TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat tajam setelah Iran melontarkan peringatan tegas terhadap rencana Amerika Serikat mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz. Otoritas militer Iran menegaskan bahwa setiap kehadiran pasukan asing, khususnya militer AS, akan dianggap sebagai ancaman langsung dan siap direspons dengan kekuatan penuh.
Peringatan ini muncul tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan operasi maritim yang ia sebut sebagai “Proyek Kebebasan”. Ia mengklaim langkah tersebut bertujuan kemanusiaan, yakni membantu kapal dan awak yang terjebak akibat situasi blokade di jalur strategis tersebut.
Namun bagi Teheran, langkah sepihak itu dinilai sebagai provokasi. Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa setiap upaya membuka jalur pelayaran tanpa koordinasi dengan Iran akan dipandang sebagai pelanggaran serius. Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengawasan penuh Iran, sehingga setiap aktivitas militer asing di wilayah itu berpotensi menjadi sasaran serangan.
Kebuntuan diplomatik antara kedua negara terus berlanjut sejak gencatan senjata konflik Iran melawan AS dan Israel diberlakukan pada 8 April. Salah satu isu paling krusial adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang kini menjadi pusat tarik-menarik kepentingan.
Langkah Iran menutup akses di selat tersebut telah berdampak besar terhadap aliran minyak, gas, dan komoditas penting dunia. Di sisi lain, Washington merespons dengan tekanan balik berupa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memperkeruh situasi ekonomi dan geopolitik.
Meski demikian, Trump dalam pernyataannya mengisyaratkan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Ia mengaku mengetahui adanya komunikasi yang “positif” dengan pihak Iran, walau tidak merinci lebih jauh mengenai proposal damai yang disebut-sebut telah diajukan Teheran.
Sementara itu, militer AS dilaporkan tengah mempersiapkan kekuatan besar untuk mendukung operasi di Hormuz, termasuk kapal perusak bersenjata, ratusan pesawat tempur, sistem tanpa awak, serta puluhan ribu personel.
Di tengah eskalasi tersebut, lembaga keamanan maritim Inggris memperingatkan bahwa tingkat ancaman di Selat Hormuz tetap berada pada level kritis. Para pelaut diminta meningkatkan kewaspadaan dan berkoordinasi dengan otoritas regional guna menghindari risiko konflik terbuka.
Iran sendiri dikabarkan memberikan tenggat waktu bagi negosiasi untuk mencapai kesepakatan pembukaan kembali selat, sekaligus menuntut penghentian tekanan militer dan ekonomi dari pihak AS. Pesan dari Teheran jelas: pilihan ada di tangan Washington, melanjutkan operasi berisiko tinggi atau menerima kesepakatan yang adil.
Tekanan juga datang dari negara-negara Eropa yang khawatir dampak ekonomi akan semakin memburuk jika jalur tersebut tetap tertutup. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, serta Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sama-sama menyerukan solusi diplomatik dan pembukaan kembali jalur pelayaran secara terkoordinasi.
Lonjakan harga energi global yang kini melambung drastis menjadi bukti betapa vitalnya Selat Hormuz dalam perekonomian dunia. Di tengah tekanan tersebut, Iran menunjukkan bahwa kendali strategisnya bukan sekadar simbol, melainkan kekuatan nyata dalam menentukan arah geopolitik global.