JAKARTA, (ERAKINI) - Presiden Prabowo Subianto melantik Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH) di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026) sore. Jumhur dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Hanif Faisol Nurofiq yang kini berganti posii menjadi Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan.
Menjabat Menteri LH, Jumhur menyampaikan akan berfokus menangani sejumlah isu, termasuk masalah sampah di Indonesia dan memastikan pengelolaannya mengikuti standar global. "Doakan dan bantu saya berkampanye untuk memastikan lingkungan hidup menjadi habits di hati kita," ujar Jumhur usai pelantikan.
Dirangkum Erakini, Jumhur sejatinya bukan aktivis lingkungan. Ia dikenal sebagai tokoh dan aktivis buruh. Jumhur lahir di Bandung pada 18 Februari 1968. Semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia dikenal sebagai salah satu aktivis pimpinan mahasiswa.
Ia memprakarsai dan memimpin sejumlah demonstrasi mahasiswa menentang rezim militer Indonesia. Komitmennya menentang kediktatoran militer tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain. Pada Juni 1989, ia terlibat dalam demonstrasi mahasiswa sebagai bentuk solidaritas internasional terhadap aksi damai mahasiswa Tiongkok di Taman Tiananmen yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Tiananmen.
Ia bersama aktivis mahasiswa lainnya juga berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Myanmar untuk memprotes perlakuan brutal rezim militer terhadap aktivis mahasiswa yang melarikan diri ke Thailand.
Jumhur kemudian melanjutkan perjuangannya dengan bergabung dalam sejumlah LSM yang fokus pada pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Ia juga mendirikan organisasi buruh dan kini memimpin salah satu organisasi buruh tertua dan terbesar di Indonesia, yakni Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).
Keluar-Masuk Penjara
Ia pernah dipenjara pada periode 1989–1992 karena terlibat dalam aksi mahasiswa. Selain dipenjara, Jumhur juga dikeluarkan dari ITB. Pemecatan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah gerakan mahasiswa melawan rezim penguasa kala itu.
Selama menjalani hukuman, Jumhur sempat dipindahkan ke Nusakambangan, Jawa Tengah. Namun, tidak lama kemudian mereka dikembalikan ke Bandung atas perintah Menteri Kehakiman, karena pemindahan itu dinilai berlebihan bagi tahanan mahasiswa.
Pada 25 Februari 1992, Jumhur dan rekan-rekannya bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin. Setelah itu, ia sempat vakum dari aktivitas tetap sebelum diajak Adi Sasono bergabung dengan CIDES (Center for Information and Development Studies) pada awal 1993.
Di lembaga kajian pembangunan yang didukung tokoh-tokoh ICMI tersebut, Jumhur dipercaya menjadi Direktur Eksekutif, sementara Adi Sasono menjabat Ketua Dewan Direktur. Saat aktif di CIDES, Jumhur kembali melanjutkan studi Teknik Fisika di Universitas Nasional (Unas) Jakarta dan menyelesaikannya pada 1996. Kemudian, pada 2013, ia menyelesaikan gelar Magister Sosiologi di Universitas Indonesia.
Pada 2020, Jumhur kembali menyuarakan penolakannya terhadap Omnibus Law Cipta Kerja yang dinilai merugikan rakyat kecil, termasuk buruh dan masyarakat adat. Atas perannya tersebut, ia divonis penjara selama 10 bulan.
Karier dan Sikap Politik
Jumhur pernah menjabat Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), yang kini bernama BP2MI. Ia diangkat menjadi Kepala BNP2TKI pada 11 Januari 2007, namun diberhentikan pada 11 Maret 2014 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), setelah menjabat selama tujuh tahun dua bulan.
Pemberhentian tersebut menyusul keputusannya menyalurkan aspirasi politik ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang saat itu mengusung ajaran Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Pada Pemilu Presiden 2014, Jumhur bergabung sebagai relawan Joko Widodo dengan menjadi Koordinator Aliansi Rakyat Merdeka (ARM). Namun, karena menilai penerapan Trisakti oleh pemerintahan Joko Widodo jauh dari harapan, ia memilih tidak lagi aktif dalam kegiatan politik praktis dan lebih berkonsentrasi pada dunia bisnis.
Karier politiknya dimulai saat bergabung dengan Partai Daulat Rakyat, yang pada Pemilu 1999 memperoleh satu kursi di DPR RI. Di partai tersebut, Jumhur menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.
Ketika Partai Daulat Rakyat bergabung dengan tujuh partai politik lainnya—yakni Partai Persatuan, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Katolik Demokrat, Partai Bhinneka Tunggal Ika, PNI Front Marhaenis, PNI Massa Marhaenis, dan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia—menjadi Partai Sarikat Indonesia yang dideklarasikan di Surabaya pada 17 Desember 2002, Jumhur kembali dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal.
Setelah kembali gagal dalam Pemilu Legislatif 2004, Jumhur meninggalkan dunia politik praktis dan kembali aktif dalam gerakan sosial, termasuk gerakan buruh melalui Gaspermindo (Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia) yang didirikannya pada 1998.
Meski pernah terlibat dalam politik praktis, Jumhur lebih dikenal sebagai aktivis yang fokus pada gerakan pemberdayaan rakyat. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) hasil Kongres ke-10 pada 16 Februari 2022 untuk periode 2022–2027.
Masa Kecil dan Keluarga
Pria yang dikenal gemar mengenakan batik dan hobi bermain musik ini menikah dengan finalis Puteri Indonesia 2001, Alia Febyani Prabandari, di Jakarta pada 19 Januari 2007. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai empat orang anak, yakni Moqtav, Naeva, Ezga, dan Vaniaz.
Masa kecil Jumhur dihabiskan di lingkungan perumahan perusahaan perbankan nasional di kawasan Saharjo dan Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan. Ayahnya semasa hidup bekerja sebagai pejabat di Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia). Meski tumbuh di lingkungan keluarga berkecukupan, Jumhur lebih senang bergaul dengan anak-anak di luar kompleks tempat tinggalnya. Ia gemar bermain catur di pos ronda warga dan sering bermain bersama teman-teman sebaya di lingkungan sekitar.
Sejak kecil, Jumhur dikenal sebagai sosok pemberani, peduli terhadap sesama, dan hidup sederhana. Nilai-nilai itu disebut terus melekat hingga dewasa. Sahabatnya, Mochammad Fadjroel Rachman, pernah menggambarkan Jumhur sebagai pribadi yang lahir dari keluarga mapan, cerdas, dan berprestasi, namun memilih banyak membantu orang lain.
Menurut Fadjroel, kesederhanaan sangat melekat dalam kehidupan Jumhur, termasuk kebiasaannya memperbaiki sendiri pakaian yang robek. Bahkan, dalam setiap perjalanan, ia disebut selalu membawa perlengkapan jahit seperti benang dan jarum.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jumhur aktif melakukan penelitian, menulis makalah untuk seminar nasional dan internasional, serta menulis opini di berbagai topik. Ia juga menulis sejumlah buku.