JAKARTA, (ERAKINI) — Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat Amerika Serikat (AS) mencabut blokade ekonomi terhadap Teheran dan perang segera diakhiri.
Tawaran tersebut disampaikan dua pejabat regional, Senin (27/4/2026). Dilansir Associated Press (AP), dalam proposalnya Iran meminta agar negosiasi soal program nuklir dibahas belakangan. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut salah satu alasan utama perang adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Dua pejabat yang mengetahui isi proposal itu menyebutkan bahwa pembicaraan berlangsung tertutup antara pejabat Iran dan Pakistan akhir pekan lalu. Media Axios sebelumnya menjadi yang pertama melaporkan tawaran tersebut.
Perkembangan ini terjadi saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke Rusia, sekutu lama Teheran. Belum diketahui bentuk dukungan apa yang akan diberikan Moskow.
Namun, Donald Trump diperkirakan sulit menerima proposal tersebut. Pasalnya, tawaran itu belum menyentuh akar perselisihan yang memicu pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari lalu.
Saat ini, meski gencatan senjata rapuh masih berlangsung, Washington dan Teheran tetap bersitegang terkait Selat Hormuz. Jalur sempit di Teluk Persia itu merupakan rute strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia pada masa normal.
Blokade yang diterapkan AS bertujuan menekan ekspor minyak Iran sehingga negara itu kehilangan sumber pendapatan utama. Kebijakan tersebut bahkan berpotensi memaksa Iran menghentikan produksi minyak akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz justru menekan pemerintahan Trump. Harga minyak dan bensin melonjak tajam menjelang pemilu sela di AS, sekaligus membebani negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk yang bergantung pada jalur itu untuk ekspor energi.
Dampak penutupan selat juga meluas ke ekonomi global. Harga pupuk, pangan, dan berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan signifikan.
Kemampuan Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz menjadi salah satu senjata strategis utama dalam konflik ini. Harga minyak dunia terus menanjak sejak perang dimulai. Sementara kapal tanker bermuatan minyak mentah tertahan di Teluk Persia karena tidak bisa melintas dengan aman.
Pada Senin, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran 108 dolar AS per barel, hampir 50 persen lebih tinggi dibanding saat perang pecah.