JAKARTA, (ERAKINI) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang pelajar kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri.
Arifah mengatakan, peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan sistem perlindungan anak yang dijalankan secara konsisten hingga ke tingkat keluarga dan komunitas.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) harus berjalan konsisten hingga tingkat keluarga dan komunitas,” kata Arifah dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).
Menurut Arifah, program Kabupaten/Kota Layak Anak tidak boleh berhenti pada tataran regulasi. Ia menegaskan, kebijakan tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi anak-anak di daerah.
“Negara tidak boleh absen dalam memastikan setiap anak memperoleh perlindungan, pendidikan, dan ruang aman untuk tumbuh dan berkembang. Pemerintah pusat dan daerah harus memastikan kebijakan KLA tidak berhenti pada regulasi, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anak,” ujarnya.
Arifah juga mengingatkan bahwa upaya melindungi anak bukan semata-mata tanggung jawab negara. Ia mengajak keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat sistem perlindungan anak.
Lebih lanjut, Arifah menilai peristiwa tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Ia menyoroti adanya kerentanan pada anak laki-laki yang kerap luput dari perhatian dalam isu perlindungan dan kesehatan mental anak.
“Setiap anak adalah amanah. Perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita harus hadir bersama menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, tragedi kematian YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menjadi perhatian publik. YBS ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkih pada Kamis (29/1/2026).
Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa sekitar pukul 11.00 Wita. Peristiwa tersebut menggemparkan warga setempat dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Sebelum kejadian, ibunda korban, MGT (47), sempat menanyakan alasan YBS tidak berangkat ke sekolah. Kepada sang ibu, YBS mengaku hendak pergi ke kebun. Namun, hingga menjelang siang hari, korban tak kunjung kembali.