Penguatan bimbingan perkawinan melalui advokasi dan edukasi pencegahan pernikahan dini oleh mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (Foto: UIN KHAS Jember)
JEMBER, (ERAKINI) - Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember terus berupaya hadir menjawab problem keagamaan yang dihadapi masyarakat. Salah satu program yang telah berjalan selama dua tahun dan berdampak langsung adalah penguatan bimbingan perkawinan melalui advokasi dan edukasi pencegahan pernikahan dini.
Program tersebut dijalankan oleh Pusat Studi Hukum Keluarga, Gender, dan Anak (Pushaga) Fakultas SyariahUIN KHAS Jember.
Dekan Fakultas SyariahUIN KHAS Jember, Wildani Hefni, mengatakan bahwa sejak dilantik pada akhir 2023, pihaknya bergerak cepat menyusun program yang berkontribusi nyata bagi masyarakat.
“Salah satu inisiatif yang kami lakukan adalah membentuk pusat studi yang fokus pada advokasi dan bimbingan perkawinan. Alhamdulillah, pendampingan di sejumlah sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya usia perkawinan yang matang dapat berjalan secara masif dan rutin,” ujar Wildani Hefni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/12/2025).
Menurut Wildani, program ini merupakan ikhtiar Fakultas SyariahUIN KHAS Jember untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai lokomotif perubahan sosial. Ia menyoroti tingginya angka perceraian yang salah satunya dipicu oleh praktik pernikahan dini.
“Melalui Pushaga, kami memberikan bimbingan hukum dan pemahaman fikih terkait pernikahan, termasuk soal usia, kematangan, dan kesiapan mental. Tujuannya agar pernikahan benar-benar membawa maslahat dan terhindar dari mudarat,” kata dia.
Direktur Pushaga Fakultas SyariahUIN KHAS Jember, Siti Nurholilah, menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin melaksanakan berbagai kegiatan edukatif, seperti sosialisasi pencegahan pernikahan dini dan stunting, konseling keluarga, pelatihan pencegahan perkawinan anak, pendidikan dan pelatihan hukum keluarga, hingga penelitian kebijakan serta penyusunan policy paper dan policy brief.
“Data menunjukkan angka perceraian masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesiapan dalam mengelola rumah tangga dan anak, tekanan sosial, serta kekerasan dalam rumah tangga. Fenomena pernikahan dini dan dispensasi kawin turut berkontribusi terhadap tingginya angka perceraian,” ujar Siti, yang juga dosen Fakultas SyariahUIN KHAS Jember.
Sebagai bagian dari penguatan program, Pushaga melaksanakan penyuluhan langsung kepada masyarakat melalui tiga skema utama, yakni Pushaga Goes to School, Pushaga Goes to Village, dan Pushaga Goes to Organisation.
Melalui Pushaga Goes to School, tim Pushaga hadir di sekolah dan madrasah di kawasan Tapal Kuda, khususnya di Jember, Bondowoso, dan Lumajang. Kegiatan ini antara lain dilaksanakan di SMK Plus Nurul Ulum Kemuningsari Lor Panti Jember, SMK Nahdlatuth Thalabah Yasinat, SMPN 3 Silo, dan Madrasah Aliyah Raudlatul Jannah Mayang Jember.
“Kegiatan ini kami sesuaikan dengan kebutuhan siswa terkait edukasi pencegahan pernikahan dini. Pemahaman tentang dampak negatif pernikahan dini dari sisi kesehatan, psikologis, dan sosial menjadi sangat relevan,” kata Siti.
Sementara itu, melalui Pushaga Goes to Village, Pushaga Fakultas SyariahUIN KHAS Jember terjun langsung ke masyarakat, salah satunya di Dusun Bunder, Desa Pinang, Kecamatan Pakusari, Jember. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan penyuluhan mengenai konsep keluarga bahagia berbasis nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Diskusi bersama warga juga membahas berbagai topik, seperti kesehatan fisik dan mental, komunikasi dalam keluarga, perencanaan keuangan, hingga akses pendidikan berkualitas bagi anak.
Adapun melalui Pushaga Goes to Organisation, Pushaga terlibat dalam kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Pimpinan Anak Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jember.
Sekretaris Pushaga, Fahmi Ridhol Uyun, mengatakan bahwa keterlibatan di organisasi kepemudaan penting untuk menanamkan pemahaman kesetaraan gender sejak dini.
“Kami berharap para aktivis remaja dapat menjadi agen perubahan yang membawa semangat inklusivitas di mana pun berada, serta berani mendobrak stereotip dan ketidakadilan,” ujar Fahmi.