Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa pembangunan yang mengintegrasikan tiga taman di Jakarta Selatan, yakni Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser dilakukan untuk kepentingan publik.
"Ini (pembangunan Taman Bendera Pusaka) bukan untuk kepentingan pribadi dan kepentingan Balai Kota, ini untuk kepentingan publik," ujar Pramono, Kamis (7/8/2025).
Pramono memastikan pembangunan Taman Bendera Pusaka ini akan menghadirkan berbagai fasilitas publik dan sarana olahraga gratis, seperti lapangan tenis, padel, jogging track, dan lainnya. Ia meyakini pengembangan taman ini akan memberikan manfaat untuk masyarakat luas.
"Kita buatkan lapangan padel. Kalau sekarang ini di mana-mana kan mahal sekali. Saya, tadi bilang sama Pak Wali (Wali Kota Jakarta Selatan), saya bilang sama Kepala Dinas Pertamanan, untuk taman di sini yang mau main padel gratis, tapi alatnya bawa sendiri," kata Pramono.
Padel adalah olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash. Olahraga padel pertama kali muncul pada tahun 1960-an di Meksiko dan terus menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Olahraga ini tergolong mahal. Sewa lapangan padel di Jakarta berkisar antara Rp400.000 hingga Rp800.000 per jam. Belum lagi biaya untuk raket, bola, dan sepatu. Meski demikian, olahraga padel tetap digandrungi banyak orang.
Polemik olahraga ini pun muncul setelah Pemprov DKI Jakarta resmi menetapkan padel sebagai salah satu objek Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) di sektor hiburan.
Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta Nomor 257 Tahun 2025. Dalam keputusan tersebut, tarif PBJT yang dikenakan untuk penggunaan lapangan padel ditetapkan sebesar 10 persen.
Pramono pun menegaskan bahwa pemungutan pajak terhadap olahraga, termasuk padel, akan tetap berjalan meski menuai pro dan kontra. Ia menganggap polemik yang muncul sebagai hal wajar dalam dinamika pemerintahan.
"Ya enggak apa-apa saya, namanya gubernur, diributin ya tetep aja jalan. Kan ini menjalankan undang-undang," ujar Pramono
Pramono mengaku heran atas penolakan pajak olahraga yang tengah naik daun dan identik sebagai olahraga mahal itu. "Ini kan olahraga yang lagi top banget dan mahal banget. Padahal, semua olahraga kan dikenakan pajak. Ketika dikenakan pajak, ribut banget," tegasnya.
Pramono sebelumnya telah melakukan peninjauan ke Taman Langsat di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis pagi.
Menurut Pramono, integrasi tiga taman besar di Jakarta Selatan ini juga sekaligus untuk menyelesaikan masalah banjir dan bau di taman itu. Sebab selama ini yang menjadi keluhan pengunjung adalah banjir dan bau.
“Baru kali ini kita membangun taman dengan pendekatan ekologis yang serius. Kita tidak bisa lagi menunda masalah banjir dan polusi bau yang mengganggu. Perlu biaya besar, iya, tapi ini investasi untuk kualitas hidup warga Jakarta,” tegasPramono.
Selain itu, penataan ini juga menjadi upaya untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka hijau yang sehat, aman, dan fungsional.
Penataan Taman Bendera Pusaka ditargetkan rampung secara bertahap dan diharapkan menjadi model taman kota yang inklusif, fungsional, dan menginspirasi pembangunan ruang publik di wilayah lainnya.
Pramono pun menjelaskan alasan pemberian nama Taman Bendera Pusaka. Nama ini dipilih untuk mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak diraih dengan mudah.
"Saya menginginkan ada taman yang tematik. Yang ada pesan sejarahnya, historisnya bahwa ini taman betul-betul kalau orang datang ke tempat itu mengingatkan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak datang tiba-tiba," jelas Pramono.
Pramono berharap, Taman Bendera Pusaka yang akan dibuka 24 jam bisa menjadi ikon baru di Jakarta Selatan.