Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko (ketiga dari kanan) dan wakilnya Hj Lisdyarita (kedua dari kanan) saat menerima jajaran pengurus Gerakan Nasional Ayo Mondok di kantor bupati Ponorogo, Mangkujaya, Ponorogo, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025).
PONOROGO, (ERAKINI) - Bupati PonorogoSugiri Sancoko menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang akan dipusatkan di Ponorogo. Perayaan tersebut rencananya akan dirangkai dengan berbagai kegiatan dan menghadirkan para pengasuh pesantren serta anak-anak kiai dari seluruh Indonesia.
Dukungan tersebut disampaikan Sugiri usai menerima jajaran pengurus Gerakan Nasional (Gernas) Ayo Mondok di kantornya, Jl Aloon-aloon Utara Nomor 9, Mangkujaya, Ponorogo, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025).
“Kita merencanakan hari santri, tanggal 22 Oktober, tapi nanti tanggalnya disesuaikan. Intinya Gerakan Ayo Mondok akan dihelat pada hari santri,” kata Sugiri kepada awak media, didampingi Wakil Bupati Ponorogo Hj Lisdyarita dan jajaran pengurus Gernas Ayo Mondok.
Sugiri menegaskan pihaknya akan ikut mendukung penuh rangkaian kegiatan HSN 2025. Menurutnya, gerakan Ayo Mondok memiliki peran penting tidak hanya dalam mengajarkan ilmu agama, tetapi juga dalam membentuk karakter melalui teladan para kiai.
“Ini sebuah gerakan yang menurut saya bagus sekali. Kurikulum pondok itu tidak hanya mengajar knowledge, tidak hanya mengajar ngaji saja, tapi bagaimana mengajar, mentransfer karakter melalui teladan para kiai,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai gerakan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menyadarkan masyarakat terkait pentingnya memasukkan anak-anak ke pondok pesantren.
Sementara itu, Ketua Umum Gernas Ayo Mondok KH Luqman Al Hakim Harist Dimyathi mengungkapkan alasan dipilihnya Ponorogo sebagai tuan rumah kegiatan HSN 2025. Menurut dia, Ponorogo memiliki sejarah panjang dan keterkaitan erat dengan perkembangan pesantren di Indonesia.
“Ponorogo ini punya peradaban tua terkait pesantren misalnya ada pesantren Tegalsari yang didirikan KH Ageng Hasan Besari. Di buku Miladizawi itu disebutkan jejaring pesantren ketiga di Nusantara ini. Oleh karena itu kami berkeinginan untuk memperingati Hari Santri Nasional tanggal 22 Oktober. Sembari kita mengadakan acara halaqah nasional di pesantren Mayak,” tuturnya.
Adapun Sekjen Gernas Ayo Mondok, KH Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans, menilai Ponorogo memiliki ikon budaya yang telah mendunia, salah satunya kesenian Reog. Menurut dia, hubungan antara pesantren dan budaya di Ponorogo sangat kuat.
“Reog ponorogo yang sudah diakui di UNESCO, pesantren juga bisa. Mimpi kami pesantren diakui oleh UNESCO. Poinnya kita punya roadmap bagaimana pesantren punya budaya eligible. Dasarnya ini untuk meyakinkan kepada publik bahwa hubungan antara pesantren dan budaya sangat kuat di Ponorogo,” ungkapnya.