Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah sesaat usai pembukaan Internasional Conference on Culture and Sustainable Development alias Konferensi Internasional tentang Budaya dan Pembangunan Berkelanjutan (ICOCAS) ke-4 di Kota Semarang, Selasa (4/8/2026). Foto: Eka Setiawan
SEMARANG, (ERAKINI) – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro menggelar Internasional Conference on Culture and Sustainable Development alias Konferensi Internasional tentang Budaya dan Pembangunan Berkelanjutan () ke-4.
Menggandeng 5 pembicara dari kampus kenamaan dari Amerika Serikat, Inggris, Portugal, Macau, Belanda dan Malaysia, FIB Undip menjadikan kegiatan ini sebagai ruang untuk pertukaran intelektual, refleksi kritis, dan keterlibatan kolaboratif di antara para akademisi dan praktisi yang peduli masa depan budaya dan pembangunan berkelanjutan.
Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah mengemukakan kegiatan juga dimaksudkan menjadikan FIB Undip menjadi bagian dari komunitas global. Para pakar yang relevan keilmuannya dihubungkan dengan keberlangsungan pembangunan lingkungan baik dari aspek historis, aspek linguistik, aspek sastra, kemudian aspek budaya maupun aspek bahasa dan dokumentasi.
“Dengan mengundang kolega dari luar negeri untuk berbicara di forum seperti ini kan, tujuannya supaya kita mendapatkan insight internasional terkait dengan keilmuan-keilmuan terbaru dari mereka,” kata Prof. Alamsyah saat pembukaan konferensi, di Kota Semarang, Selasa (4/8/2026).
Langkah selanjutnya pasca-kegiatan ini, sebut Prof. Alam, pihaknya mempunyai join publication, join riset hingga visiting profesor. Kolaborasi seperti itu membuat pihaknya menjadi terbiasa dan siap berelasi dengan komunitas global.
Kegiatan ICOCAS ke-4 itu digelar secara hybrid. Sebagai speakers: Dr. Niall Curry (Manchester Metropolitan University, United Kingdom), Prof. Fridus Steiljen (Vrije Universiteit Amsterdam, Netherlands), Prof. Ivo Carneiro De Sousa (Macao Polythecnic University, Macao), Tori Bush, Ph.D (Tulane University, United States), Anita Dewi, Ph.D (Charles Sturt University, Australia), Prof. Ts. Dr. Mohamad Noorman Masrek (Universiti Teknologi MARA, Malaysia).
Pesertanya juga tak hanya dari FIB, namun juga dari luar FIB Undip dan komunitas internasional. “Ini kegiatan rutin kami, yang membedakan tahun ini dan sebelumnya, tahun sebelumnya artikel hanya publish di artikel internasional yang ber-ISSN BRIN, sekarang publishnya terindeks reputasi global, seperti itu, grade lebih tinggi lah. Kami kerjasama dengan IOP Internasional,” jelas Prof. Alamsyah.
Kegiatan itu juga digelar untuk target naik peringkat 500an dunia tahun 2027. Saat ini, Kampus Undip masih di peringkat 600an dunia. Topangan itu ada di program studi, fakultas dan para dosen.
“Jadi kami bergerak bersama, supaya Undip sebagai rumah besar kita itu (bisa ke peringkat) 500 besar dunia tahun depan tercapai. Salah satu indikatornya publikasi di jurnal internasional bereputasi global, ini mengarah ke sana,” tandas Prof. Alamsyah.
Foto: Eka Setiawan
Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah saat membuka Internasional Conference on Culture and Sustainable Development alias Konferensi Internasional tentang Budaya dan Pembangunan Berkelanjutan (ICOCAS) ke-4 di Kota Semarang, Selasa (4/8/2026).
FIB Undip Gelar ICOCAS ke-4: Gandeng 5 Pakar Kampus Dunia, jadi Ruang Pertukaran Intelektual Komunitas Global
SEMARANG, (ERAKINI) – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro menggelar Internasional Conference on Culture and Sustainable Development alias Konferensi Internasional tentang Budaya dan Pembangunan Berkelanjutan (ICOCAS) ke-4.
Menggandeng 5 pembicara dari kampus kenamaan dari Amerika Serikat, Inggris, Portugal, Macau, Belanda dan Malaysia, FIB Undip menjadikan kegiatan ini sebagai ruang untuk pertukaran intelektual, refleksi kritis, dan keterlibatan kolaboratif di antara para akademisi dan praktisi yang peduli masa depan budaya dan pembangunan berkelanjutan.
Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah mengemukakan kegiatan juga dimaksudkan menjadikan FIB Undip menjadi bagian dari komunitas global. Para pakar yang relevan keilmuannya dihubungkan dengan keberlangsungan pembangunan lingkungan baik dari aspek historis, aspek linguistik, aspek sastra, kemudian aspek budaya maupun aspek bahasa dan dokumentasi.
“Dengan mengundang kolega dari luar negeri untuk berbicara di forum seperti ini kan, tujuannya supaya kita mendapatkan insight internasional terkait dengan keilmuan-keilmuan terbaru dari mereka,” kata Prof. Alamsyah saat pembukaan konferensi, di Kota Semarang, Selasa (4/8/2026).
Langkah selanjutnya pasca-kegiatan ini, sebut Prof. Alam, pihaknya mempunyai join publication, join riset hingga visiting profesor. Kolaborasi seperti itu membuat pihaknya menjadi terbiasa dan siap berelasi dengan komunitas global.
Kegiatan ICOCAS ke-4 itu digelar secara hybrid. Sebagai speakers: Dr. Niall Curry (Manchester Metropolitan University, United Kingdom), Prof. Fridus Steiljen (Vrije Universiteit Amsterdam, Netherlands), Prof. Ivo Carneiro De Sousa (Macao Polythecnic University, Macao), Tori Bush, Ph.D (Tulane University, United States), Anita Dewi, Ph.D (Charles Sturt University, Australia), Prof. Ts. Dr. Mohamad Noorman Masrek (Universiti Teknologi MARA, Malaysia).
Pesertanya juga tak hanya dari FIB, namun juga dari luar FIB Undip dan komunitas internasional. “Ini kegiatan rutin kami, yang membedakan tahun ini dan sebelumnya, tahun sebelumnya artikel hanya publish di artikel internasional yang ber-ISSN BRIN, sekarang publishnya terindeks reputasi global, seperti itu, grade lebih tinggi lah. Kami kerjasama dengan IOP Internasional,” jelas Prof. Alamsyah.
Kegiatan itu juga digelar untuk target naik peringkat 500an dunia tahun 2027. Saat ini, Kampus Undip masih di peringkat 600an dunia. Topangan itu ada di program studi, fakultas dan para dosen.
“Jadi kami bergerak bersama, supaya Undip sebagai rumah besar kita itu (bisa ke peringkat) 500 besar dunia tahun depan tercapai. Salah satu indikatornya publikasi di jurnal internasional bereputasi global, ini mengarah ke sana,” tandas Prof. Alamsyah.