PDHI Sebut Standarisasi Kandang Ternak di Gunungkidul Perlu Diperkuat
Akhmad Baihaqi Arsyad
YOGYAKARTA, (ERAKINI) - Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan penerapan biosecurity di kandang ternak sapi maupun kambing milik warga di Kabupaten Gunungkidul perlu diperkuat agar kasus antraks di wilayah itu tidak terjadi berulang.
Ketua PDHI DIY drh. Aniq Syihabuddin di Yogyakarta, Jumat (7/7/2023), mengatakan penerapan biosecurity antara lain dengan membenahi kebersihan maupun standar kandang ternak warga yang sebagian masih berlantai tanah.
"Standar kandang di kalangan masyarakat kita tahu sendiri istilahnya biosecurity-nya tidak mendukung," kata dia, dikutip dari Antara.
Aniq memaparkan, kandang ternak yang berlantai tanah berisiko menjadi sarana penularan antraks sebab spora bakteri Bacillus Anthracis mampu bertahan puluhan tahun di tanah.
Menurutnya, Gunungkidul sebagai wilayah yang pernah memiliki riwayat kasus antraks pada 2019, dapat mengantisipasi hal serupa berulang dengan menerapkan standar kandang berlantai beton atau berbahan semen disertai sanitasi yang baik.
"Kalau kandang tanah yang sifatnya basah susah dibersihkan, itu kan juga tidak higienis. Kalau dengan semen relatif lebih mudah dibersihkan," kata dia.
Aniq mengungkapkan, selain mudah dibersihkan dan tidak lembab, cairan disinfeksi yang disemprotkan pada kandang berlantai semen bisa lebih maksimal dan merata.
"Seharusnya kan disinfeksi bisa merata katakanlah untuk membunuh bakteri di lingkungan yang kemungkinan masih bisa hidup puluhan tahun," ujar dia.
Meski begitu, dia mengakui bahwa penguatan biosecurity kandang ternak bukan solusi tunggal untuk mencegah antraks karena selain membentuk spora, bakterinya dapat terbawa udara.
Menurut Aniq, hal itu perlu dibarengi sederet tindakan lain agar kasus serupa tidak muncul kembali seperti vaksinasi, penyuntikan antibiotik, pengetatan pengawasan lalu lintas ternak, hingga penyelidikan epidemiologi pada hewan secara menyeluruh saat muncul kasus.

















