelompok terbang (kloter) jemaah di Makkah.
PPIH bersama penyelia syarikah juga melakukan pengawasan ketat terhadap proses distribusi makanan. Hingga kini, tercatat sebanyak 1.193.534 boks makanan telah didistribusikan kepada jemaah tanpa kendala berarti.
Selain pembaruan sistem, kualitas makanan bagi jemaah juga menjadi perhatian pemerintah. Penyusunan menu dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan gizi, variasi lauk, serta penyesuaian dengan cita rasa khas Indonesia.
“Penyusunan menu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, variasi lauk, dan penyesuaian selera jemaah haji Indonesia,” kata Indri.
Ia menjelaskan, variasi menu diperbanyak agar jemaah tidak mudah bosan dan tetap memiliki selera makan yang baik selama menjalani ibadah di Tanah Suci.
Pemerintah juga menambah asupan nutrisi pelengkap di luar makanan utama harian. Setiap jemaah secara rutin mendapatkan susu, buah segar, dan air mineral untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Di sisi lain, PPIH kini mulai memfokuskan layanan konsumsi untuk menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna. Setibanya di Padang Arafah, jemaah akan mendapatkan tiga botol air mineral sebagai minuman pembuka.
Selama menjalani wukuf di Arafah pada 8 hingga 9 Dzulhijjah, jemaah dijadwalkan menerima maksimal lima kali makan penuh.
Sebelum bergerak menuju Muzdalifah, PPIH juga akan membagikan paket konsumsi tambahan sebagai bekal energi jemaah. Sementara selama berada di Mina pada 10 hingga 13 Dzulhijjah, jemaah akan memperoleh suplai makanan maksimal 10 kali untuk menjaga kondisi fisik selama menjalani rangkaian lontar jumrah.