Bocah 11 tahun bernama Rayyan Arkan Dikha alias Dika mendadak mendunia setelah video aksi menarinya di atas perahu saat ajang Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, viral di media sosial. Foto: Dok Humas Pemprov Riau
PEKANBARU, (ERAKINI) - Bocah 11 tahun bernama Rayyan Arkan Dikha alias Dika mendadak mendunia setelah video aksi menarinya di atas perahu saat ajang Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, viral di media sosial. Bagi yang ingin melihat langsung aksinya di ujung perahu, siap-siap berangkat ke .
Gubernur Riau Abdul Wahid memastikan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelestarian budaya. Abdul Wahid mengundang masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan kemeriahan lomba Pacu Jalur yang akan digelar di tepian Narosa Kuansing, pada 20-24 Agustus 2025.
"Hari ini hampir semua orang membuka mata bahwa tradisi dan budaya sangat berkembang di Riau, terutamanya pacu jalur. Ayo, datang ke Riau di tanggal 20-24 Agustus, akan diadakan lomba Pacu Jalur di Batang Kuantan, yaitu di tepian Narosa," ujar Abdul Wahid usai mengajak Dika memperodikan tarian Pacu Jalur di halaman Kantor Gubernur, Kota Pekanbaru, Selasa (8/7/2025), dikutip dari keterangan resmi Pemprov Riau.
Menurut dia, viralnya Pacu Jalur kali ini bukan hanya hasil dari satu pihak saja, melainkan juga buah kerja keras para konten kreator. Ia memuji para pegiat yang bahkan rela berpanasan hingga berendam berjam-jam di sungai untuk menghasilkan gambar dan video terbaik.
"Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada para konten kreator Pacu Jalur. Berkat mereka, budaya dan tradisi kita bisa dikenal luas oleh masyarakat, bahkan sampai ke luar negeri," jelasnya.
Sementara itu, bagi Dika hari ini adalah pengalaman luar biasa yang tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Dari seorang bocah yang hanya menari di atas jalur (sampan), kini ia diangkat menjadi simbol budaya dan kebanggaan Riau. Ia resmi dinobatkan oleh Gubernur Wahid sebagai Duta Pariwisata Riau.
“Wah, saya senang. Enggak nyangka sebelumnya bakalan ketemu Pak Gubernur, terus diapresiasi jadi Duta Pariwisata Riau. Terima Kasih, Pak atas dukungannya," kata Dika.
Viralnya aksi Dika ini diyakini turut mendongkrak penonton event Pacu Jalur yang akan digelar di Kuansing pada 20-24 Agustus mendatang. Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, sebelumnya mengungkapkan, viralnya Pacu Jalur membuktikan bahwa kearifan lokal Riau punya daya pikat universal dan sanggup bersaing di kancah internasional.
"Fenomena ini juga menjadi momentum emas untuk semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Riau dan Kuantan Singingi, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat lokal terhadap budayanya sendiri," sebut Roni.
Dia memprediksi jumlah kunjungan wisatawan ke Kuansing dan Riau bakal meningkat tajam pada 20-24 Agustus saat Festival Pacu Jalur digelar.
Perputaran Uang Puluhan Miliar
Sementara Ketua Umum Pacu Jalur 2025 membeberkan, event budaya tahunan ini diperkirakan mencetak perputaran uang lebih dari Rp75 miliar selama lima hari pelaksanaan. Estimasi ini didasarkan pada jumlah penonton tahun sebelumnya yang mencapai 1,5 juta orang, dengan asumsi setiap pengunjung menghabiskan setidaknya Rp50.000 selama acara.
“Hotel penuh selama lima hari. Ini momentum besar bagi pergerakan ekonomi masyarakat,” kata Werry.
Ia yakin fenomena demam aura farming ala Arkan Dikha dapat mendongkrak popularitas Pacu Jalur hingga ke mancanegara. Maka itu, Werry menekankan pentingnya persiapan yang matang agar ke depan event ini bisa semakin berkembang.
Ia menyebut dua hal utama yang perlu dibenahi, yakni infrastruktur arena di Tepian Narosa dan fasilitas penunjang seperti area berdagang, parkir, serta MCK.
Total anggaran untuk Pacu Jalur 2025 diperkirakan mencapai Rp4 miliar. Sekitar Rp1,5 miliar di antaranya berasal dari APBD Kuansing, dan sisanya diupayakan melalui sponsor serta bantuan dana hadiah dari APBD Provinsi Riau.
“Targetnya agar penonton bisa menikmati Pacu Jalur di siang hari dan hiburan di malam harinya. Tapi itu tergantung kecukupan dana sponsor,” kata Werry.
Pacu Jalur sebenarnya sudah masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun Werry menilai dukungan dari pusat masih belum memadai.