M. Tsaqif Fadhil, santri Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, saat akan menerima medali Juara I dalam cabang Majelis Fikih Marhalah Wustha Putra pada Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Nasional 2025. (Foto: Ponpes Tasywiqul Furqon Kudus).
KUDUS, (ERAKINI) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh salah satu santri asal Kota Kretek dalam ajang bergengsi tingkat nasional. M. Tsaqif Fadhil, santri Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, berhasil meraih Juara I dalam cabang Majelis Fikih Marhalah Wustha Putra pada Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Nasional 2025.
Kompetisi yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI tersebut berlangsung di Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dan diikuti oleh para santri unggulan dari seluruh penjuru Tanah Air.
“Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil meraih juara I dalam MQK ini. Saya berterima kasih kepada para pengasuh pondok, kepada guru-guru saya di MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Kemenag Kudus, Kemenag Jawa Tengah, dan terkhusus dukungan luar biasa dari orang tua,” kata M. Tsaqif Fadhil putra dari pasangan Sukamto dan Siti Mubasyaroh tersebut.
Sebelum keberangkatannya, M. Tsaqif Fadhil, telah mendapatkan bimbiingan intensif dari pengasuh pondok tempatnya menimba ilmu, dan sebelum ke Pondok Pesantren As'adiyah juga mendapatkan perhatian khusus dari Kemenag Kabupaten Kudus dan Kemenag Jawa Tengah.
Sementara itu, menurut Pengasuh PonpesTasywiqul Furqon Kajeksan, KH Ahmad Bahruddin, mengaku bangga sekaligus terharu atas prestasi yang berhasil diraih santrinya dalam MQK Nasional yang digelar di Ponpes As'adiyah Sengkang itu.
“MQK ini sangat selektif dan kompetitornya adalah santri-santri dari pondok-pondok besar yang eksistensi pondok dan santrinya luar biasa. Sedangkan pondok kami masih seumur jagung, dan kami hanya orang-orang yang berjuang untuk mensyiarkan ilmu semampu kami,” ungkapnya.
Diharapkan oleh Bahruddin agar keberhasilan M Tsaqif Fadhil, menjadi titik awal untuk membina dan membimbing para santri, yang tidak sekadar pandai mengaji, juga berprestasi dalam berbagai event. “Prestasi ini tentu menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pondok dalam membimbing dan mendidik para santri,” tutur KH Ahmad Bahruddin yang diamini oleh dua pengasuh pondok lain, yakni KH Shofi Luthfi dan Kiai Noor Rohim.
Lebih lanjut, KH Ahmad Bahruddin menuturkan bahwa kesuksesan M Tsaqif Fadhil seakan menjadi penanda Kudus sebagai kota dengan tradisi santri yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu salaf, khususnya bidang fikih dan ushul fikih, terjaga sampai saat ini.
“Kudus, adalah kota dengan Kanjeng Sunan Kudus sebagai muassis (pendiri)-nya. Kanjeng Sunan Kudus dikenal sebagai waliyyul ilmi. Setelahnya, lahir ulama-ulama kenamaan seperti KH R Asnawi, KH M Arwani Amin, dan KH Turaichan Adjhuri. Semoga Kudus akan melahirkan generasi-generasi santri yang memiliki kualitas keilmuan yang mumpuni, manfaat dan juga berkah,” katanya.
Adapun Penutupan MQK yang diikuti para santri dari kafilah dari provinsi-provinsi yang ada di tanah air, telah ditutup secara resmi oleh Menteri Agama (Menag), Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA secara daring pada Senin (7/10/2025) lalu.