Bernardus Retang Wonghara di Kampus SCU, Bendan, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026). Foto: Eka Setiawan
SEMARANG, ERAKINI – Bagi Bernardus Retang Wonghara, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Soegijapranata Catholic University (SCU), dirinya dan masyarakat tradisional Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah satu tarikan nafas. Tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Retang adalah putra daerah setempat, lahir di Waingapu, Sumba Timur, 22 Maret 1971. Kecintaannya terhadap masyarakat adat, tak terkecuali di , membuatnya tergerak untuk melakukan penelitian disertasinya, diuji pada promosi doktoral Ilmu Lingkungan di Kampus .
Salah satu penelitiannya menemukan fakta bahwa kohesi dan jejaring sosial merupakan pilar paling kuat dalam menopang ketangguhan budaya masyarakat tradisional Sumba Timur.
“Jika bertamu di sana, setelah diberi sirih pinang, maka akan dirunut silsilahnya, ini sistem kekerabatan yang kuat,” kata Retang saat ditemui di Kampus SCU, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026).
Dia mengakui, kohesi dan jejaring sosial seperti itu juga ditemui di masyarakat adat alias tradisional lainnya di berbagai wilayah di Indonesia. Namun, ada satu yang unik dan jadi salah satu penanda kuat yang dimiliki masyarakat tradisional Sumba Timur.
Adalah konsep Kalembi atau Ta Pa Kalembingu (kita keluarga). Dalam bahasa Jawa, klambi ataupun secara harfiah berarti pakaian atau baju. Ini menganggap saudaranya seperti baju, artinya menjadi bagian tak terpisahkan.
“Konsep ini yang tidak saya temui di masyarakat tradisional lainnya di Indonesia,” lanjut dia yang juga fasih berbahasa lokal setempat.
Penelitian disertasinya diberi judul Model Ketangguhan Budaya dan Pengetahuan Ekologis Tradisional: Pengembangan dan Penerapan Indikator Kualitatif di Sumba Timur. Indikator Kualitatif Ketangguhan Budaya itu mulai dari; Identitas dan Pewarisan Budaya, Kapasitas Adaptasi dan Inovasi, Kohesi dan Jejaring Sosial, Tata Kelola Sumber Daya Alam Berbasis Pengetahuan Ekologis Tradisional, Institusi dan Kepemimpinan Budaya hingga Interaksi dengan dan Dukungan Kekuatan Eksternal.
Enam indikator itu digunakannya untuk menakar bagaimana 3 komunitas tradisional di Sumba Timur; Kamanggih, Mondu dan Kambata Wundut mempertahankan budaya, khususnya pengetahuan ekologis mereka di tengah tantangan global, perubahan sosial dan krisis ekologi saat ini.
“Penelitian ini didorong kesadaran bahwa berbagai bencana sosial dan lingkungan yang terjadi, seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, krisis pangan dan air hingga ekspansi ekonomi ekstraktif memberi dampak kepada semua orang, khususnya masyarakat adat yang memiliki hubungan historis, kultural dan spiritual yang sangat kuat dengan bumi, air, hutan dan tanah leluhur mereka,” sambungnya.
Dia menyoroti berbagai ekspansi luar yang terjadi di Sumba Timur, termasuk pula beberapa kasus masyarakat tradisional atau masyarakat adat dengan pendatang dalam konteks ekspansi ekonomi. Alih-alih meningkatkan perekonomian, namun ironi terjadi, masyarakat adat dikalahkan demi kepentingan tertentu. Retang tak ingin hal seperti itu menimpa masyarakat adat Sumba Timur.
“Karena kalau hutan dibabat ya budayanya juga ikut hilang,” ungkapnya.
Hasil penelitiannya juga mengungkapkan identitas budaya masyarakat Sumba tetap terjaga melalui agama Marapu, bahasa lokal Kambiara, ritual adat, tradisi lisan, seni tari dan tenun ikat. Budaya Sumba tidak bersifat statis, tetapi terus beradaptasi melalui inovasi kreatif, termasuk penggunaan media digital, revitalisasi budaya; misalnya lewat sekolah adat hingga penyelenggaraan festival budaya.
Pada aspek ekologis, penelitian menegaskan bahwa pengetahuan ekologis tradisional masyarakat Sumba mengandung prinsip keberlanjutan, resiprositas dan penghormatan terhadap alam.
Praktik ritual seperti Warung Hupu Liku dan Puru la Mananga tidak hanya berfungsi spiritual, tetapi juga menjadi mekanisme pengelolaan lingkungan dan konservasi sumber daya alam.